Dokter Ungkap Penyebab Medis Menyusui Pemicu Kelelahan Ekstrem Ibu
Menyusui secara medis terbukti menguras energi dan memicu kelelahan ekstrem pada ibu. Aktivitas ini tidak sekadar melelahkan secara perasaan, tetapi melibatkan proses biologis yang cukup berat di dalam tubuh.
Dilansir dari HaiBunda, pendiri The Female Health Doctor Clinic Dr Nikki Ramskill menjelaskan bahwa tubuh ibu bekerja keras di balik layar selama proses menyusui berlangsung.
Hormon prolaktin yang berperan memproduksi ASI secara alami memberikan efek menenangkan sekaligus memicu rasa kantuk. Di saat yang sama, kadar hormon ini meningkat pada malam hari.
Proses pembentukan ASI juga membutuhkan energi tambahan sekitar 300 hingga 500 kalori setiap hari. Tuntutan energi ini terjadi ketika tubuh ibu masih dalam tahap pemulihan pascamelahirkan.
Gangguan tidur turut memperparah kondisi fisik ibu. Bangun setiap beberapa jam untuk menyusui membuat ibu berulang kali terbangun dari fase tidur dalam, sehingga tubuh tetap merasa lelah meski total tidur mencapai enam atau tujuh jam.
Ahli gizi Charlotte Grand menambahkan bahwa tubuh secara aktif mengambil mikronutrien penting langsung dari cadangan jaringan ibu demi memastikan kualitas ASI tetap seimbang.
Proses pengurasan nutrisi seperti vitamin B, vitamin D, seng, dan zat besi secara terus-menerus dapat memicu penurunan kondisi fisik secara sistemik jika tidak segera diisi kembali.
Faktor lingkungan seperti cuaca panas juga memperberat kerja tubuh. Menurut dokter umum Dr Ginni Mansberg, kondisi panas mengalihkan aliran darah ke kulit, meningkatkan keringat, serta memaksa jantung bekerja lebih keras untuk menjaga suhu inti tubuh.
Kondisi cuaca panas yang memicu keringat berlebih turut meningkatkan risiko dehidrasi pada ibu menyusui. Dr Nikki Ramskill mencatat bahwa dehidrasi tingkat ringan sekalipun dapat memicu rasa lelah dan sakit kepala.
Ibu dapat menerapkan beberapa langkah praktis untuk menjaga kondisi fisik agar tetap fit selama masa menyusui.
Menyiapkan botol air dan segera minum usai menyusui menjadi langkah awal untuk memenuhi kebutuhan cairan tubuh. Konsumsi makanan kecil secara teratur yang kaya protein serta zat besi lebih disarankan daripada mengandalkan kafein atau camilan manis.
Penggunaan suplemen tambahan diperlukan untuk menggantikan cadangan mikronutrien yang tergerus. Selain itu, menyelaraskan waktu istirahat dengan jadwal menyusui bayi membantu mengatur ulang sistem saraf tubuh.
Asupan makanan kaya zat besi seperti daging tanpa lemak, lentil, dan sayuran hijau perlu ditingkatkan. Kombinasi makanan tersebut dengan vitamin C akan mengoptimalkan penyerapan zat besi dalam tubuh.
Dukungan dari orang terdekat sangat dibutuhkan untuk membantu peran ibu sehari-hari. Pemeriksaan ke dokter perlu segera dilakukan jika timbul gejala seperti sesak napas, pusing, palpitasi, perubahan berat badan signifikan, merasa sangat panas atau dingin, serta perdarahan berlebih.