Jepang Eksekusi Mati Terpidana Pembakaran Arena Pachinko Osaka
Otoritas Jepang mengeksekusi mati Sunao Takami, terpidana kasus pembakaran arena permainan pachinko di Osaka yang menewaskan lima orang pada tahun 2009, pada Jumat (21/8/2026). Pelaksanaan eksekusi hukuman gantung tersebut dilansir dari Detikcom melalui laporan AFP. Takami menerima hukuman mati usai terbukti menyiramkan bensin dan membakar lokasi permainan dekat rumahnya.
Aksi pembakaran tersebut menyebabkan empat pelanggan serta satu orang karyawan arena permainan meninggal dunia. Pelaksanaan hukuman mati Takami menjadi eksekusi gantung pertama di Jepang sejak eksekusi Takahiro Shiraishi pada Juni 2025. Shiraishi yang dijuluki 'Twitter killer' sebelumnya divonis mati akibat pembunuhan dan mutilasi terhadap sembilan orang.
Jepang bersama Amerika Serikat tercatat sebagai dua negara anggota G7 yang masih mempertahankan kebijakan hukuman mati. Hasil survei pemerintah tahun 2024 menunjukkan sebanyak 83 persen responden menganggap hukuman mati tidak dapat dihindari, sementara dukungan untuk penghapusan hukuman mati naik menjadi 17 persen.
Sistem eksekusi di Jepang menuai kritikan luas karena terpidana umumnya baru menerima pemberitahuan pada pagi hari saat eksekusi dilaksanakan. Regulasi setempat menetapkan eksekusi mestinya berjalan dalam enam bulan setelah putusan akhir, tetapi mayoritas terpidana harus menunggu hingga puluhan tahun di sel isolasi. Pemerintah Jepang juga menghadapi kritik terkait transparansi karena baru mengumumkan nama terpidana eksekusi sejak tahun 2007.
Laporan Kementerian Kehakiman Jepang mencatat ada satu eksekusi pada 2022, tiga eksekusi pada 2021 dan 2019, serta 15 eksekusi pada 2018. Saat ini, sekitar 100 terpidana masih menunggu antrean eksekusi mati.