Fanny Ghassani Jalani Program Bayi Tabung Usai 9 Tahun Menikah

Share

Aktris Fanny Ghassani memutuskan untuk menjalani program bayi tabung bersama suaminya, Erwan Agustian Priyambudi, setelah menjalani masa pernikahan selama sembilan tahun. Keputusan tersebut diambil usai keduanya merasa siap secara mental untuk menghadapi proses medis.

Pasangan yang menikah pada 20 Mei 2017 ini sebenarnya telah mengetahui kendala medis untuk hamil sejak tahun pertama pernikahan. Dilansir dari HaiBunda, program bayi tabung tersebut baru mulai dijalani pada 2025 atas inisiatif sang suami.

Dalam perjuangannya mendapatkan momongan, perempuan berusia 35 tahun tersebut menceritakan pentingnya kehadiran dan pembelaan dari pihak suami ketika menghadapi pandangan negatif dari lingkungan sekitar.

"Sempat merasa sendirian? Jujur ada waktu itu. Ya itulah, ada momen di mana aku ngerasa enggak dibelain.

Kalau itu terjadi sekali enggak apa-apa. Tapi ketika itu terjadi menahun, itu jadi luka," kata Fanny.

Ia kemudian menyadari bahwa sebuah hubungan membutuhkan proses belajar sehingga memilih untuk menyampaikan perasaan tersebut secara terbuka kepada suaminya.

"Tapi ya namanya hubungan pasti terus belajar," sambungnya.

Fanny secara tegas meminta dukungan dari sang suami agar bersikap proaktif dan membelanya apabila ada pihak lain yang menghakimi kondisi mereka.

"Aku sampaikan ke suami aku, aku bilang, 'Aku butuh support kamu, aku butuh kamu step up ketika ada orang lain yang berusaha untuk menghakimi aku, karena enggak mungkin aku membela diri sendirian, terus kamunya main HP gitu. Aku butuh kamu di situ'," ungkapnya.

Sikap jujur tersebut membuahkan hasil positif karena sang suami mulai memahami posisi dan kebutuhan emosional istrinya.

"Ya, pelan-pelan suami aku bisa mengerti. Makanya kenapa tadi aku bisa ngomong kalau yang pertama kali tuh sebenarnya suaminya step up buat istrinya biar istrinya enggak depresi dan stres sendirian," tutur Fanny.

Fanny menyoroti fenomena sosial di mana pihak perempuan sering kali menjadi sasaran penyalahan pertama ketika pasangan suami istri belum dikaruniai anak.

"Tapi sebenarnya kalau aku boleh ngomong, mungkin ke suaminya juga ya. Bukan hanya kepada perempuan yang belum bisa mendapatkan anak. Sering kali juga di lingkungan kita itu ketika istri dan suami belum bisa punya anak, itu yang pertama kali ditanyakan dan dicari kesalahannya itu adalah perempuan," ujar Fanny.

Ia menekankan betapa beratnya beban mental yang harus ditanggung seorang istri apabila tidak mendapatkan perlindungan dari keluarga terdekat.

"Bayangkan kalau perempuan itu enggak dapat support dari suaminya dan mertuanya. Disalahkan, 'gara-gara lu nih mandul sih lo', dan tidak ada pembelaan dari suami dan mertua, bayangkan bagaimana depresinya," lanjutnya.

Menurutnya, peran aktif dari suami serta mertua sangat krusial untuk menjaga kesehatan mental perempuan selama menjalani program kehamilan.

"Jadi support sistem itu dibutuhkan, suaminya harus hadir, belain istrinya di depan banyak orang. Mertuanya harus hadir, belain anak mantu di depan banyak orang. jadi enggak ngerasa sendirian," kata Fanny.

Fanny menilai bahwa tekanan psikologis terbesar justru bersumber dari ekspektasi lingkungan sosial serta minimnya empati dari pasangan.

"Sebab, yang bikin depresi menurut aku bukan enggak bisa hamilnya, tapi tapi tuntutan dari orang sekitar dan tidak ada support dari orang sekitar. Kayak, 'Gue dibilang enggak bisa hamil tapi suami gue diam aja atau bahkan ngetawain gue atau nyalahin gue'," sambungnya.

Mengenai keputusan menjalani bayi tabung, pertimbangan kesiapan mental menjadi faktor utama sebelum akhirnya membulatkan tekad pada 2025.

"Sebenarnya dari tahun pertama, kita sudah tahu permasalahannya tuh di mana, dan solusinya seperti apa. Tapi kan untuk mencoba bayi tabung butuh kesiapan mental ya," kata Fanny.

Suaminya kini telah memberikan dukungan penuh dan mengambil langkah nyata dalam mengawal proses medis yang sedang dijalani.

"Suami alhamdulillah, karena ini awal mulanya dia yang inisiatif, kayak 'aku sudah siap'. Akhirnya, karena sudah 10 tahun, (siap)," ungkapnya.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
farhan-dwi-ramadhan
Author