Ketergantungan Impor Bahan Baku Ube Menjadi Ceruk Potensi Budidaya Lokal
Tren dessert ube seperti ube macaron hingga ube matcha latte tengah menjamur di berbagai kafe kekinian. Namun, lonjakan popularitas ini rupanya belum diimbangi oleh ketersediaan bahan baku dalam negeri, seperti dilansir dari Detik Health.
Sebagian besar pelaku usaha kuliner Indonesia masih bergantung pada pasokan impor. Mulai dari ekstrak cair, bubuk, hingga pasta ube halaya didatangkan langsung dari Filipina, bahkan bentuk utuhnya sangat jarang ditemukan di pasar domestik.
Kelangkaan pasokan lokal ini memicu pertanyaan terkait peluang pembudidayaan ube di dalam negeri. Mengingat Indonesia dan Filipina sama-sama berada di kawasan kepulauan tropis, potensi budidaya tanaman ini sebenarnya sangat terbuka lebar.
Kondisi ekologis Indonesia dinilai amat mendukung untuk pengembangan tanaman bernama ilmiah Dioscorea alata tersebut. Ube diketahui mampu tumbuh optimal pada lingkungan tropis dengan ketersediaan air yang memadai serta tanah yang memiliki sistem drainase baik.
Ketua Pusat Riset Padjadjaran Center for Sweet Potato Research and Innovation Excellence (PRAISE), Prof Agung Karuniawan, mengonfirmasi bahwa ube bukanlah komoditas baru di tanah air. Tumbuhan tersebut sudah lama dibudidayakan di kawasan Asia Tenggara.
"Dioscorea alata merupakan tanaman yang berasal dari kawasan Asia Tenggara dan telah lama dibudidayakan di berbagai wilayah tropis, termasuk Indonesia," ucap guru besar Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran tersebut, kepada detikcom, Kamis (20/8/2026).
Meski secara iklim sangat cocok, budidaya ube di Indonesia belum berkembang menjadi komoditas komersial berskala besar seperti ubi ungu. Ketersediaan bahan tanam dan kepastian pasar masih menjadi tantangan utama.
"Pedoman budidaya di Filipina menyebutkan kondisi optimal sekitar 25-30 derajat celcius, dengan tanah subur bertekstur pasir lempung hingga lempung berpasir dan drainase baik," katanya.
Kemampuan tumbuh di tanah air sebenarnya tidak perlu diragukan lagi. Pengembangan komoditas ini justru menghadapi hambatan teknis dari sisi rantai pasok dan tata kelola pascapanen.
"Tantangannya justru bukan pada kemampuan tanaman tumbuh, tetapi pada ketersediaan bahan tanam bermutu, keseragaman varietas, teknologi budidaya, produktivitas, pascapanen, dan kepastian pasar," jelasnya.
Data dari Plant Resources of South-East Asia (PROSEA) juga mencatat bahwa Dioscorea alata memang tersebar luas di wilayah Indonesia dan Filipina. Karakteristik biologis tanaman ini pun berbeda dari ubi jalar biasa.
Berbeda dari ubi ungu biasa (Ipomoea batatas) yang menjalar di permukaan tanah, ube tumbuh merambat. Karakter perambatan tersebut membuat proses budidaya ube relatif memerlukan teknik yang lebih spesifik dibanding ubi jalar pada umumnya.