Kemensos Berikan Layanan Dukungan Psikososial untuk Korban Gempa di Sikka

Share

Kementerian Sosial memberikan Layanan Dukungan Psikososial (LDP) bagi korban gempa di Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur, Minggu (23/8), dengan prioritas kelompok rentan seperti anak-anak, perempuan dewasa, ibu hamil, menyusui, dan lansia.

Sebanyak 18 lembaga dan NGO yang tergabung dalam subcluster LDP telah diaktifkan pada hari ketiga masa pengungsian. Sebagian besar lembaga fokus melayani anak-anak, sedangkan pendampingan kelompok non-anak dilakukan bersama tim Kemensos, dilansir dari Detikcom.

Tim LDP melakukan asesmen psikososial yang menunjukkan 19 persen korban berisiko sangat tinggi (kategori merah), 31 persen berisiko sedang (kuning), dan 50 persen berisiko ringan (hijau). Korban kategori merah dirujuk ke psikolog untuk asesmen lanjutan, sementara kategori kuning dan hijau mendapat pendampingan Psychological First Aid (PFA) dan aktivitas rekreasional.

"Yang merah kami rujuk ke psikolog karena kasus dengan risiko tinggi harus ditangani oleh tim ahli. Sementara yang masuk kategori kuning dan hijau kami dampingi melalui layanan psikososial," ujar Tim Layanan Dukungan Psikososial (LDP) Kementerian Sosial, Igun Gunawan.

Igun menjelaskan bahwa sebagian warga mengalami trauma akibat gempa dan tsunami 1992, yang dapat kembali muncul saat gempa susulan. "Karena sebagian warga memiliki pengalaman traumatis akibat gempa dan tsunami 1992, ketika terjadi gempa susulan ada yang kembali mengalami keterkejutan, kecemasan atau ketakutan. Karena itu, kami memberikan latihan stabilisasi dan grounding agar mereka mengetahui apa yang dapat dilakukan ketika merasa cemas atau takut," kata Igun.

Selain stabilisasi dan grounding, korban juga diberi edukasi dan latihan langkah penyelamatan diri saat gempa susulan. Layanan psikososial dimulai pukul 06.00 WITA dengan senam pagi bersama warga, relawan, TNI, dan Polri, dilanjutkan sarapan dan kegiatan bersih-bersih.

Pada pukul 10.00-12.00 WITA, fokus kegiatan pada pendampingan anak, aktivitas rekreasional, dan PFA. Setelah istirahat anak-anak, pukul 14.00-16.00 WITA kegiatan untuk perempuan dewasa, ibu hamil, menyusui, dan lansia dengan aktivitas rekreasional dan PFA.

"Ada layanan rekreasional, ada pertolongan pertama psikologis, ada layanan untuk mengembalikan fungsi sosial. Dan itu dilakukan secara terprogram dan terstruktur," ungkap Igun.

Pada pukul 16.00 WITA, kegiatan untuk anak-anak dilanjutkan bersama relawan hingga malam. Anak-anak beragama Islam mengikuti Magrib Mengaji di musala darurat, sedangkan anak Katolik mengikuti Sekolah Minggu pada hari Minggu.

Layanan psikososial terus berjalan di lokasi pengungsian dengan penyesuaian kondisi korban, serta pendampingan bertahap sesuai hasil asesmen, termasuk rujukan ke tenaga profesional bila dibutuhkan.

Follow publika.id on Google News Follow
Topik Terkait: bencana Kemensos psikososial
Editors Team
tiara-puspita-sari
Author