Kerusakan DNA Sperma Berisiko Picu Keguguran Berulang pada Pasangan

Share

Faktor kesehatan pria kini menjadi perhatian dalam kasus kehilangan kehamilan. Dilansir dari HaiBunda, kerusakan DNA pada sel sperma atau sperm DNA fragmentation (SDF) dapat memicu risiko keguguran berulang pada pasangan.

Kondisi ini mendapat perhatian khusus dari American Society for Reproductive Medicine (ASRM). Dalam panduan klinisnya, ASRM menyebut pemeriksaan fragmentasi DNA sperma bisa dipertimbangkan bagi pasangan yang mengalami keguguran berulang.

Kerusakan DNA sperma berbeda dari analisis sperma standar yang hanya mengukur jumlah, bentuk, serta pergerakan. Kondisi ini merujuk pada materi genetik pembawa instruksi yang mengalami pecahan atau kerusakan.

Riset dari Human Reproduction Update dan Reproductive Biology and Endocrinology mengaitkan tingkat fragmentasi DNA sperma yang tinggi dengan masalah infertilitas. Pasangan riwayat keguguran berulang terdeteksi lebih sering memiliki masalah tersebut.

Temuan yang dikutip dari laman Tommy's serta meta-analisis terkait menyebutkan bahwa tingkat kerusakan DNA sperma yang tinggi mampu meningkatkan risiko keguguran hingga dua kali lipat.

Denny Sakkas, Chief Scientific Officer di Boston IVF dan IVI RMA North America, mengibaratkan DNA sperma sebagai buku petunjuk. "Jika terdapat banyak kesalahan dalam instruksi DNA tersebut, kehamilan mungkin terjadi, tetapi perkembangan embrio dapat terganggu sehingga meningkatkan risiko kehilangan kehamilan," ujar Denny Sakkas.

Tinjauan dari Nature Reviews Urology memaparkan beberapa dampak kerusakan materi genetik sperma. Dampak tersebut mencakup gangguan perkembangan embrio, kegagalan implantasi, penurunan kualitas embrio, hingga tingginya risiko keguguran dini.

Berdasarkan panduan Recurrent Pregnancy Loss dari ASRM, kerusakan DNA sperma dipengaruhi oleh berbagai faktor internal maupun lingkungan.

Beberapa pemicu utama kerusakan DNA pada sperma meliputi:

1. Usia ayah yang matang, terutama pada pria berusia 50 tahun ke atas.
2. Kebiasaan merokok yang memicu stres oksidatif.
3.

Obesitas dan gangguan sistem metabolik.
4. Paparan polusi udara, racun lingkungan, pestisida, hingga radiasi.
5. Kondisi varikokel atau pelebaran pembuluh darah di skrotum.
6.

Penyakit medis tertentu yang disertai demam tinggi.

Penanganan dan Pemeriksaan Kesehatannya

Tingkat fragmentasi DNA sperma dalam beberapa situasi dapat ditekan melalui perbaikan pola hidup dan penanganan medis. Dokter spesialis endokrinologi reproduksi dari Fertility Center of Las Vegas, Dr. Carrie Bedient, membagikan contoh kasus penanganan pasiennya.

Seorang pria dengan kerusakan DNA sperma tingkat sedang diminta menghentikan konsumsi alkohol dan rokok. Pria tersebut juga mulai berolahraga rutin serta mengonsumsi suplemen vitamin.

Setelah enam bulan menjalani perubahan gaya hidup, pasangan pasien tersebut kembali menjalani program pembuahan embrio hingga berhasil melahirkan bayi yang sehat.

ASRM menegaskan bahwa tes fragmentasi DNA sperma bukan prosedur rutin untuk seluruh pasangan. Pemeriksaan ini utamanya dipertimbangkan pada kasus keguguran berulang tanpa penyebab pasti yang disertai masalah infertilitas.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
nadia-fitria-ramadhani
Author