AS dan Iran Saling Klaim Posisi Kuat di Tengah Kebuntuan Konflik

Share

Presiden Amerika Serikat Donald Trump menilai Teheran belum siap membuat kesepakatan untuk mengakhiri konflik di Timur Tengah pada Jumat (21/8/2026), sebagaimana dilansir dari Detikcom. Pernyataan tersebut muncul di tengah kebuntuan perundingan serta aksi saling blokade di Selat Hormuz.

Eskalasi hubungan kedua negara terus meningkat setelah Washington berjanji bakal menerapkan sanksi finansial terberat dalam sejarah demi menggulingkan kepemimpinan Iran. Menteri Keuangan AS Scott Bessent dijadwalkan memberi rincian rencana sanksi pada Senin mendatang setelah Trump memperingatkan tindakan ekonomi bagi penyokong Teheran.

Kawasan Selat Hormuz yang sebelumnya menangani seperlima pasokan minyak dan LNG global sebelum serangan AS dan Israel pada 28 Februari kini mengalami gangguan. Teheran menutup sebagian jalur navigasi tersebut, sementara Washington membalasnya dengan menerapkan blokade laut.

Trump menegaskan posisi pemerintahannya terkait situasi keamanan di jalur perdagangan vital tersebut.

"Ini berarti kita sedang melihat apa yang terjadi," kata Trump.

Pemerintah AS juga mengklaim memegang kendali penuh atas wilayah strategis yang menghubungkan perairan dan daratan di kawasan tersebut.

"Kita memiliki kendali penuh atas seluruh wilayah yang berkaitan dengan Selat Hormuz, dan itu berarti juga wilayah daratannya. Jadi, mereka ingin membuat kesepakatan, tapi menurut pendapat saya, mereka belum siap untuk membuat kesepakatan yang tepat," kata Trump.

Di sisi lain, Presiden Iran Masoud Pezeshkian menegaskan bahwa Teheran berada pada posisi yang lebih unggul dibandingkan Washington untuk mengakhiri perselisihan.

"Lebih baik kita mengakhiri perang ini sekarang karena kita berada dalam posisi yang kuat dan bermartabat," kata Pezeshkian.

Pezeshkian menuding pihak Amerika Serikat telah melanggar hukum internasional selama operasi militer berlangsung.

"Seluruh dunia mengakui kemenangan kita dan menekankan bahwa Amerika telah menyerang sekolah, rumah sakit, dan infrastruktur kita dengan melanggar semua peraturan dan dibenci di seluruh dunia," kata Pezeshkian.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
farhan-dwi-ramadhan
Author