Babak Penyisihan LCC Empat Pilar MPR 2026 Uji Kemampuan Penalaran Siswa
Sebanyak 38 sekolah setingkat SMA/SMK dari 38 provinsi berlaga pada babak penyisihan Grand Final Lomba Cerdas Cermat (LCC) Empat Pilar MPR RI 2026. Agenda tersebut digelar di Gedung Nusantara IV, Kompleks Parlemen, Jakarta, seperti dilansir dari Detikcom.
Ajang nasional ini menguji penalaran, daya kritis, dan kemampuan analisis siswa dalam memecahkan studi kasus kebangsaan. Penilaian peserta melibatkan akademisi Ninuk Wijiningsih dari Universitas Trisakti, Ricca Anggraeni dari Universitas Pancasila, dan Rianda Dirkareshza dari UPN Veteran Jakarta.
Ketua Badan Sosialisasi MPR RI, Abraham Liyanto, mengapresiasi kelancaran hari pertama kompetisi yang menyajikan enam pertandingan penuh. Ia menekankan bahwa substansi lomba bukan sekadar menghafal materi, melainkan melatih pemahaman hukum serta nilai Pancasila secara menyeluruh.
"Karena 38 provinsi, kita lihat semangat mereka masih sama seperti kemarin. Saya berterima kasih karena panitia dan sekretariat sudah bisa menghasilkan enam pertandingan full, dan mereka juga punya waktu istirahat," ujar Abraham.
Soal berbasis studi kasus memberikan tantangan tinggi bagi para peserta. Kecepatan menjawab tanpa analisis mendalam justru dapat memicu kesalahan, sehingga metode penilaian ini dinilai meningkatkan kualitas kompetisi.
"Lomba ini tidak sekadar menghafal, tapi bagaimana mereka dilatih untuk bisa berinovasi, berpikir, untuk menjawab studi kasus," katanya.
"Kalau hafal semua sudah bisa. Tapi kalau studi kasus, panjang soalnya, dia kasih naik-turun. Ada yang cepat justru salah.
Nah, itu yang menarik. Jadi saya kira berkualitas," lanjutnya.
Melalui metode tersebut, peserta didorong memahami aturan dan menghubungkannya dengan isu kebangsaan. Penguasaan materi siswa bahkan dinilai dapat melampaui orang dewasa karena kebiasaan menganalisis masalah selama persiapan ajang ini.
Abraham mengingatkan pentingnya penguatan nilai toleransi dan keadilan sosial secara berkelanjutan dari jenjang sekolah dasar hingga perguruan tinggi. Pendidikan Pancasila perlu dipraktikkan langsung dalam kehidupan sehari-hari melalui sikap disiplin, taat aturan, dan kepedulian sosial.
"Pancasila ini sudah banyak, sudah lama semua ini. Tapi kok toleransi masih belum seperti yang kita harapkan. Kemudian keadilan sosial masih belum yang kita harapkan. Nah, itulah, ditanamkan kembali sekarang," sambungnya.
"Kalau kita menginginkan NKRI ini masih tetap harga mati dan roh pengikatnya, Pancasila, masih ada, itu sudah oke," pungkasnya.
Badan Sosialisasi MPR RI menargetkan perluasan jangkauan program hingga 8.000 sekolah melalui kolaborasi dengan kementerian dan pemerintah daerah. Capaian partisipasi tahun ini telah menembus sekitar 4.000 sekolah di seluruh Indonesia.
Pada penyisihan hari pertama, 20 sekolah telah bertanding dalam enam grup. Enam sekolah berhasil mengamankan tiket menuju babak semifinal setelah keluar sebagai juara grup.
Sekolah yang lolos mencakup Sekolah Kristen Kalam Kudus Selat Panjang (Riau), SMAN Tugumulyo (Sumatera Selatan), SMAN 1 Tanjung Selor (Kalimantan Utara), SMAN 2 Katingan Kuala (Kalimantan Tengah), MAN Insan Cendekia Bangka Tengah (Kepulauan Bangka Belitung), dan SMAN 1 Sambas (Kalimantan Barat).
Pelaksanaan babak penyisihan turut dihadiri jajaran pejabat Setjen MPR RI serta Anggota Badan Sosialisasi MPR RI Saiful Nuri dan Hj. Evi Apita Maya.