Dokumenter Pesta Babi Pemicu Perdebatan Publik Hadapi Tuntutan Transparansi Informasi
Film dokumenter berjudul "Pesta Babi" memicu perdebatan publik yang luas terkait isu keadilan ekologis, kebebasan berekspresi, serta tuntutan keterbukaan informasi menyusul munculnya reaksi dari pihak TNI Angkatan Darat dan tokoh adat asal Papua Selatan.
Sorotan terhadap aspek transparansi film ini menguat setelah pihak TNI Angkatan Darat menyampaikan permohonan terbuka pada Jumat, 29 Mei 2026, seperti dilansir dari kompas.com. Institusi militer tersebut meminta adanya kejelasan mengenai sumber pendanaan yang digunakan dalam proses produksi film.
Selain tuntutan dari pihak luar, persoalan internal terkait etika produksi juga menerpa dokumenter ini. Tokoh adat sekaligus pejuang lingkungan dari Merauke, Papua Selatan, Yasinta Moiwend atau Mama Sinta, menyatakan kekecewaannya karena film tersebut ditayangkan tanpa persetujuan dari dirinya.
Dampak dari penayangan tanpa izin itu kini berbuntut pada jalur hukum. Mama Sinta diketahui telah melaporkan Ketua LBH Merauke ke Kepolisian Daerah Metropolitan Jakarta Raya (Polda Metro Jaya) atas keterlibatannya dalam polemik karya tersebut.
Perdebatan mengenai film "Pesta Babi" ini dinilai melampaui subtansi tayangannya karena menguji konsistensi penerapan prinsip akuntabilitas. Publik kini ikut mempertanyakan proses produksi, penggunaan narasumber, dasar faktual, hingga aliran dana dari karya yang memiliki pengaruh sosial politik luas ini.