BMKG Catat Aktivitas Gempa Meningkat di Jawa Barat
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengumumkan terjadinya peningkatan aktivitas kegempaan di wilayah Indonesia, dengan catatan 17 kali gempa signifikan yang dirasakan masyarakat dalam berbagai magnitudo serta kedalaman selama sepekan terakhir.
Rangkaian peristiwa ini mencakup dua gempa bumi berkekuatan magnitudo 4,6 yang mengguncang wilayah Jawa Barat dalam waktu berdekatan, yakni di Sukabumi pada Minggu, 17 Mei 2026, dan di Pangandaran pada Kamis, 21 Mei 2026.
Guncangan terbaru yang berpusat di laut sekitar 76 kilometer selatan Pangandaran pada kedalaman tertentu terjadi pukul 04.04:56 WIB dengan titik koordinat 8.34 Lintang Selatan dan 108.25 Bujur Timur.
"Gempa dirasakan Magnitudo: 4,6 pada Kamis, 21 Mei 2026 04:04:56 WIB", tulis BMKG pada keterangan rilisnya.
Dampak getaran dari laut selatan ini meluas hingga dirasakan oleh masyarakat di wilayah Tasikmalaya, Garut, dan Ciamis masing-masing pada skala MMI III, III, dan II-III, yang menyebabkan benda gantung bergoyang namun tidak memicu kerusakan.
Sebelumnya, kepanikan akibat aktivitas tektonik bermagnitudo sama juga melanda warga Kota dan Kabupaten Sukabumi pada Minggu, 17 Mei 2026 pukul 22.15 WIB, akibat episenter gempa di kedalaman 25 kilometer pada koordinat 7,53 Lintang Selatan dan 106,69 Bujur Timur, atau 62 kilometer tenggara Kabupaten Sukabumi.
Terkait peristiwa di Sukabumi tersebut, BMKG langsung mengeluarkan pemberitahuan awal mengenai sifat data yang masih dinamis demi mengutamakan kecepatan penyampaian informasi kepada publik.
"Informasi ini mengutamakan kecepatan, sehingga hasil pengolahan data belum stabil dan bisa berubah seiring kelengkapan data," tulis BMKG dalam informasi resminya, Minggu (17/5/2026) malam.
Masyarakat di beberapa kecamatan di Sukabumi dilaporkan sempat berhamburan keluar tempat tinggal mereka akibat kekuatan guncangan yang dirasakan secara mendadak saat malam hari.
"Saya lagi tiduran sambil bermain ponsel, terasa besar guncangannya, spontan langsung bangun dan teriak gempa," ujarnya kepada Kompas.com, Minggu malam.
Warga yang berada di Kecamatan Parungkuda tersebut langsung mengamankan keluarganya ke luar rumah guna mengantisipasi dampak yang lebih fatal.
"Saya juga sambil buka pintu kamar, ngasih tahu istri dan anak-anak. Bahkan sudah buka gembok pintu gerbang, alhamdulillah gempa tidak berlanjut dan mudah-mudahan tidak ada gempa susulan," imbuhnya.
Kondisi serupa juga dikonfirmasi oleh warga lain di Kecamatan Citamiang, Kota Sukabumi, yang merasakan getaran kuat menyerupai lintasan kendaraan berat hingga menyebabkan kaca-kaca bangunan bergetar.
"Terasa sekitar dua detik lah, goncangannya cukup kuat kaca di rumah juga bergetar, seperti ada kendaraan berat yang melintas," kata dia.
Hingga saat ini, laporan resmi mengenai korban jiwa maupun kerusakan infrastruktur dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota dan Kabupaten Sukabumi masih dalam proses pemantauan oleh Kompas.com.