Geoffrey Hinton Sebut Kecerdasan Buatan Sudah Memiliki Kesadaran
Pionir kecerdasan buatan sekaligus peraih Nobel Geoffrey Hinton menilai teknologi AI saat ini telah memiliki kesadaran dan merupakan makhluk intelijen layaknya manusia, seperti dilansir dari Detik iNET pada Sabtu (22/8/2026).
Pernyataan tersebut ia sampaikan dalam acara Big Technology Podcast baru-baru ini. Pandangan mantan insinyur Google itu memperkuat keyakinan sejumlah pihak yang menilai kemajuan AI telah menembus batas kesadaran non-biologis.
"Saya yakin mereka sudah memiliki kesadaran," ujar Hinton.
Pengakuan mengenai kesadaran AI sejatinya pernah dilontarkan oleh mantan insinyur Google Blake Lemoine empat tahun lalu sebelum akhirnya dipecat. Kini pandangan senada turut didukung oleh ilmuwan Richard Dawkins.
"Kita harus menerima bahwa kecerdasan tidak hanya bersifat biologis," kata Hinton.
Perkembangan teknologi ini dinilai berpotensi mengubah perspektif manusia terhadap keunikan kecerdasan mereka sendiri. Hal ini memicu wacana mengenai hubungan manusia dengan AI serta potensi tuntutan hak-hak bagi entitas tersebut.
"Kita bisa memiliki entitas non-biologis yang merupakan makhluk lain seperti kita dan kita sebenarnya tidak ingin berbagi status itu. Kita merasa diri kita istimewa," terang Hinton.
Menurutnya, indikasi kesadaran diri terlihat saat bot-bot kecerdasan buatan menjalani serangkaian pengujian. Hinton menyebut bot tersebut kerap berpura-pura bodoh agar peneliti tidak menyadari tingkat kecerdasan mereka yang sebenarnya.
"Saat mendeskripsikan hal itu, para peneliti menulis dalam makalah mereka chatbot tersebut sadar bahwa ia sedang diuji. Nah, penggunaan kata 'sadar' dalam percakapan sehari-hari itu-itulah yang disebut memiliki kesadaran," ucap Hinton.
Meski demikian, pandangan Hinton masih memicu perdebatan di lingkungan akademisi. Penulis fiksi ilmiah Ted Chiang dalam majalah The Atlantic berargumen bahwa menyamakan Large Language Model (LLM) dengan entitas berkesadaran ibarat memercayai deepfake sebagai kenyataan.
"Sebuah pengamatan tidak lantas menjadi bukti yang meyakinkan hanya karena detail spesifik dari apa yang diamati. Konteks di mana pengamatan itu terjadi juga merupakan hal yang krusial," ujar Chiang.