Polisi Selidiki Ventilasi Tenda Kamping Sekeluarga Tewas di Temanggung

Share

Kepolisian Daerah Jawa Tengah menyelidiki kondisi tenda tanpa lubang ventilasi yang digunakan satu keluarga asal Ambarawa saat ditemukan tewas ketika kamping di kawasan Kledung, Kabupaten Temanggung, dilansir dari Detik Travel.

Empat anggota keluarga tersebut diduga kuat mengalami keracunan gas yang berasal dari kompor portabel saat memasak hidangan barbeque di dalam area tenda yang tertutup rapat.

Dirreskrimum Polda Jateng Kombes Anwar Nasir menjelaskan bahwa penyidik tengah mendalami kemungkinan gas dari kompor tersebut terperangkap di dalam tenda.

"Pada saat itu tidak ada ventilasi. Ini masih dilakukan penyelidikan," kata Kombes Anwar Nasir, Dirreskrimum Polda Jateng di Mapolda Jateng, Semarang, Jumat (29/5).

Pihak kepolisian saat ini masih mengarahkan dugaan penyebab kematian pada dua kemungkinan utama, yaitu faktor gas kompor atau makanan yang dikonsumsi oleh para korban.

"Dugaan sementara masih ada dua, yaitu akibat gas yang ditimbulkan oleh kompor gas saat barbeque malam hari atau dari makanan," ujar Kombes Anwar Nasir, Dirreskrimum Polda Jateng.

Polisi menegaskan bahwa kondisi tempat kejadian perkara yang tertutup rapat menjadi fokus krusial dalam proses penyelidikan yang sedang berjalan.

"Iya (tempatnya tertutup), ini yang karena tidak ada ventilasi ini memungkinkan ya ini masih masih dilakukan penyelidikan," lanjut Kombes Anwar Nasir, Dirreskrimum Polda Jateng.

Atas kejadian tragis ini, aparat mengimbau masyarakat untuk selalu memperhatikan sirkulasi udara dan menghindari penggunaan gas di dalam ruangan tertutup demi mencegah risiko fatal.

"Kalau ada gas di dalam satu ruangan atau mobil, hendaknya jangan ditutup rapat biar ada celah udara keluar," ujar Kombes Anwar Nasir, Dirreskrimum Polda Jateng.

Tim penyidik kini menanti hasil uji laboratorium forensik terhadap sampel organ tubuh, sisa makanan, serta tabung gas yang diamankan dari lokasi kamping.

"Yang diperiksa gasnya dan makanannya. Termasuk tabung gas juga dilakukan pemeriksaan," kata Kombes Anwar Nasir, Dirreskrimum Polda Jateng.

Pemeriksaan juga sempat diperluas hingga ke rumah asal korban di Kabupaten Semarang guna melacak sumber makanan, meski hasilnya tidak menunjukkan hal mencurigakan.

"Kita khawatir makanannya dari sana, tapi hasil pemeriksaan nihil," jelas Kombes Anwar Nasir, Dirreskrimum Polda Jateng.

Guna mempercepat titik terang kasus, tindakan autopsi telah diprioritaskan kepada salah satu jenazah anak korban yang secara fisik dinilai paling kuat.

"Kemarin sudah dilakukan autopsi terhadap empat korban. Dipilih satu korban yang fisiknya paling muda, paling kuat, yaitu anak umur 17 tahun," kata Kombes Anwar Nasir, Dirreskrimum Polda Jateng.

Sementara itu, pihak Kepolisian Resor Temanggung memperkirakan para korban telah meninggal dunia sekitar 8 hingga 12 jam sebelum jasad mereka ditemukan pada Rabu (27/5) sore.

"Kalau untuk perkiraan dari dokter, korban ditemukan pada pukul 15.45 WIB itu sudah dalam keadaan kaku. Otomatis (meninggalnya) delapan sampai 12 jam sebelum ditemukan," kata Iptu I Komang Mahendra Deputra, Kasat Reskrim Polres Temanggung di Lobi Polres Temanggung, Jumat (29/5/2026).

Berdasarkan rentang waktu tersebut, kematian satu keluarga ini diperkirakan terjadi di antara waktu malam hari hingga keesokan paginya.

"Berarti kemungkinan antara malam sampai pagi sudah meninggal dunia. Jadi kemungkinan dari malam sampai pagi itu sudah meninggal dunia, hingga ditemukan sore harinya sudah kaku," sambung Iptu I Komang Mahendra Deputra, Kasat Reskrim Polres Temanggung.

Tim kedokteran forensik dipastikan tidak menemukan adanya bekas luka atau tanda-tanda kekerasan fisik akibat benda tajam maupun tumpul pada tubuh seluruh korban.

"Tidak ada kekerasan fisik. Pemeriksaan luar sudah dilaksanakan oleh kedokteran forensik dan tidak menemukan adanya tanda-tanda kekerasan fisik, baik itu benda tajam, maupun benda tumpul tidak ada," ujar Iptu I Komang Mahendra Deputra, Kasat Reskrim Polres Temanggung.

Identitas empat korban tewas tersebut telah dikonfirmasi sebagai pasangan suami istri Muhammad Ali Munawar (52) dan Maghfirah (43), bersama dua anak mereka, Alvino Evan Hakim (16) dan Bagas Amar Hakiki (21).

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
tiara-puspita-sari
Author