ITB mengungkap industri dan transportasi jadi sumber polusi Jabodetabek
Institut Teknologi Bandung mengkaji sumber polusi udara di wilayah Jabodetabek dan menemukan kontribusi utama berasal dari sektor industri dan transportasi, bukan satu sektor atau satu daerah saja. Studi ini menggunakan inventarisasi emisi dan source apportionment berbasis pemantauan selama 2025.
Dilansir dari Detikcom, pengukuran dilakukan dengan memantau dan menganalisis sampel PM2.5 di Jakarta Barat yang kemudian digunakan untuk mengidentifikasi jenis sumber serta persentase kontribusinya melalui source apportionment. Pengumpulan data berlangsung dari Februari hingga Desember 2025.
Dilansir dari Detikcom, analisis sampel PM2.5 menunjukkan rata-rata konsentrasi PM2.5 sebesar 34,1 μg/m³. Nilai tersebut jauh melebihi baku mutu PM2.5 tahunan dalam Peraturan Pemerintah Nomor 22/2021 yang menetapkan 15 μg/m3 dan US-EPA sebesar 9 μg/m3, atau sekitar 6,8 kali pedoman tahunan World Health Organization sebesar 5 μg/m3.
Dilansir dari Detikcom, Guru Besar Teknik Lingkungan ITB Prof. Ir. Puji Lestari menjelaskan studi menggunakan dua pendekatan agar sumber pencemaran bisa dikenali secara kuantitatif.
Kita sudah melakukan pemantauan selama satu tahun, yaitu pada tahun 2025. Termasuk yang terbaru karena dilakukan dari Februari sampai Desember 2025. Berdasarkan komposisi kimia tersebut, kita bisa mengidentifikasi sumbernya apa dan berapa persen kontribusinya melalui source apportionment, ujar Prof. Puji, Guru Besar Teknik Lingkungan ITB.
Dilansir dari Detikcom, menurut Prof. Puji, sektor industri dan transportasi menjadi kontributor utama terhadap polusi udara di Jabodetabek, dengan profil yang berbeda antarwilayah di kawasan tersebut.
Jadi, kalau di Jabodetabek, sektor industri merupakan penyumbang pertama, kemudian transportasi, baru pembangkit. Ini berbeda dengan Jakarta. Kalau di Jakarta, sektor transportasi merupakan yang paling besar, kemudian industri, dan baru pembangkit.
Jadi, terdapat perbedaan antara profil sumber di Jabodetabek secara keseluruhan dengan Jakarta, ujar Prof. Puji, Guru Besar Teknik Lingkungan ITB.
Dilansir dari Detikcom, Southeast Asia Director ITDP Gonggomtua Sitanggang menilai pengendalian emisi dari sektor transportasi perlu dilakukan melalui perbaikan transportasi publik dan perubahan perilaku penggunaan kendaraan pribadi.
Polusi tidak mengenal batas administrasi, transportasi juga tidak mengenal batas administrasi. Maka dari itu, diperlukan integrasi kelembagaan untuk transportasi juga, kata Gonggomtua, Southeast Asia Director ITDP.
Dilansir dari Detikcom, temuan sektor menunjukkan transportasi menjadi sumber dominan di Jakarta dan sejumlah kota penyangga. Industri dominan di Kabupaten Bogor dan Kota Tangerang, sedangkan pembangkit listrik dominan di Kabupaten Bekasi dan Kabupaten Tangerang.
Dilansir dari Detikcom, pada sektor transportasi di Jakarta, kendaraan berbahan bakar diesel menyumbang emisi PM2.5 tertinggi. Truk berkontribusi 34,96% emisi PM2.5, disusul mobil penumpang diesel 21,21%, sehingga pengendalian perlu diarahkan pada sumber dan polutan paling relevan.