Ptilotus senarius ditemukan kembali setelah dianggap punah
Tanaman langka Ptilotus senarius ditemukan kembali tumbuh di alam liar setelah puluhan tahun dianggap sudah punah, dengan identifikasi dipicu foto warga pada platform sains warga iNaturalist di pedalaman Australia, dilansir dari HaiBunda. Foto seorang warga yang mengunggah hasil pengamatan di iNaturalist menarik perhatian ahli botani, hingga ilmuwan mengonfirmasi spesies tersebut masih bertahan di habitat alaminya. Penemuan ini berawal saat Aaron Bean, hortikulturis yang membantu pemasangan cincin pada burung di kawasan pedalaman Queensland, melihat tanaman yang menarik, lalu memotret dan mengunggahnya setelah kembali mendapatkan akses jaringan telepon, dilansir dari HaiBunda.
Anthony Bean, ahli botani dari Queensland Herbarium, mengenali tanaman pada foto sebagai Ptilotus senarius setelah unggahan tersebut mendapat perhatian.
Ptilotus senarius terakhir terdokumentasi pada 1967, sehingga temuan ini membuat status spesies yang semula diyakini hilang dari alam berubah, dilansir dari HaiBunda. Thomas Mesaglio dari School of Biological, Earth and Environmental Sciences, UNSW, yang mendokumentasikan penemuan itu dalam Australian Journal of Botany, menyebut prosesnya berlangsung secara kebetulan.
"Ini adalah sesuatu yang sangat kebetulan," ujar Mesaglio, dilansir dari HaiBunda. Tanaman perdu ini berukuran relatif kecil dengan bunga merah muda hingga ungu yang bentuknya menyerupai kembang api kecil saat mekar, sehingga tampak mencolok di lanskap kering, dilansir dari HaiBunda.
Spesies ini diketahui tumbuh di kawasan medan terjal dekat Gulf of Carpentaria di Australia bagian utara, sementara sulit dijangkau membuat keberadaannya sulit teramati selama bertahun-tahun, dilansir dari HaiBunda. Setelah foto ditemukan, peneliti bekerja sama dengan pemilik lahan untuk memperoleh spesimen, dan pemeriksaan mengonfirmasi Ptilotus senarius masih bertahan di alam liar, dilansir dari HaiBunda. Statusnya kemudian ditempatkan dalam kategori sangat terancam atau critically endangered, karena perubahan status dapat membantu langkah perlindungan yang lebih tepat, dilansir dari HaiBunda.
"Ini adalah salah satu situasi ketika semuanya harus terjadi pada waktu yang tepat dan ada sedikit keberuntungan," kata Mesaglio, dilansir dari HaiBunda.
Temuan ini juga menunjukkan penelitian keanekaragaman hayati dapat terbantu masyarakat melalui unggahan foto organisme pada iNaturalist, yang datanya dipelajari komunitas dan peneliti untuk identifikasi serta pemetaan persebaran, dilansir dari HaiBunda. Mesaglio menilai keterlibatan pemilik lahan penting karena membuka akses ke kawasan sulit dijangkau peneliti, dan mendorong dokumentasi tumbuhan serta satwa melalui program seperti Land Libraries di New South Wales, dilansir dari HaiBunda. Mesaglio menambahkan, dokumentasi dari banyak sisi dibutuhkan karena beberapa spesies berkerabat dapat memiliki bentuk bunga mirip, sehingga foto daun, batang, kulit, hingga keseluruhan tumbuhan memberi petunjuk tambahan, dilansir dari HaiBunda.
"Semakin banyak informasi dan konteks yang diberikan, semakin besar potensi kegunaan catatan tersebut di masa depan," ucap Mesaglio, dilansir dari HaiBunda.
Dalam penelitian terpisah, Mesaglio menemukan data iNaturalist telah digunakan atau dikutip dalam penelitian ilmiah yang mencakup 128 negara dan ribuan spesies, dilansir dari HaiBunda.