AS Desak Sekutu Tingkatkan Tekanan Ekonomi Terhadap Iran
Pemerintah Amerika Serikat mengeluarkan peringatan kepada negara-negara sekutu dan Cina untuk bergabung dalam kampanye tekanan ekonomi baru terhadap Teheran pada Kamis (20/08), sebagaimana dilansir dari Detikcom. Pihak yang menolak mendukung kebijakan tersebut bakal menghadapi konsekuensi tegas dari Washington.
Menteri Keuangan AS Scott Bessent menyatakan bahwa pemerintahannya tengah menyiapkan langkah pengetatan sanksi guna memperlemah rezim Iran.
"Ini akan menjadi isolasi ekonomi terkoordinasi terbesar dalam sejarah dunia. Dan kami akan mendatangi mereka dan mengatakan: kalian harus memilih, bersama kami atau melawan kami," kata Bessent kepada stasiun televisi CNBC.
Terkait tanggapan mengenai potensi tekanan terhadap Beijing, Washington enggan menjelaskan langkah detailnya secara terbuka, namun tetap meminta partisipasi dari pemerintah Cina.
"Banyak pembicaraan sebaiknya dilakukan secara tertutup," katanya, seraya menyerukan kepada Beijing "untuk ikut serta dalam program ini."
Bessent mengingatkan seluruh sekutu agar segera menentukan sikap politis mereka terkait sanksi baru tersebut.
"Jadi, inilah saatnya bagi sekutu-sekutu kami dan seluruh dunia untuk mengambil keputusan, dan kami akan menghancurkan perekonomian rezim pembunuh ini, yang pada akhirnya akan membatasi kemampuan mereka untuk memproyeksikan kekuatan melalui para proxy mereka," katanya.
AS terus memperketat sanksi sejak Presiden Donald Trump memulai konfrontasi pada akhir Februari, meski Teheran masih mampu bertahan.
"Kami akan menghancurkan rezim ini," kata dia.
Peningkatan skema tekanan ekonomi ini juga ditujukan untuk meminimalisasi potensi pengerahan aksi militer tambahan.
"Jika kita menerapkan tekanan ekonomi maksimal, itu berarti kemungkinan besar tidak akan ada dimulainya kembali aksi militer berskala besar, tetapi saya ingin menekankan bahwa itu hanya untuk saat ini," katanya.
Rincian mendalam mengenai program isolasi ekonomi ini bakal dipaparkan secara resmi dalam waktu dekat.
"Saya pikir pasar minyak salah menafsirkan arti dari tekanan ekonomi ini," kata Bessent.
Pergerakan harga minyak global mencatatkan lonjakan hingga menyentuh level tertinggi dalam tiga pekan terakhir pada Kamis (20/08).
"Kami memiliki informasi yang asimetris, dan saya tidak yakin mengapa harga minyak melonjak karena hal ini. Jika kami menerapkan tekanan ekonomi maksimal, itu berarti kemungkinan besar tidak akan ada dimulainya kembali aksi militer berskala besar," katanya.
Mengenai dampak bisnis Cina di wilayah Teluk, AS menekankan pentingnya stabilitas jalur pasokan energi dunia.
"Kami yakin bahwa semua pihak menginginkan Selat (Hormuz) dibuka kembali, dan agar harga energi kembali turun," katanya. "Perlu diingat bahwa Cina memperoleh 50% energinya dari wilayah Teluk. Jadi, akan sangat menguntungkan bagi mereka jika ikut bergabung dalam program ini."
Pemerintah Cina menilai sanksi ekonomi bukan solusi efektif untuk menyelesaikan konflik yang sedang berlangsung.
"Mengenai masalah Iran, sanksi dan tekanan tidak membantu menyelesaikan masalah. Cina menyerukan kepada pihak-pihak terkait untuk mengambil tindakan yang bertanggung jawab dan menyelesaikan masalah ini melalui cara-cara politik dan diplomatik," katanya berdasarkan laporan Reuters.
Data Kpler 2025 mencatat Cina membeli lebih dari 80% ekspor minyak Iran. Sementara itu, Menlu Iran Abbas Araqchi menilai manuver AS sekadar pengalihan isu atas melonjaknya utang federal AS yang menembus rekor US$40 triliun pada Rabu (19/08).
Di sisi lain, data Pentagon mencatat 757 prajurit AS mengalami luka-luka sejak konflik militer dimulai akhir Februari, dengan mayoritas menderita cedera otak traumatis selama Operasi Epic Fury dan Operasi Luar Negeri.