Penyebab Susah Tidur di Kamar Hotel dan Cara Mengatasinya
Traveling menginap di hotel sudah nyaman, kasur empuk, dan sprei bersih, tapi mata justru sulit terpejam? Bisa jadi otakmu masih dalam mode waspada karena tidur di tempat yang asing.
Dikutip dari CNN Indonesia, Senin (24/8/2026), fenomena tersebut dikenal sebagai first night effect, yaitu kondisi ketika seseorang membutuhkan waktu lebih lama untuk terlelap, lebih mudah terbangun, atau tidur dengan kualitas yang tidak sebaik biasanya saat berada di lingkungan yang asing.
Mekanisme Pertahanan Otak di Lingkungan Baru
Mekanisme biologis di balik fenomena ini berkaitan langsung dengan respons perlindungan diri manusia saat berada di wilayah yang belum dikenal.
Menurut peneliti senior bidang tidur dari University of Freiburg, Anna Wick, salah satu penyebabnya adalah otak yang masih berada dalam mode waspada. Ketika berada di lingkungan baru, otak membutuhkan waktu untuk memastikan bahwa tempat tersebut aman sebelum benar-benar memasuki kondisi tidur yang lebih dalam.
Dampak dari tingkat kewaspadaan ini secara langsung mengurangi total durasi istirahat seseorang secara signifikan.
Peneliti tidur dari University of Pittsburgh, Ahmad Mayeli, menyebut fenomena itu kemungkinan dialami oleh banyak orang, meskipun tidak semuanya menyadarinya. Rata-rata, seseorang dapat kehilangan sekitar 20-30 menit waktu tidur ketika bermalam di lingkungan yang berbeda dari biasanya.
Bukan hanya durasi tidur yang berkurang. Penelitian juga menunjukkan bahwa aktivitas pada bagian otak yang berkaitan dengan tidur dapat tetap lebih tinggi ketika seseorang berada di tempat baru. Akibatnya, tidur yang diperoleh mungkin terasa kurang nyenyak dibandingkan saat tidur di rumah.
Kabar baiknya, kondisi ini umumnya hanya bersifat sementara. Setelah melewati malam pertama dan mulai terbiasa dengan lingkungan sekitar, kewaspadaan otak biasanya berkurang sehingga kualitas tidur dapat kembali membaik.
Faktor Lingkungan dan Psikologis
First night effect bukan satu-satunya alasan seseorang sulit tidur ketika bepergian. Lisa Strauss, seorang psikolog, menjelaskan bahwa perjalanan yang melelahkan juga dapat mengganggu kualitas tidur, bahkan ketika seseorang tidak mengalami perubahan zona waktu.
Lingkungan kamar turut memainkan peran. Suara dari luar, cahaya yang masuk, suhu ruangan yang kurang nyaman, atau lampu indikator perangkat di kamar dapat membuat tidur menjadi lebih sulit.
Faktor psikologis dan sosial juga tidak bisa diabaikan. Misalnya, seseorang mungkin merasa kurang rileks ketika menginap di rumah kerabat yang tidak terlalu dekat. Orang yang memiliki kecenderungan cemas juga dapat lebih rentan mengalami kesulitan tidur.