Oman dan Iran Bahas Pembukaan Jalur Kapal di Selat Hormuz
Menteri Luar Negeri Oman Badr Albusaidi dan Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menggelar pembicaraan telepon pada Jumat, 21 Agustus 2026, untuk membahas pemulihan jalur pelayaran komersial di Selat Hormuz yang terganggu akibat konflik Amerika Serikat dan Iran.
Kedua diplomat menekankan pentingnya mencapai kesepahaman praktis guna membuka kembali lalu lintas kapal di kawasan strategis tersebut. Pembicaraan ini melanjutkan kesepakatan koordinat koridor maritim yang sebelumnya diumumkan Teheran dan Muscat pada awal Agustus.
Gangguan navigasi di Selat Hormuz memicu tekanan besar bagi perdagangan global. Lembaga UK Maritime Trade Operations melaporkan pada Jumat bahwa volume lalu lintas kapal komersial yang melintasi jalur tersebut masih anjlok hingga 90 persen dibanding kondisi normal sebelum perang.
Upaya diplomatik kawasan ini berlangsung di tengah frustrasi Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang belum berhasil membuka kembali Selat Hormuz, meskipun Washington telah menerapkan tindakan keras dan blokade militer terhadap kapal-kapal Iran.
Mantan diplomat Amerika Serikat Alan Eyre menilai ketegangan yang meningkat menunjukkan kegagalan Washington dalam mencapai target utamanya. "Pernyataan Trump sepanjang pekan menunjukkan kekecewaan karena tujuan paling mendasar pun belum tercapai, yaitu mengembalikan lalu lintas kapal di Hormuz ke kondisi normal," kata Alan Eyre, mantan perunding nuklir AS.
Di sisi lain, sekutu regional Amerika Serikat di Teluk mulai mencari solusi alternatif untuk menjaga pasokan energi dan perdagangan. Mantan pejabat Luar Negeri AS Daniel Benaim menyebut negara-negara Teluk berusaha memperbanyak opsi diplomasinya.
"Negara-negara tersebut sedang berusaha memperbanyak pilihan agar tidak terguncang jika perang berkembang ke arah yang tidak mereka inginkan," kata Daniel Benaim, mantan Wakil Asisten Menteri Luar Negeri AS.
Eskalasi verbal juga mewarnai perselisihan kedua negara. Trump sempat mengunggah peta yang mengklaim Selat Hormuz sebagai wilayah baru Amerika Serikat. Mengutip laporan CNN, klaim tersebut kemudian mendapat tanggapan sarkastis dari perwakilan diplomasi Rusia.
"Gedung Putih mengkonfirmasi bahwa ancaman untuk menyatakan Selat Hormuz sebagai 'wilayah AS' hanyalah lelucon. Sebuah selera humor yang sangat istimewa," kata Mikhail Ulyanov, Perwakilan Tetap Rusia untuk Organisasi Internasional di Wina.
Pemerintah Iran membalas klaim tersebut melalui akun media sosial Konsulat Jenderal Iran di Hyderabad dengan menandai negara bagian California di peta AS. "Wilayah baru Republik Islam Iran," tulis akun Konsulat Jenderal Iran di Hyderabad.
Selain ketegangan maritim, Iran mengkritik ancaman isolasi ekonomi dari Washington. Menurut laporan AFP dan Reuters, Teheran menilai langkah tersebut sebagai bentuk kegagalan kebijakan luar negeri Amerika Serikat.
"Ancaman terbaru Trump hanyalah upaya untuk mengalihkan opini publik Amerika dari masalah keuangan di dalam negeri, termasuk rekor utang dan kenaikan suku bunga," kata Abbas Araghchi, Menteri Luar Negeri Iran.
Sementara itu, sumber internal Teheran yang dikutip Financial Times melaporkan bahwa militer Iran sedang mempertimbangkan opsi serangan terhadap aset militer Amerika Serikat di kawasan Eropa bagian tenggara apabila konflik terus meluas.