Kementerian ESDM Bangun BESS 33 GW Sokong PLTS
Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) bersiap membangun sistem penyimpanan energi baterai atau battery energy storage systems (BESS) berkapasitas 33 gigawatt (GW). Langkah ini diambil guna mendukung proyek pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) berkapasitas 100 GW, seperti dilansir dari Bloomberg Technoz pada Sabtu (30/5/2026).
Wakil Menteri ESDM Yuliot Tanjung menjelaskan infrastruktur penyimpanan tersebut akan didirikan secara beriringan dengan target pembangunan PLTS tahap pertama yang mencapai 17 GW. Pemerintah saat ini tengah mempercepat regulasi pendukung untuk merealisasikan proyek strategis nasional tersebut.
"Kebutuhan yang ini kan kita percepatan yang pertama 17 GW terlebih dulu. Dan juga ada battery energy storage atau BESS yang kita bangun sekitar 33 GW," ungkap Yuliot Tanjung, Wakil Menteri ESDM.
Pihak kementerian juga tengah mematangkan regulasi untuk mempermudah eksekusi di lapangan. Koordinasi intensif terus dilakukan dengan berbagai pihak agar penyusunan aturan ini berjalan lancar secara paralel bersama proses perizinan awal.
"Jadi itu yang kita lakukan untuk perancangan peraturan presidennya, ini kita lakukan juga di samping izin prakarsa. Paralel kita juga lagi melakukan pembahasan antarkementerian/lembaga," tambah Yuliot Tanjung, Wakil Menteri ESDM.
PT PLN (Persero) turut menyatakan komitmennya dalam mempercepat target bauran energi ini. Perusahaan pelat merah tersebut menargetkan fase awal pengerjaan dapat diselesaikan paling lambat pada tahun 2028 dengan kesiapan menyerap seluruh produksi listrik.
"Tahun 2028, tapi kalau bisa secepatnya," ujar Rizal Calvary, Direktur Manajemen Pembangkitan PLN.
Rizal menambahkan bahwa kepastian penyerapan arus listrik dari produsen PLTS sudah mencapai kesepakatan harga yang disetujui bersama. Tingkat harga ini dinilai kompetitif bagi kedua belah pihak.
"Harganya kemarin 6 dolar per kWh, dan mereka [produsen PLTS] udah oke," kata Rizal Calvary, Direktur Manajemen Pembangkitan PLN.
Teknologi PLTS dinilai memiliki keunggulan kompetitif dibandingkan jenis pembangkit berbasis energi baru terbarukan (EBT) lainnya karena tingkat kerumitannya yang rendah. Faktor ini menjadi alasan kuat pemerintah optimis target tahap pertama akan tercapai tepat waktu.
"Rasanya sih saya yakin, kami juga membuka peluang sebesar-besarnya pada pengusaha muda Indonesia untuk berinvestasi [dalam PLTS]," kata Jisman P Hutajulu, Staf Ahli Menteri ESDM Bidang Perencanaan Strategis.
Berdasarkan cetak biru Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2025–2034, PLN mengalokasikan total pembangunan sistem penyimpanan energi sebesar 10,3 GW. Komposisi ini mencakup pembangkit listrik tenaga air (PLTA) pumped storage sebesar 6 GW dan BESS sebesar 4,3 GW untuk menopang integrasi EBT sebesar 52,9 GW.
Dalam dokumen perencanaan tersebut, PLTS diproyeksikan memegang porsi terbesar dengan 17,1 GW, disusul PLTA 11,7 GW, energi angin 7,2 GW, panas bumi 5,2 GW, bioenergi 0,9 GW, dan energi nuklir 0,5 GW. Fokus wilayah pengembangan utama mencakup area Jawa, Madura, dan Bali (Jamali) sebesar 19,6 GW yang didominasi PLTS 10.932 MW.
Sementara itu, wilayah Papua, Maluku, dan Nusa Tenggara dialokasikan mendapat kapasitas EBT sebesar 2,3 GW. Wilayah Indonesia timur ini direncanakan mengelola PLTS sebesar 1.470 MW, PLTP 332 MW, PLTA/M 179 MW, bioenergi 141 MW, PLTB 140 MW, serta PLTAL 40 MW guna menggenjot rasio elektrifikasi di daerah terdepan, terluar, dan tertinggal (3T).