Yasinta Moiwend Konsultasi Hukum ke Polda Metro Jaya Terkait Film Pesta Babi
Tokoh perempuan adat dan pejuang lingkungan asal Merauke, Yasinta Moiwend atau Mama Sinta, mendatangi Polda Metro Jaya di Jakarta Selatan pada Jumat (29/5/2026) untuk melakukan konsultasi hukum. Langkah ini diambil karena dirinya merasa keberatan atas penayangan film berjudul 'Pesta Babi' garapan sutradara Dandhy Laksono, seperti dilansir dari Detikcom.
Mama Sinta menegaskan bahwa penayangan film dokumenter tersebut dilakukan tanpa adanya persetujuan atau pembicaraan terlebih dahulu dengan dirinya. Penolakan ini mencuat setelah film tersebut mulai diputar di wilayah Jayapura, Papua.
"Oh ya, yang saya alami di saat ini mulai dari tanggal 8 bulan 4, film yang diputar di Jayapura, di Susteran Maranatha, tanpa izin dari saya," jelas Mama Sinta di gedung Ditreskrimum Polda Metro Jaya, Jakarta Selatan, Jumat (29/5/2026).
Ia mengungkapkan perasaan kecewa dan sakit hati yang mendalam karena wajahnya muncul dalam film tersebut. Penayangan yang dilakukan secara luas di berbagai tempat membuat dirinya merasa dirugikan.
"Mereka putar film Pesta Babi itu di mana-mana, saya sakit hati, saya kecewa sekali. Tanpa izin dari saya, tanpa pembicaraan. Itu penjahat itu mereka," terang Mama Sinta.
Perjalanan jauh ke Jakarta sengaja ditempuh oleh tokoh adat Merauke ini demi menyuarakan protesnya secara langsung. Kehadirannya di ibu kota bertujuan untuk mencari keadilan terkait dokumentasi dirinya.
"Saya punya wajah ini di mana-mana mereka putar film itu, saya sakit hati. Tanpa izin dari saya. Maka itu saya datang ke Jakarta. Jadi, itu saja yang saya sampaikan," lanjutnya.
Keterlibatan Mama Sinta dalam pemutaran tersebut bermula ketika dirinya diajak oleh seorang pria bernama Tigor untuk menghadiri sebuah kegiatan di Jayapura. Dirinya mengira hanya akan menghadiri acara adat pemotongan babi yang sebenarnya, bukan menyaksikan pemutaran film.
"Yang ajak saya ke Jayapura untuk ikut kegiatan itu, itu Bang Tigor. Jadi, setelah kita selesai kegiatan, dia ajak kita untuk nonton film Pesta Babi. Jadi, pada saat itu, saya tahu saja mau potong babi betulan, ternyata kita naik di Aula Maranatha, ternyata film yang diputar itu judulnya film Pesta Babi. Ah, di situ ada wajah saya," ungkap Mama Sinta.
Dirinya terkejut saat melihat wajahnya sendiri dipajang di hadapan penonton tanpa adanya konfirmasi sebelumnya. Hal ini memicu beban psikologis tidak hanya bagi dirinya tetapi juga bagi seluruh anggota keluarganya.
"Ah, di situ saya lihat sendiri, saya saksikan sendiri, kenapa wajah saya ditampilkan di depan banyak orang tanpa seizin dari saya? Itu yang saya sakit hati dan sakit jiwa sekali bersama keluarga saya," tuturnya.
Mama Sinta menegaskan kembali bahwa pihak penyelenggara maupun pembuat film tidak pernah memberikan informasi atau meminta izin untuk menjadikannya bagian dari karya tersebut. Momentum menonton bersama pada awal April menjadi waktu pertama kali ia mengetahui hal itu.
"Tidak pernah (tahu dilibatkan dalam film). Tidak ada sama sekali (ungkapan dilibatkan dalam film). Saya kaget pada saat nonton itu tanggal 8 bulan 4. Saya sendiri ketemu itu wajah saya di situ, pada saat mereka putar film itu, Pesta Babi," ujarnya.
Merasa dibohongi oleh situasi tersebut, pejuang lingkungan Papua ini menuntut tindakan tegas agar penyebaran karya audio visual itu segera dihentikan. Ia juga meminta aparat hukum untuk memproses siapa saja yang masih nekat memutar film tersebut ke depan.
"(Saya ingin) dihentikan. Mulai dari hari ini dihentikan. Seandainya ada yang putar film itu, tolong proses orang itu," imbuh Mama Sinta.
Di sisi lain, sutradara sekaligus penggarap film Pesta Babi, Dandhy Laksono, memberikan respons mengenai penolakan dari pihak Mama Sinta melalui sebuah unggahan di akun Instagram pribadinya. Dandhy menyatakan ketidaktahuannya mengenai dinamika yang sedang dialami oleh tokoh adat tersebut di Papua.
"Kawan-kawan semua, kita tak pernah benar-benar tahu apa yang sedang dialami Yasinta Moiwend di pedalaman Papua sana. Apa pun yang muncul di media sosial, sepertinya kita perlu menahan diri untuk tidak menghakimi beliau. Bahkan jika semua yang disampaikan murni atas kehendak sendiri, bukan kah setiap orang berhak membuat pilihan?," tulis Dandhy Laksono dalam postingan instagramnya.