Kamera Pengawas Flock Picu Penolakan dan Pembatalan di AS
Kamera pengawas dengan teknologi pengenal plat nomor milik Flock Safety memicu penolakan luas dan pembatalan transaksi properti di Amerika Serikat (AS) akibat kekhawatiran privasi warga.
Lebih dari 200 asosiasi pemilik rumah (HOA) di AS telah memasang kamera Flock, yang menggunakan sistem cloud untuk menyimpan data kendaraan yang melintas, termasuk nomor pelat, merek, dan warna. Namun, sistem ini menyebabkan calon pembeli rumah batal melanjutkan transaksi setelah mengetahui keberadaan kamera tersebut di lingkungan perumahan.
Seorang broker properti di forum Reddit mengungkapkan, "Baru saja ada pembeli yang membatalkan kunjungan karena HOA memiliki kamera Flock di kedua pintu masuk, termasuk salah satunya di dekat kolam renang," ujarnya. Ia memastikan kejadian itu benar-benar dialami saat menjadwalkan kunjungan.
Penolakan serupa muncul di Saranac Lake, New York, di mana warga mengkritik mudahnya akses data kendaraan oleh banyak pihak. "Masalah yang saya miliki bukan dengan kamera keamanan. Masalahnya langsung dengan sistem Flock.
Siapa pun dan ibunya bisa dengan mudah mengakses database ini. Cara data tersebut dibagikan dengan begitu mudah benar-benar tidak konstitusional," kata seorang warga kepada New York Post.
Sandra Kalinowski, warga setempat, menyatakan, "Kamera-kamera ini tidak akan membuat kita aman." David Lynch bahkan mendesak pencabutan kamera dalam rapat dewan kota. "Pertama, saya percaya kamera-kamera ini saat ini melanggar kebijakan Departemen Kepolisian Saranac Lake.
Kedua, saya percaya publik telah disesatkan mengenai akses Flock terhadap data kita. Permintaan saya malam ini adalah agar kamera-kamera ini dicabut," ujarnya.
Dewan kota Saranac Lake akhirnya memilih memutus kontrak dengan Flock dengan suara 4-1. Aurora White, anggota dewan, mengatakan, "Kami tidak memiliki keahlian untuk menjadi pengelola data ini dengan baik."
Di Wisconsin, pembatalan kontrak senilai 18.000 dolar AS juga terjadi setelah akses jaringan kamera Flock berkurang drastis akibat hilangnya dana. Kepala Polisi McFarland Brian Redman berkata, "Setelah Dane County kehilangan pendanaan untuk Flock, kami kehilangan sekitar setengah dari potensi jaringan kamera di dalam Dane County. Saya harus bertanya, apakah kami masih akan mendapatkan pengembalian investasi dengan kerugian itu? Dengan jaringan yang terus terkikis, jawabannya tidak."
Selain penolakan, Flock Safety menghadapi kritik atas 50 kasus penyalahgunaan sistem untuk penguntitan dan pelecehan yang diungkap The Washington Post. Meski sistem diperbarui dengan persyaratan pengisian nomor kasus kriminal, celah pengawasan masih terbuka karena tidak ada verifikasi langsung dari kepolisian.
Di tengah kontroversi ini, Flock Safety memperluas bisnis dengan meluncurkan program Drone as First Responder (DFR), drone dengan kamera pemindai plat nomor dari jarak hingga 2.000 kaki. CEO Flock Garrett Langley menyebut program ini sebagai unit bisnis dengan pertumbuhan tercepat perusahaan.
Drone dapat terbang di ketinggian 400 kaki dengan kecepatan hingga 60 mph dan diluncurkan dari atap kantor polisi atau stasiun pemadam kebakaran untuk merespons panggilan darurat. Langley menyatakan, "Biasanya yang terjadi adalah satu polisi mendengar laporan, menyalakan lampu biru, dan melaju ke lokasi… dan seseorang hampir meninggal. Namun kini, mereka meluncurkan drone."
Program ini telah menarik 200 pelanggan termasuk kepolisian dan perusahaan swasta. Namun, kelompok hak digital Electronic Frontier Foundation (EFF) memperingatkan bahwa lebih dari 1.000 lembaga keamanan publik telah mendapat izin FAA untuk operasi drone otomatis, yang dapat merekam area privat seperti halaman belakang dan atap rumah tanpa disadari warga.
EFF menyatakan, "Drone dapat dengan mudah mengambil rekaman dari area yang biasanya tidak dapat diakses oleh petugas patroli biasa—halaman belakang, atap, melalui jendela—pada jarak yang membuat subjek pengawasan tidak menyadari keberadaan mata-mata di langit."