Prof Aris Munandar Soroti Karakteristik Unik Bahasa Inggris Orang Indonesia
Karakteristik unik masyarakat Indonesia saat berkomunikasi menggunakan bahasa Inggris kini menjadi sorotan. Praktik berbahasa tersebut dinilai sangat dipengaruhi oleh latar belakang budaya serta bahasa lokal di tanah air, seperti dikutip dari Detikcom.
Masyarakat Indonesia cenderung membawa nilai kesantunan lokal dalam percakapan sehari-hari menggunakan bahasa Inggris. Hal itu terlihat nyata ketika mereka menyampaikan pendapat, memohon maaf, hingga saat menjaga hubungan interpersonal.
"Karakteristik bahasa Inggris yang digunakan masyarakat Indonesia memiliki kekhasan yang dipengaruhi bahasa Indonesia dan bahasa daerah," ujar Aris dalam pidato pengukuhannya sebagai Guru Besar UGM, dikutip dari laman resmi UGM dan ditulis Sabtu (30/5/2026).
Penjelasan tersebut disampaikan oleh Prof Dr Aris Munandar, MHum, selaku Guru Besar Bidang Pragmatik Inggris Fakultas IImu Budaya (FIB) Universitas Gadjah Mada (UGM). Paparan ini merupakan bagian dari pidato pengukuhannya yang berlangsung di Balai Senat UGM pada Kamis (7/5/2026).
Dalam pidato ilmiah yang berjudul 'Kompetensi Pragmatik Bahasa Inggris dalam Konteks Masyarakat Multilingual Indonesia' tersebut, Aris menekankan status bahasa Inggris saat ini. Menurutnya, bahasa Inggris telah bertransformasi menjadi alat komunikasi internasional yang bersifat plural.
Dunia internasional kini tidak lagi melihat bahasa Inggris sebagai milik dominan penutur asli (native speaker) dari negara tertentu saja. Alat komunikasi global ini sudah digunakan secara luas oleh masyarakat dunia dengan latar belakang kebudayaan yang sangat majemuk.
Pengalaman sosial, budaya, serta kebiasaan komunikasi setempat membentuk praktik berbahasa Inggris di Indonesia. Namun, Aris menilai sistem pembelajaran yang ada sekarang masih terlalu berkiblat pada standar penutur asli sehingga variasi lokal kerap dianggap keliru.
Padahal, interaksi internasional pada era modern justru lebih sering terjadi antarpenutur yang sama-sama berasal dari negara nonbahasa Inggris.
"Bahasa Inggris bukan lagi bahasa yang monolingual, melainkan pluralistis," tegas Aris.
Kritik Atas Standar Ujian Internasional
Aplikasi tes bahasa Inggris berskala internasional juga tidak luput dari kritik karena dinilai masih mengacu pada norma negara penutur asli. Dampaknya, variasi bahasa Inggris yang tumbuh di negara berkembang seperti Indonesia menjadi kurang mendapat perhatian.
Aris berargumen bahwa wujud penggunaan bahasa Inggris di berbagai kawasan global akan selalu dinamis. Perkembangan tersebut bakal terus menyesuaikan diri dengan konteks sosial maupun budaya dari masing-masing wilayah penutur.
"Bahasa Inggris yang dituturkan masyarakat Indonesia masih kurang mendapat perhatian," tuturnya.
Urgensi Pemahaman Konteks Pragmatik
Ketepatan tata bahasa semata dianggap belum cukup untuk mengukur kecakapan bahasa Inggris seseorang. Penutur dituntut memiliki kompetensi pragmatik demi memahami konteks sosial lawan bicara serta menyelaraskan pilihan kata dengan situasi budaya yang dihadapi.
Sistem pengajaran bahasa Inggris diharapkan dapat lebih terbuka terhadap keberagaman praktik komunikasi yang nyata di lapangan.
"Masyarakat Indonesia tidak boleh terjebak pada orientasi monolingualisme," pungkas Aris.