Netanyahu Diduga Rancang Eskalasi Gaza untuk Tunda Pemilu Israel

Share

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu diduga merancang eskalasi konflik di Jalur Gaza untuk menunda pemilu parlemen yang dijadwalkan akhir 2026, menurut laporan Maariv yang mengutip pejabat militer Israel, dilansir dari Detikcom.

Survei terbaru dari Channel 12 yang dirilis pada 25 Agustus 2026 menunjukkan Partai Likud pimpinan Netanyahu meraih posisi kedua dengan prediksi 21 kursi, kalah dari Partai Yashar yang dipimpin mantan Kepala Staf Angkatan Pertahanan Israel Gadi Eisenkot dengan 24 kursi.

Survei itu juga menampilkan peluang Eisenkot unggul dalam pemilihan Perdana Menteri dengan 44 persen suara dibandingkan Netanyahu yang mendapat 34 persen. Namun, Perdana Menteri di Israel tidak dipilih langsung rakyat, melainkan oleh Presiden berdasarkan kemampuan membentuk koalisi mayoritas.

Netanyahu menyerukan agar warga tidak mendukung partai kecil kanan yang berisiko gagal melewati ambang batas 3,25 persen dalam pemilu 27 Oktober mendatang, karena dapat melemahkan koalisi pemerintah saat ini.

"Pemilu ini akan ditentukan oleh setiap suara. Jangan sia-siakan suara Anda pada partai-partai kecil yang mungkin tidak lolos ambang batas dan justru membawa kubu kiri berkuasa. Jangan buang-buang suara.

Pertahankan kubu kanan. Pilihlah Likud," ujar Netanyahu melalui unggahan Instagram pada 24 Agustus 2026.

Unggahan ini muncul sehari sebelum mantan jenderal IDF Ofer Winter meluncurkan partai baru yang berpotensi menarik suara dari sayap kanan jauh dan melemahkan koalisi saat ini.

Netanyahu mengingatkan bahwa pemilu 1992 yang membagi suara sayap kanan menyebabkan kemenangan Partai Buruh dan Perjanjian Oslo, yang berujung pada konflik dan korban jiwa yang terus dirasakan hingga kini.

"Kita telah membayar harganya dengan ribuan nyawa warga yang tewas dibunuh serta ribuan korban lainnya, dan kita masih menghadapi masalah ini hingga hari ini-semuanya bermula dari kesalahan itu, ketika partai-partai sayap kanan sempalan berselisih dan menjatuhkan pemerintahan sayap kanan," kata Netanyahu.

"Lantas, apakah kita akan mengulangi kesalahan ini?" tambahnya.

Selain partai Winter, aktivis Arab-Israel Yoseph Haddad juga telah mendaftarkan partai Brave Israel, yang juga berpotensi menyerap suara di kubu kanan.

Jajak pendapat Channel 12 lain pada 23 Agustus memperkirakan Winter mampu meraih minimal empat kursi Knesset, namun hal ini akan mengorbankan partai Religious Zionism pimpinan Menteri Keuangan Bezalel Smotrich yang berisiko gagal melewati ambang batas.

Akibatnya, blok pendukung Netanyahu diprediksi menyusut menjadi 49 kursi, jauh dari ambang mayoritas 61 kursi. Sementara itu, blok anti-Netanyahu diproyeksikan meraih 60 kursi, dengan partai Arab mendapat 11 kursi.

Laporan dari Maariv mengungkapkan kekhawatiran pejabat militer Israel bahwa Netanyahu sengaja mempertahankan atau memicu eskalasi di Gaza agar pemilu tidak berjalan sesuai jadwal.

Pejabat militer menegaskan bahwa mereka tidak ingin terlibat dalam konflik baru tanpa kebutuhan keamanan yang jelas.

"Kami tidak akan terlibat dalam perang baru yang tidak perlu," ujar para petinggi militer Israel, menurut laporan Maariv.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
hendra-kurniawan-saputra
Author