Paradoks Hijau Norwegia Picu Debat Moral di Tengah Konflik Global

Share

Norwegia dikenal luas sebagai salah satu negara paling ramah lingkungan di dunia karena hampir seluruh kebutuhan listriknya dipenuhi dari energi terbarukan. Sepeda menjadi transportasi andalan di area perkotaan, dan sembilan dari sepuluh mobil baru yang dijual di sana bertenaga listrik.

Negara ini juga memelopori penerapan pajak karbon sejak 35 tahun lalu yang membebani perusahaan atas emisi gas rumah kaca. Namun, dilansir dari Detikcom, di balik kebijakan hijau tersebut, Norwegia terus meningkatkan produksi minyak bumi dan gas alam.

Komoditas fosil ini tidak dikonsumsi di dalam negeri, melainkan diekspor dalam skala besar untuk meraup pendapatan triliunan rupiah. Kontradiksi ini memicu perdebatan sengit mengenai 'paradoks Norwegia' yang menghubungkan masa depan negara dengan energi kotor.

Sektor energi menjadi motor utama pembangunan Norwegia yang menempatkannya sebagai salah satu negara paling maju di dunia. Ekspor komoditas ini menyumbang sekitar 60% dari total penjualan barang ke luar negeri dan mencakup lebih dari 20% Produk Domestik Bruto (PDB).

Pemerintah memegang saham mayoritas di Equinor, perusahaan energi internasional yang mengoperasikan ladang minyak di landas kontinen Norwegia. Keuntungan perusahaan ini disalurkan ke dana kekayaan negara atau dana abadi nasional.

Pada akhir 2025, aset dana abadi tersebut diperkirakan menembus US$1,9 triliun atau setara Rp33.895 triliun. Jumlah ini setara dengan US$350.000 atau sekitar Rp6,24 miliar untuk setiap warga negara, yang berfungsi menopang sistem pensiun dan kesejahteraan sosial.

Dampak Ketegangan Geopolitik terhadap Pendapatan

Eskalasi konflik di Timur Tengah akibat serangan Amerika Serikat dan Israel ke Iran diperkirakan memengaruhi cadangan dana abadi tersebut. Di satu sisi, Norwegia meraup pendapatan besar dari lonjakan harga minyak mentah dan kenaikan Bursa Efek Oslo.

Meski demikian, pemerintah Norwegia yang dipimpin Partai Buruh berusaha menepis anggapan bahwa mereka mencari keuntungan dari situasi perang. Menteri Keuangan Norwegia sekaligus Mantan Sekretaris Jenderal NATO, Jens Stoltenberg, menyebut kondisi ini sebagai sebuah paradoks.

"Belum jelas apakah kenaikan harga minyak akan menguntungkan kita," kata Stoltenberg kepada surat kabar El Pais.

"Norwegia saat ini memiliki eksposur yang signifikan di pasar keuangan internasional melalui dana kekayaan negara kami. Penurunan pasar saham lebih menyakiti kami daripada keuntungan yang kami dapat dari kenaikan harga minyak mentah."

Kepala Dana Kekayaan Norwegia, Nicolai Tangen, menyampaikan pandangan serupa kepada Reuters. Menurutnya, keuntungan dari tingginya pendapatan minyak akibat perang Iran masih lebih kecil dibanding dampak penurunan harga saham luar negeri dan penguatan mata uang krona.

Namun, kolumnis NRK, Cecilie Langum Becker, menulis sudut pandang yang berbeda mengenai realitas ekonomi negara tersebut.

"Realitas pahitnya adalah, ketika dunia sedang membara, uang justru mengalir deras ke dalam anggaran negara kami."

Fenomena serupa terjadi pada tahun 2022 saat ekspor energi Rusia ke Eropa terangkas akibat invasi ke Ukraina. Norwegia kemudian muncul sebagai pemasok utama gas terbesar di Eropa dan produsen minyak mentah terbesar di Eropa Barat.

Analis dari perusahaan keuangan Nordea, Thina Saltvedt, memberikan rincian volume pasokan energi tersebut kepada BBC Mundo.

"Hari ini, kami memasok sekitar 30% gas dan 15% minyak yang dikonsumsi di Eropa, di mana kami mengirim 90% dari ekspor kami," jelas Thina Saltvedt.

Tuntutan Moral dan Masa Depan Eksplorasi

Ketidakstabilan di Timur Tengah membuka kembali perdebatan mengenai tanggung jawab moral global Norwegia. Lembaga kemanusiaan Norwegian Refugee Council mendesak agar sebagian keuntungan dana abadi dialokasikan untuk membantu warga sipil di Iran yang terdampak perang.

Stoltenberg menanggapi tuntutan itu dengan menegaskan kepada Reuters bahwa Norwegia secara konsisten menjadi donor bantuan internasional terbesar bagi negara-negara yang membutuhkan. Di sisi lain, situasi geopolitik ini dinilai memperlambat komitmen transisi energi hijau Oslo.

Presiden asosiasi lingkungan Friends of the Earth Norway, Truls Gulowsen, menyampaikan kritik tajamnya kepada BBC Mundo.

"Bagi seorang aktivis lingkungan Norwegia seperti saya, jelas bahwa situasi ini sangat memalukan."

Gulowsen menilai narasi publik kini bergeser ke arah penerimaan komoditas hidrokarbon akibat ketidakstabilan global. Bahkan, saat ini muncul rencana untuk membuka wilayah eksplorasi baru di perairan dalam Arktik yang memiliki lingkungan sangat rentan.

Aktivis lingkungan terus mendesak adanya linimasa konkret untuk memangkas ketergantungan pada industri minyak. Sebaliknya, pelaku industri membela diri dengan menyoroti pentingnya sektor ini terhadap ratusan ribu lapangan kerja.

Pemerintahan Perdana Menteri Jonas Gahr Stre baru-baru ini menyetujui 57 izin eksplorasi baru di Laut Barents untuk mengompensasi penurunan produksi di ladang minyak tua.

"Kami akan terus mencari lebih banyak minyak untuk memasok Eropa," janji Stre yang memilih mengembangkan industri alih-alih menetapkan tenggat waktu penghentian.

Langkah politik ini mendapat dukungan dari serikat pekerja Industri Energi melalui pernyataan Frode Alfheim kepada BBC Mundo.

"Kami sedang berbicara tentang lebih dari 200.000 lapangan kerja langsung. Ini bukan saatnya meninggalkan Eropa tanpa pasokan energi," kata Frode Alfheim.

Sebagai penutup dari analisis pasar, Saltvedt memberikan catatan peringatan mengenai masa depan industri fosil Norwegia.

"Semakin banyak orang menyadari bahwa masa senja bagi industri ini sudah di depan mata. Namun, prosesnya akan berjalan menyakitkan."

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
tiara-puspita-sari
Author