Dokter Spesialis Ungkap Penyebab Kebelet BAB Saat Berlari
Sensasi mendadak ingin buang air besar (BAB) kerap menyerang para pelari ketika hendak atau sedang mengikuti perlombaan lari.
Kondisi medis ini nyata terjadi dan bukan sekadar sugesti psikologis bagi para pencinta olahraga ketahanan fisik.
Fenomena gangguan pencernaan saat berlari jarak jauh seperti half marathon maupun full marathon ini dikenal dengan istilah runner's trot.
Dilansir dari Detik Health, dokter spesialis olahraga dr Antonius Andi Kurniawan, SpKO menjelaskan bahwa kondisi ini memiliki istilah medis exercise-induced gastrointestinal distress.
"Fenomena yang dialami 30-50 persen pelari jarak jauh, tapi masih kurang dibicarakan terbuka karena dianggap memalukan," kata dr Andi saat dihubungi detikcom, Kamis (28/5/2026).
Dokter Andi menguraikan tiga faktor utama yang memicu munculnya rasa mulas hebat saat berkompetisi.
Faktor pertama adalah splanchnic ischemia, yaitu penurunan aliran darah ke usus hingga mencapai 80 persen akibat tubuh memprioritaskan darah ke otot dan kulit.
Kondisi kekurangan oksigen tersebut membuat usus menjadi lebih sensitif, mengacaukan motilitas, serta meningkatkan permeabilitas organ pencernaan.
Faktor kedua berupa mechanical jostling, yang merujuk pada guncangan mekanis berulang terhadap organ pencernaan akibat puluhan ribu hentakan kaki selama marathon.
"Mechanical jostling, gerakan berulang yang mengguncang organ pencernaan. Dalam satu marathon kita melakukan 40,000+ foot strikes. Itu agitasi mekanis yang sangat signifikan untuk usus," lanjutnya.
Faktor ketiga dipicu oleh perubahan hormonal berupa lonjakan hormon katekolamin atau adrenalin serta motilin yang merangsang kontraksi usus secara langsung.
Menghadapi situasi ini, pelari umumnya dihadapkan pada pilihan untuk tetap memaksakan diri hingga finis atau memutuskan berhenti (did not finish/DNF).
"Keduanya keputusan pribadi yang valid," tegasnya.
Kendati demikian, terdapat sejumlah tanda bahaya atau red flags yang mewajibkan pelari untuk segera menghentikan aktivitas lari mereka demi keselamatan.
Gejala kritis tersebut meliputi adanya darah segar atau kehitaman pada tinja yang menjadi indikasi komplikasi serius bernama ischemic colitis.
Tanda bahaya lainnya adalah nyeri perut hebat, pusing berat, mata berkunang-kunang, gejala dehidrasi berat, hingga demam atau muntah berulang.
"Tanpa red flags ini, dan jika pelari memang siap menanggung 'konsekuensi', secara medis biasanya tidak sampai membahayakan jiwa. Tapi yang perlu disadari, mengejar podium dengan mengabaikan sinyal tubuh adalah pertaruhan," tutupnya.