Harga Minyak Dunia Melonjak Akibat Eskalasi Konflik AS dan Iran
Eskalasi konflik antara Amerika Serikat dan Iran memicu lonjakan harga minyak mentah global lebih dari 7 hingga 8 persen dalam sepekan terakhir akibat kekhawatiran gangguan pasokan dari Timur Tengah, sebagaimana dilansir dari Detik Finance pada Jumat (21/8/2026).
Pada awal perdagangan Jumat, harga minyak mentah Brent berjangka menguat 4 sen menjadi US$ 93,82 per barel setelah sehari sebelumnya naik 2,4 persen. Sementara minyak West Texas Intermediate (WTI) AS terkoreksi tipis 6 sen ke level US$ 86,78 per barel usai menguat 2,3 persen pada hari sebelumnya.
Kenaikan harga mendadak ini membawa minyak Brent dan WTI menyentuh level tertinggi sejak 24 Juli lalu. Pasar merespons negatif berakhirnya kesepakatan damai pekan ini tanpa adanya tanda-tanda perundingan lanjutan antara kedua negara.
Kecemasan investor berfokus pada potensi penekanan produksi dari produsen utama kawasan Teluk seperti Arab Saudi, Irak, Uni Emirat Arab (UEA), dan Kuwait jika peperangan tak kunjung mereda.
Kondisi pasar kian diperberat oleh ancaman sanksi ekonomi dari Presiden AS Donald Trump terhadap negara-negara penopang Iran. Pada Rabu (19/8) malam, Trump menegaskan akan memberlakukan isolasi skala besar dan memberi peringatan keras bagi pihak yang memberikan bantuan kepada Teheran.
Analis pasar keuangan memberikan pandangannya terkait situasi ketegangan yang menahan pergerakan pasokan energi global tersebut.
"Kedua pihak masih bertahan pada posisinya masing-masing, tetapi tidak memiliki kemewahan waktu untuk sekadar menunggu, sementara harga minyak mentah terus naik tanpa henti," kata Analis IG, Tony Sycamore.
Ketegangan regional tercatat semakin memburuk setelah UEA menghentikan seluruh transaksi keuangan dan ekonomi dengan Iran tanpa batas waktu yang ditentukan. Di saat yang sama, lalu lintas pengiriman energi di Selat Hormuz pada Rabu (19/8) hanya mencatatkan sembilan kapal melintas, jauh di bawah rata-rata normal sebelum konflik pecah.