Pemerintah Tingkatkan Ekosistem Gula Nasional Lewat Koperasi Petani Tebu
Kementerian Koperasi, Kementerian Pertanian, dan LPDB Koperasi memperkuat ekosistem industri gula nasional melalui sinergi kemitraan bersama petani tebu di Semarang, Jawa Tengah, Selasa (25/8/2026), seperti dilansir dari Detikcom. Kegiatan bimbingan teknis dan rembug petani tebu ini diikuti 100 peserta pengurus koperasi petani dari berbagai wilayah di Pulau Jawa.
Langkah terintegrasi dari Hulu ke hilir ini melibatkan LPDB Koperasi sebagai penyedia pembiayaan serta PT PG Rajawali I sebagai pembeli siaga hasil panen. Pemilihan pola rantai pasok terpadu diharapkan mampu memperkuat tata kelola lembaga perekonomian petani.
Menteri Koperasi Ferry Juliantono menjelaskan bahwa program ini dirancang untuk mempercepat transformasi kelembagaan agar petani tebu memiliki daya saing tinggi.
"Kami memiliki BLU LPDB Koperasi sebagai lembaga yang akan mempercepat proses transformasi agar koperasi-koperasi petani tebu semakin produktif dan profesional. LPDB Koperasi tidak hanya menyalurkan dana bergulir, tetapi juga membangun kapasitas koperasi melalui program inkubasi, pendampingan, dan peningkatan tata kelola sehingga koperasi menjadi lembaga yang sehat dan mampu memperbesar skala usahanya," ujar Menteri Koperasi Ferry Juliantono.
Pemerintah menargetkan hasil olahan gula tebu ini dapat dipasarkan secara luas melalui jaringan distribusi Koperasi Desa atau Kelurahan Merah Putih.
"Saya mengapresiasi LPDB Koperasi yang mendampingi koperasi petani tebu agar semakin baik tata kelolanya, meningkat produksinya, kemudian hasil panennya dapat di-offtake oleh PT PG Rajawali I. Selanjutnya gula yang dihasilkan diharapkan menjadi produk yang diprioritaskan untuk dipasarkan melalui gerai-gerai Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih," tutur Ferry Juliantono.
Ferry menegaskan sinergi lintas kementerian menjadi fokus utama pemerintah dalam membangun pilar ekonomi kerakyatan di sektor agribisnis.
"Pak Presiden memberikan perhatian besar terhadap koperasi sebagai badan usaha rakyat yang mampu berjalan berdampingan dengan BUMN maupun swasta. Karena itu, kami akan merajut sinergi yang semakin kuat antara Kementerian Koperasi dan Kementerian Pertanian agar mampu menghadirkan solusi nyata bagi sektor pertanian dan meningkatkan kesejahteraan petani," ujar Ferry Juliantono.
Sementara itu, Kementerian Pertanian menargetkan pemenuhan kebutuhan gula industri serta bahan baku bioetanol E10 dan E20 dapat dipasok sepenuhnya dari dalam negeri.
"Arahan Presiden jelas, seluruh kebutuhan gula konsumsi maupun gula industri secara bertahap harus mampu dipenuhi dari dalam negeri. Bahkan ke depan kebutuhan bioetanol untuk program E10 dan E20 juga akan berasal dari tebu. Kesempatan ini sangat besar karena Indonesia memiliki lahan yang luas, tanah yang subur, dan petani yang sangat rajin. Yang dibutuhkan sekarang adalah dukungan yang terintegrasi," ujar Wakil Menteri Pertanian Sudaryono.
Peningkatan efisiensi melalui kenaikan rendemen tebu menjadi target penting guna menekan biaya produksi gula tanpa mengabaikan pendapatan para petani.
"Kalau produktivitas per hektare dan rendemen terus meningkat, biaya produksi gula akan semakin rendah sehingga ke depan harga gula bisa semakin kompetitif tanpa mengurangi pendapatan petani. Di sinilah pentingnya koperasi sebagai jalur bisnis yang menghubungkan petani dengan industri dan pasar," kata Sudaryono.
LPDB Koperasi mencatat peran strategis kelembagaan tani dalam menunjang ketahanan pangan nasional secara berkelanjutan.
"Koperasi di sektor pertanian tebu memiliki peran strategis dalam memperkuat perekonomian masyarakat melalui pengembangan usaha berbasis agribisnis. Dengan kelembagaan yang kuat dan tata kelola yang profesional, koperasi diharapkan mampu meningkatkan produktivitas, memperkuat rantai pasok industri gula nasional, serta meningkatkan kesejahteraan petani," ujar Direktur Utama LPDB Koperasi Krisdianto.
Pihaknya memastikan kesiapan dalam memberikan akses pembiayaan yang ramah bagi perkembangan skala bisnis koperasi pertanian.
"Sebagai lembaga pengelola dana bergulir, LPDB Koperasi berkomitmen mendukung koperasi sektor pertanian tebu melalui pembiayaan yang mudah diakses, pendampingan usaha, dan peningkatan kapasitas kelembagaan sehingga koperasi menjadi semakin profesional, produktif, dan berdaya saing," kata Krisdianto.
Hingga 30 Juni 2026, LPDB Koperasi telah mengucurkan dana bergulir senilai Rp22,4 triliun. Angka tersebut mencakup Rp17,4 triliun untuk skim Simpan Pinjam dan Rp5 triliun untuk Sektor Riil. Khusus sepanjang semester I 2026, penyaluran telah mencapai Rp1,07 triliun.
Pada segmen syariah, akumulasi pembiayaan sejak 2020 hingga Juni 2026 mencapai Rp5,5 triliun. Realisasi semester I 2026 tercatat sebesar Rp506,7 miliar dari target tahunan Rp900 miliar.
Krisdianto menambahkan bahwa kegiatan sosialisasi diarahkan untuk meningkatkan kapasitas manajerial pengurus agar memenuhi syarat kelayakan pembiayaan.
"Melalui kegiatan ini kami ingin meningkatkan kapasitas pengurus dan manajer koperasi agar mampu mengelola usaha secara profesional, akuntabel, dan berdaya saing. Dengan tata kelola yang semakin baik, koperasi akan lebih siap mengakses pembiayaan LPDB Koperasi untuk memperbesar kapasitas usahanya," jelas Krisdianto.
Penguatan sistem pembiayaan bergulir diproyeksikan terus berlanjut guna menciptakan ekosistem bisnis koperasi yang modern di tanah air.
"Penguatan ekosistem bisnis koperasi akan melahirkan koperasi yang sehat, modern, dan mampu menjadi motor penggerak ekonomi masyarakat. LPDB Koperasi akan terus hadir mendukung penguatan ekonomi kerakyatan melalui pembiayaan bergulir yang akuntabel, mudah diakses, dan memberikan dampak nyata bagi kesejahteraan petani serta kemajuan koperasi Indonesia," pungkas Krisdianto.