Prabowo Instruksikan Pembelajaran Bahasa Prancis dan Portugis di Sekolah
Presiden Prabowo Subianto menginstruksikan seluruh tingkatan sekolah di Indonesia untuk memasukkan Bahasa Prancis ke dalam kurikulum pembelajaran dalam sela pertemuan bilateral dengan Presiden Prancis Emmanuel Macron.
Kebijakan baru ini melengkapi arahan sebelumnya yang menargetkan penguasaan bahasa asing selain Inggris untuk siswa di dalam negeri, sebagaimana dilansir dari Bloomberg Technoz pada Sabtu (30/5/2026).
Hubungan bilateral antara Indonesia dan Prancis yang selama ini berjalan baik di bidang pertahanan, ilmu pengetahuan, dan teknologi menjadi dasar bagi kepala negara untuk memperluas kerja sama ke sektor pendidikan.
"Sekarang saya sudah instruksikan bahwa semua tingkatan sekolah-sekolah Indonesia harus belajar bahasa Perancis, melihat perkembangan dunia ke depan," ujar Prabowo, dikutip Jumat (29/5/2026).
Langkah serupa juga pernah diambil oleh kepala negara pada Oktober tahun lalu berkaitan dengan perluasan kurikulum bahasa asing bagi para siswa. Pada Kamis (23/10/2025), Prabowo meminta Menteri Pendidikan, Sains, dan Teknologi Brian Yuliarto serta Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti untuk mengutamakan pengajaran Bahasa Portugis.
Instruksi tersebut disampaikan di tengah kunjungan kenegaraan Presiden Brasil Luiz Inácio Lula da Silva di Istana Merdeka, Jakarta Pusat.
"Akan memberi petunjuk kepada Menteri Pendidikan Tinggi [Brian] dan Menteri Pendidikan Dasar [Abdul] untuk mulai mengajar bahasa Portugis di sekolah-sekolah kita. Ini bukti bahwa kita memandang hubungan Brasil dan Indonesia sangat besar," ujar Prabowo.
Rencana penambahan muatan bahasa asing ini memicu reaksi negatif dari sejumlah pengamat pendidikan. Pemerintah dinilai tidak memprioritaskan penyelesaian masalah fundamental yang saat ini masih dihadapi oleh sistem pendidikan nasional.
Koordinator Nasional Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia, Ubaid Matraji, menegaskan bahwa pemerintah pusat mestinya memberikan perhatian lebih pada perbaikan kualitas literasi, numerasi, serta pembenahan sarana fisik sekolah yang mengalami kerusakan.
"Di saat rapor literasi dan numerasi siswa kita masih merah, serta ribuan sekolah rusak belum diperbaiki, instruksi untuk mewajibkan atau memprioritaskan Bahasa Prancis terkesan seperti kebijakan yang kehilangan arah dan tidak menginjak bumi," kata Ubaid kepada Bloomberg Technoz, Jumat (29/5/2026).
Kritik senada datang dari Perhimpunan Pendidikan dan Guru (P2G) terkait relevansi pemilihan bahasa asing tersebut. Organisasi guru ini menilai kebijakan memasukkan Bahasa Portugis justru menambah kepadatan materi pengajaran yang harus ditanggung siswa.
Koordinator Nasional P2G, Satriawan Salim, menyatakan bahwa pengajaran Bahasa Mandarin jauh lebih dibutuhkan untuk masa depan siswa karena posisinya yang strategis dalam sektor ekonomi global.
"China adalah pusat pertumbuhan ekonomi dan teknologi dunia. Jadi, secara fungsional, Mandarin lebih bermanfaat bagi peningkatan kualitas SDM kita," jelas Satriawan dalam keterangan, Jumat (24/10/2025).