Gempa Magnitudo 4,6 Guncang Pangandaran Setelah Sukabumi

Share

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melaporkan gempa bumi tektonik berkekuatan magnitudo 4,6 mengguncang wilayah Kabupaten Pangandaran, Jawa Barat, pada Kamis, 21 Mei 2026 pukul 04.04 WIB.

Bencana ini melanda wilayah Jawa Barat hanya berselang beberapa hari setelah gempa dangkal berkekuatan magnitudo 4,7 mengguncang Kabupaten Sukabumi yang getarannya meluas hingga Kabupaten Cianjur.

Melalui akun X resminya, BMKG menerangkan bahwa pusat gempa Pangandaran berada di laut dengan kedalaman 13 kilometer pada koordinat 8.16 LS dan 108.24 BT, atau berjarak sekitar 58 kilometer barat daya Kabupaten Pangandaran.

"Informasi ini mengutamakan kecepatan, sehingga hasil pengolahan data belum stabil dan bisa berubah seiring kelengkapan data," tulis BMKG.

Sebelumnya, wilayah Sukabumi diguncang gempa dangkal akibat aktivitas sesar aktif bawah laut pada Minggu, 17 Mei 2026 pukul 22.15 WIB, dengan pusat episenter terletak 63 kilometer tenggara Kabupaten Sukabumi di kedalaman 28 kilometer.

Kepala BMKG Wilayah II Tangerang, Hartanto menjelaskan detail parameter pembaruan dari analisis instansinya terkait guncangan di Sukabumi tersebut.

“Dengan memperhatikan lokasi episenter dan kedalaman hiposenternya, gempabumi yang terjadi merupakan jenis gempabumi dangkal akibat aktivitas sesar aktif bawah laut,” ujar Hartanto.

Berdasarkan laporan masyarakat, getaran di Sukabumi terasa nyata di dalam rumah seperti truk besar melintas dengan Skala Intensitas III MMI di Cidolog, Cidadap, Pabuaran, Surade, Ciracap, Ciemas, dan Jampangkulon.

Sementara wilayah Palabuhanratu, Cisolok, Cibadak, Cisaat, Cidahu, Cicantayan, Nagrak, Ciwidey, Nyalindung, Lengkong, Parungkuda, Caringin, Kota Sukabumi, hingga Cianjur merasakan Skala Intensitas II MMI.

Pihak BMKG terus memantau pergerakan tektonik pascagempa Sukabumi untuk mendeteksi potensi adanya bahaya susulan di wilayah tersebut.

“Hingga pukul 22:42 WIB, hasil monitoring BMKG belum menunjukkan adanya aktivitas gempabumi susulan,” kata Hartanto.

Dampak dari gempa Sukabumi tersebut juga memicu kepanikan luar biasa bagi masyarakat yang berada di wilayah Kabupaten Cianjur.

Sekretaris Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Cianjur, Asep Sudrajat mengonfirmasi bahwa kepanikan sempat membuat warga bertahan di luar rumah serta menyebabkan keluarga pasien di puskesmas dan rumah sakit berlarian ke luar ruangan.

"Gempa yang terjadi Minggu malam sempat membuat panik warga di sejumlah wilayah, namun warga kembali ke rumah setelah beberapa puluh menit bertahan di luar rumah guna memastikan tidak ada gempa susulan," katanya.

Guna mengantisipasi dampak kebencanaan yang lebih luas, BPBD Cianjur mengambil langkah taktis dengan menyiagakan personel di lapangan.

"Kami menyiagakan petugas dan 360 relawan guna melakukan pengawasan, pelaporan serta melakukan mitigasi kerawanan bencana di wilayah masing-masing termasuk menjelang pergantian musim dari hujan ke panas," katanya.

Selain mitigasi gempa, BPBD Cianjur bersama pemerintah daerah setempat kini mulai memetakan potensi kekeringan dengan membangun infrastruktur air bersih.

"Kami berkoordinasi dengan dinas terkait untuk melakukan penangan cepat dengan truk tangki guna memenuhi kebutuhan air bersih warga di sejumlah kecamatan yang menjadi langganan kekeringan saat kemarau," katanya.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
tiara-puspita-sari
Author