Dokter Jiwa Ungkap Penyebab Lagu Viral Mudah Terngiang di Kepala
Fenomena lagu viral yang terus terngiang-ngiang di pikiran manusia terjadi karena kecenderungan otak yang lebih mudah mengingat sesuatu yang unik, lucu, sederhana, serta berulang. Hal tersebut disampaikan oleh dokter spesialis kedokteran jiwa, dr Lahargo Kembaren, SpKJ, pada Jumat (29/5/2026) seperti dilansir dari Detik Health.
Kondisi ini dikenal secara psikologis sebagai efek mere exposure, yakni situasi saat otak manusia menjadi lebih akrab dan mudah menyukai sesuatu akibat paparan yang terjadi secara terus-menerus. Karakteristik lagu viral yang memiliki pola sederhana, lirik repetitif, serta intensitas kemunculan yang tinggi di media sosial melalui algoritma memicu terjadinya fenomena ini.
Pihak medis menekankan bahwa memori otak tidak selalu memprioritaskan informasi yang dinilai paling penting atau cerdas. Sebaliknya, otak bekerja dengan menyimpan stimulasi yang paling sering melintas dan mudah dikenali.
"Secara psikologis ini disebut efek mere exposure, yaitu semakin sering kita terpapar sesuatu, semakin akrab dan mudah disukai oleh otak," jelas dr Lahargo kepada detikcom, Jumat (29/5/2026).
Fenomena yang disebut earworm ini umumnya tidak berbahaya dalam jangka pendek dan bahkan dapat meningkatkan suasana hati sebagian orang. Dampak positifnya meliputi pemunculan rasa senang, hiburan ringan, hingga timbulnya rasa kebersamaan karena mengikuti tren yang sama.
"Otak manusia kadang tidak menyimpan yang paling penting, tetapi yang paling sering lewat," ujarnya.
Namun, efek sebaliknya dapat terjadi pada individu yang sedang mengalami stres atau kesulitan fokus. Gangguan berupa penurunan produktivitas, sulit tidur, hingga rasa jengkel dapat muncul jika lagu tersebut terus berputar secara berlebihan di dalam kepala.
"Jika berlebihan, earworm dapat mengganggu fokus, menurunkan produktivitas, membuat sulit tidur, bahkan memunculkan rasa kesal," kata dr Lahargo.
Hingga saat ini belum ditemukan bukti kuat yang menunjukkan bahwa fenomena earworm dari lagu viral dapat memicu gangguan mental jangka panjang pada individu yang sehat. Kendati demikian, dr Lahargo mengingatkan bahwa kebiasaan mengonsumsi media sosial secara berlebihan justru lebih perlu diwaspadai karena dapat menurunkan rentang perhatian akibat otak yang terbiasa mencari stimulasi cepat.