Yoga dan Zumba untuk Kurangi Stres Perempuan Pekerja
Di tengah kesibukan yang tak memberi jeda, banyak perempuan menjalani peran ganda: bekerja di luar rumah sekaligus mengurus rumah tangga. Akumulasi tuntutan itu sering berujung pada stres dan kelelahan mental yang terasa konstan, seolah tak ada ruang untuk memulihkan napas.
Penelitian terbaru mencoba membuka kemungkinan lain: olahraga tertentu yang tidak sekadar menyibukkan tubuh, tetapi juga membantu merawat kondisi psikologis. Di titik inilah yoga dan zumba mulai dibicarakan sebagai jalan yang bisa lebih mudah dijangkau bagi perempuan pekerja.
Olahraga sebagai “apotek alami”
Prof Dr Noortje Anita Kumaat, guru besar Fakultas Ilmu Keolahragaan dan Kesehatan (FIKK) Universitas Negeri Surabaya (Unesa), meneliti olahraga yang dapat menurunkan stres pada perempuan. Dalam penjelasannya, aktivitas fisik dipandang sebagai cara alami untuk mendukung kesehatan mental.
Melalui risetnya, Prof Noortje menganjurkan dua jenis olahraga: yoga dan zumba. Keduanya, menurutnya, bisa menjadi instrumen untuk memulihkan keseimbangan jiwa dan raga, terutama bagi perempuan yang kelelahan karena ritme harian yang padat.
Yoga: ketenangan melalui napas, postur, dan fokus internal
Bagi Prof Noortje, yoga bekerja dengan menata ulang cara seseorang merespons tekanan. Yoga memberikan ketenangan melalui penguasaan diri serta kesadaran (mindfulness) yang dibangun lewat olah napas (pranayama) dan postur (asana).
Dalam penelitiannya, ia menekankan bahwa yoga terbukti bisa menenangkan sistem saraf pusat. Keheningan dan fokus internal kemudian dipandang menghadirkan mekanisme “jeda” untuk membantu me-reset kondisi psikologis seseorang.
Zumba: pelepasan rasa kurang percaya diri lewat gerak ritmis
Sementara itu, perempuan yang mencari cara untuk memulihkan kepercayaan diri dapat menjadikan zumba sebagai opsi lain. Prof Noortje menggambarkan zumba dengan pendekatan ritmik-eksplosif dan suasana yang menyenangkan, sehingga membantu peserta melepaskan rasa kurang percaya diri.
Gerakan energik dalam zumba disebut bisa memicu pelepasan endorfin secara masif. Proses ini tidak berhenti pada nilai estetika semata, melainkan memberi penghargaan pada fungsi tubuh perempuan—sebagai sesuatu yang bisa lebih lincah dan indah.
Meningkatkan harga diri dalam jangka panjang
Lebih dari sekadar merasa lebih baik setelah berolahraga, riset yang dilakukan juga menyoroti dampak jangka panjang. Yoga dan zumba, menurut temuan studi, secara signifikan mampu meningkatkan harga diri dalam jangka panjang.
Studi tersebut juga menegaskan bahwa bergerak merupakan obat yang paling ampuh untuk melawan gaya hidup kurang gerak (sedentary lifestyle). Dengan begitu, olahraga bukan hanya aktivitas sesaat, tetapi bagian dari strategi untuk menjaga kualitas mental dan tubuh.
Dalam kerangka itu, perempuan diharapkan dapat kembali menemukan rasa berharganya di tengah dinamika zaman yang menantang. Perpaduan gerakan dan jiwa menjadi cara untuk membangun kembali keyakinan pada diri sendiri.
“Tidak ada satu obat ajaib untuk semua”
Di akhir penjelasannya, Prof Noortje mengingatkan bahwa pilihan olahraga tidak bisa diseragamkan. “Tidak ada 'satu obat ajaib untuk semua'. Efektivitas olahraga bersifat personal. Yoga bekerja melalui jalur penenangan (calming), sementara Zumba bekerja melalui jalur pembangkitan semangat (uplifting). Keduanya valid, keduanya ilmiah, das keduanya sangat dibutuhkan,” tegasnya, Prof Dr Noortje Anita Kumaat.
Pesan itu seolah menegaskan bahwa pemulihan tidak selalu lahir dari satu jenis latihan yang sama untuk semua orang. Ada yang lebih terbantu oleh ketenangan yang dibangun melalui napas dan fokus internal, ada pula yang bangkit dari energi gerak ritmis yang memancing suasana hati.
Rekomendasi berbasis studi
Riset tersebut menggunakan studi ilmiah terhadap 159 perempuan pekerja di Indonesia. Dari sana, yoga dan zumba direkomendasikan sebagai dua bentuk olahraga yang dapat digunakan untuk memulihkan keseimbangan jiwa dan raga, sekaligus memperkuat harga diri.
Dengan kerangka tersebut, perempuan pekerja bisa menempatkan olahraga bukan sebagai beban tambahan, melainkan sebagai ruang untuk kembali menyelaraskan tubuh dan pikiran—ketika tuntutan harian sudah terlalu panjang dan rasa lelah terasa mengendap.