Lapas Sukamiskin Bandung produksi kapal Sukaboat untuk pasar
Lapas Kelas I Sukamiskin, Bandung, Jawa Barat, memberdayakan narapidana melalui produksi kapal Sukaboat mulai dari dinghy, duchy, hingga kapal nelayan dan speedboat, serta sudah tembus pasar lebih dari 25 unit, sebagaimana dilansir dari Detikcom pada Kamis malam 20/8/2026.
Wawan (26), napi kasus narkoba, menyebut ia mengejarkan lima tipe kapal SB6 di bengkel Sukaboat dan mempelajari teori serta wawasan soal kapal.
"Banyak sekali pelajaran yang saya dapat di sini (bengkel Sukaboat), pastinya bangga sudah bisa bikin kapal. Saya belajar teori-teori soal kapal, jadi makin bertambah wawasan. Saya sudah mengejarkan 5 kapal (tipe) SB6," ujar Wawan, napi kasus narkoba.
Program ini selaras dengan 15 Program Aksi Menimipas 2026 yang pada poin ke-10 mendorong pengembangan produk karya napi hingga pergerakan UMKM di balik tembok penjara, sebagaimana dilansir dari Detikcom.
"Februari kita kolaborasi dengan Honda untuk ikut pameran IIMS (Indonesia International Motor Show) 2026 di Kemayoran. Mereka mendukung menyiapkan boothnya di pameran dan sebagainya. Akhirnya kita ikut pameran, booth yang lainnya (pamer) motor, kami pamerkan kapal karya warga binaan," ucap Emirsyah Satar, napi kasus korupsi.
Pengembangan Sukaboat disupervisi oleh Emirsyah Satar yang berlatar ekonom serta pernah memimpin Garuda Indonesia, dengan dukungan napi berkeahlian di bidang transportasi, perkapalan, dan desain, sementara sisi teknis dibekali melalui kerja sama dengan vendor fiberglass.
"Kami di manajerial, jadi bagaimana kami bisa mensupervisi yang bagian teknis, jadi kami juga belajar teknis. Untuk belajar fiberglass kami diajari vendor-vendor bahan kapal," ujar Emirsyah Satar.
Pelatihan produksi hingga kini difokuskan pada kapal berbahan fiberglass, dengan material lain yang disebut meliputi aluminium, kayu, dan HDPE.
Produk awal Sukaboat berupa dinghy 4 meter: pada 2024 diproduksi 20 unit melalui program CSR PLN, dan enam unit lainnya untuk individu, dengan 15 napi mengisi jam produktif tiap hari di hanggar Sukaboat.
Keberhasilan dinghy diikuti duchy boat 8 meter yang awalnya diperuntukkan sebagai kapal BTS untuk wilayah kepulauan, dibeli dua unit oleh pihak swasta, lalu pada 2026 masuk agenda pengembangan dengan nama Duchy Reborn.
"Ada Duchy, ini kapal 27 feet atau 8 meter, ini kita sudah buat dua unit tapi kita masih revisi, belum selesai," ujar Emirsyah Satar.
Modernisasi Duchy diarahkan pada repowering dengan mesin konvensional serta pembaruan desain, dengan fungsi tetap sebagai kapal internet bagi daerah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T).
Untuk segmen kapal nelayan, Sukaboat mengembangkan tipe SBF-10 dengan contoh dari nelayan rajungan di Cirebon: bentuk tradisional dipertahankan, sementara material dan aspek teknis seperti lambung, mesin, dan propeller diperbarui agar lebih ringan, tahan lama, dan efisien.
"Kami mulai dari wilayah yang tidak jauh dari Sukamiskin yaitu nelayan rajungan di Cirebon. Kami ambil satu contoh kapal nelayan yang dari kayu, lalu kami akan convert menjadi fiberglass, tapi dengan desain, looknya tradisional," terang Rio.
"Harusnya lebih irit karena fiberglass tidak seberat kayu," sambung Rio.
Speedboat SB-6 sepanjang 6 meter dikembangkan dengan konsep multi-purpose untuk wisata, patroli, pancing, diving, hingga SAR, sedangkan SB-8 sekitar 8 meter menambah materi pembelajaran seperti interior, alat keselamatan, railing, tangki BBM dan air, kelistrikan, serta perpipaan.
Sukaboat juga menyiapkan speedboat SB-10 sepanjang 10 meter dengan target kecepatan hingga 50 knot untuk kegiatan patroli, pengamanan, dan respons darurat, dengan rencana penggunaan kevlar dan aramid.