Sejarah Penemuan Alat Tes Kehamilan Sebelum Menggunakan Test Pack Modern

Share

Alat tes kehamilan portable atau test pack di era modern memberikan kemudahan bagi perempuan untuk mengetahui status kehamilannya secara cepat di rumah. Penggunaannya terbilang sangat praktis, yakni cukup mencelupkan strip ke dalam urine pertama di pagi hari untuk mendeteksi keberadaan hormon kehamilan. Kondisi ini amat berbeda dengan masa lalu ketika inovasi medis belum berkembang pesat.

Sejarah penemuan kit tes kehamilan mandiri pertama kali dicatat mulai dipasarkan pada 1977, dilansir dari HaiBunda. Mary Jane Minkin, MD, profesor klinis Obstetri, Ginekologi & Ilmu Reproduksi Fakultas Kedokteran Universitas Yale menjelaskan inovasi medis ini menjadi titik balik penting. Berdasarkan Kantor Sejarah Institut Kesehatan Nasional (NIH) & Museum Stetten, produk tes kehamilan komersial pertama dibuat oleh Warner Chillcott dengan nama Early Pregnancy Test atau Error Proof Test bermerek e.p.t.

Produsen mengajukan izin persetujuan FDA pada 1976 dan resmi mengantongi izin pada akhir 1977 bersama merek Predictor, ACU-Test, dan Answer. Majalah perempuan mulai mengiklankan alat tes kehamilan ini secara resmi pada 1978 dengan harga USD 10 per unit.

Tampilan alat versi awal sangat berbeda dari produk masa kini karena membutuhkan waktu proses hingga dua jam. Produk tersebut diklaim memiliki tingkat akurasi 97 persen untuk hasil positif serta 80 persen untuk hasil negatif. Jauh sebelum kit tes di rumah tercipta, manusia mengandalkan cara-cara tradisional. Catatan tertulis tahun 1350 SM menunjukkan masyarakat Mesir Kuno meminta perempuan menyiram biji gandum dan barley dengan urine selama beberapa hari untuk melihat pertumbuhannya.

Perkembangan pengetahuan kemudian bergeser ke analisis warna air seni. Pada dekade 1920-an, peneliti mengidentifikasi bahwa hormon hCG hanya diproduksi oleh tubuh perempuan yang sedang hamil. Dua ilmuwan, Selmar Aschheim dan Bernhard Zondek, menemukan teknik pengujian dinamai tes AZ pada 1927. Prosedur ini dilakukan dengan menyuntikkan sampel urine perempuan ke tubuh tikus atau kelinci muda untuk memicu reaksi birahi.

"Sebelum ada tes kehamilan di rumah, seseorang harus pergi ke dokter dan mereka melakukan tes urine, yang sebenarnya melibatkan penyuntikan sampel ke kelinci," kata Dr. Minkin. "Dan, ungkapan populer yang digunakan orang ialah mereka harus menunggu sampai kelinci itu mati untuk mengetahui apakah mereka hamil," tutur Dr.

Minkin. Prosedur eksperimen hewan tersebut membutuhkan biaya besar, mengorbankan banyak kelinci, serta memerlukan waktu berhari-hari untuk mengetahui hasilnya. Perkembangan teknologi lalu menggeser metode ini ke arah pengujian berbasis deteksi antibodi terhadap hormon hCG hasil produksi sel telur yang terbuahi.

Pentingnya Deteksi Dini dan Inovasi Masa Depan

Tingkat sensitivitas alat tes modern terus meningkat, bahkan mampu mendeteksi hormon hCG dengan tingkat akurasi mencapai 99 persen pada hari pertama terlambat haid. Merek modern seperti First Response Test mampu memberikan petunjuk kehamilan hingga 6 hari sebelum tanggal terlambat haid.

Kemampuan mengetahui kondisi kehamilan lebih awal memegang peranan krusial dari sisi medis maupun psikologis. Kepastian status kehamilan membantu perempuan mengambil keputusan tepat secara cepat, baik dalam memulai perawatan prenatal maupun perencanaan kesehatan reproduksi.

Inovasi perangkat medis ini terus berkembang mengikuti kebutuhan penggunanya. Produsen seperti LIA memproduksi tes kehamilan ultra tipis berbahan kertas yang ramah lingkungan, sementara layanan seperti Stix menawarkan pengiriman paket tes secara berkala.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
daffa-raihan-maulana
Author