Kebakaran Hutan Kalimantan Sulit Dipadamkan Akibat Lahan Gambut
Kebakaran hutan kembali melanda wilayah Kalimantan pada akhir Agustus. Kondisi ini memicu kekhawatiran karena penanganan api di kawasan vegetasi tersebut kerap menghadapi kendala besar, seperti dilansir dari Detikcom.
Berdasarkan catatan sejarah, peristiwa serupa dengan skala terparah terjadi saat fenomena El Nino pada 1997. Bencana tersebut melahap lahan gambut di Kalimantan dan Sumatera hingga mencakup area lebih dari 9 juta hektare.
Gelombang kebakaran hutan berulang kembali mencatatkan rekor pada 2006, 2013, serta 2015. Bencana pada 2015 bahkan merusak 2,6 juta hektare lahan dan mengakibatkan puluhan korban jiwa.
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyebutkan bahwa mayoritas titik api muncul akibat ulah manusia, terutama aktivitas pembukaan lahan. Begitu kobaran membakar kawasan hutan, upaya pemadaman langsung menghadapi hambatan berat.
Lahan gambut menjadi pemicu utama sulitnya penjinakan api. Kobaran dapat merembet hingga bawah permukaan tanah, bertahan dalam jangka waktu lama, dan sukar dipadamkan total.
Faktor iklim turut memperburuk situasi. Periode kemarau yang memanjang mempercepat penyebaran titik api ke wilayah sekitarnya.
Keterlambatan deteksi awal juga memperkeruh keadaan. Petugas kerap baru mengidentifikasi titik api setelah beberapa jam atau hari, saat skala kebakaran sudah terlanjur membesar.
Topografi wilayah juga memegang peranan penting. Penasihat Teknis Komisi Kehutanan, Rob Gazzard, menjelaskan dalam BBC News bahwa kemiringan lahan 10 persen mampu melipatgandakan kecepatan perambatan api. Lahan dengan kecuraman 20 persen bahkan mempercepat penyebaran hingga empat kali lipat.
Dampak Buruk Asap Kebakaran Hutan
Dampak bencana ini tidak hanya merusak mata akibat paparan asap. Kebakaran hutan kerap memusnahkan harta benda, hewan ternak, hingga merenggut nyawa manusia.
World Health Organization (WHO) melalui laman resminya memaparkan bahwa paparan asap kebakaran hutan dapat mengganggu kesehatan fisik secara serius.
Ancaman penyakit tersebut mencakup gangguan paru-paru, penyakit jantung, kerusakan otak atau sistem saraf, hingga penurunan fungsi kognitif dan kehilangan memori.
WHO juga menambahkan bahwa asap tersebut memicu luka bakar, memperburuk organ usus, ginjal, dan hati, serta menyebabkan infeksi saluran pernapasan atas hingga gangguan mata.