Kebijakan Prefek Alpes-Maritimes Larang Suporter Nice Dekati Stadion Memicu Kontroversi

Share

Kebijakan Prefek Alpes-Maritimes yang melarang pendukung OGC Nice memasuki wilayah tertentu di kota mereka sendiri menjelang laga krusial melawan AS Saint-Etienne pada Jumat, 29 Mei 2026, memicu kontroversi besar.

Langkah hukum tersebut diambil menyusul sanksi pertandingan tanpa penonton akibat kerusuhan suporter dalam laga terdahulu melawan Metz. Keputusan ini membatasi ruang gerak fans di sekitar Allianz Riviera, pusat latihan club, hingga fasilitas publik seperti akses jalan tol A8 dan area belanja.

Kebijakan pengetatan ini memicu gelombang protes dari para pengamat di acara Grandes Gueules stasiun RMC Story. Edukator Abel Boyi menilai aturan tersebut sangat mencederai kebebasan bergerak masyarakat setempat.

"C'est liberticide, tu ne peux pas te balader avec ton enfant de 3 ans et cette décision stupide va retomber sur la police" ujar Abel Boyi, Edukator.

Abel Boyi juga mempertanyakan logika pembatasan total tersebut jika tim akhirnya berhasil bertahan di kompetisi kasta tertinggi. Menurutnya, tindakan mengisolasi seluruh kota merupakan sebuah kekeliruan besar.

"Et si Nice se maintient en Ligue 1, on va interdire à toute une ville de faire la fête? On ne peut pas mettre toute une ville sous perfusion" kata Abel Boyi, Edukator.

Kritik senada disampaikan oleh Alain Marschall yang merupakan pendukung fanatik Les Aiglons. Marschall merasa tindakan yang diambil oleh otoritas wilayah Alpes-Maritimes sudah melewati batas kewajaran.

"Et tout ça à cause de 200 personnes" sesal Alain Marschall, Suporter OGC Nice.

Penyiar RMC Story ini memahami jika larangan hanya diterapkan di area langsung sekitar stadion sebelum dan sesudah pertandingan. Namun, ia menganggap perluasan wilayah hukum larangan ini sebagai sesuatu yang tidak mungkin diterima.

"A la limite, devant le stade, je peux comprendre… après le match je peux comprendre, mais ce n'est pas possible, le préfet va trop loin" tumpis Alain Marschall, Suporter OGC Nice.

Marschall kemudian membandingkan situasi ini secara provokatif dengan potensi penanganan massa di ibu kota Prancis untuk kompetisi Eropa. Ia menilai regulasi yang diterapkan di Nice mencerminkan puncak dari sebuah absurditas.

"Je vais être provocateur: pourquoi on ne le fait pas pour le Paris avec la Ligue des champions? Poussons l'absurdité jusqu'au bout" cetus Alain Marschall, Suporter OGC Nice.

Rekan presenternya di RMC, Olivier Truchot, ikut memberikan gambaran mengenai dampak nyata aturan tersebut bagi aktivitas harian warga. Aturan yang berlaku sejak tengah hari itu dinilai sangat berlebihan karena laga baru dimulai malam hari.

"Il y a des magasins autour du stade et du centre d'entraînement et à partir de 12h alors que le match est à 21h, tu ne peux pas y aller avec ton maillot ou évoquer le club avec un ami" jelas Olivier Truchot, Presenter RMC.

Kritik penutup datang dari seorang pegawai negeri, Zohra Bitan, yang menyoroti hilangnya arah kebijakan negara dalam menangani masalah hukum. Ia melihat respon dari otoritas berwenang sama sekali tidak memiliki konsistensi.

"Quand on voit comment sont traitées les questions de délinquance, on voit que l'Etat n'a plus de boussole il n'y a pas de coherence, les réponses sont absurdes, disproportionnées" tutur Zohra Bitan, Pegawai Negeri.

Larangan pergerakan bagi suporter tim tamu memang sering terjadi setiap pekan di sepak bola Prancis. Namun, sanksi bagi suporter di kota sendiri tergolong langka, dengan preseden serupa pernah terjadi pada AS Saint-Ouen l’Aumône tahun 2015 dan FC Nantes tahun 2022.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
rizka-amelia-kusuma
Author