Karhutla Meluas di Kalimantan Ganggu Udara Malaysia dan Sekolah Ditutup
Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan menyebabkan ribuan titik panas dan kabut asap pekat yang mengganggu kualitas udara hingga negara tetangga Malaysia. Akibatnya, 108 sekolah di Sarawak, Malaysia, ditutup sementara untuk melindungi kesehatan siswa, menurut Komite Manajemen Bencana Sarawak (JPBN).
Menurut JPBN, kualitas udara di Sarawak memburuk sejak awal Agustus dengan indeks pencemaran udara (API) mencapai kategori sangat tidak sehat di beberapa wilayah. Tebedu mencatat API 212 dan Serian 202, sementara 11 wilayah lain berkategori tidak sehat. Masyarakat dianjurkan membatasi aktivitas luar ruangan terutama kelompok rentan seperti anak-anak dan lansia.
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat 1.487 titik panas tersebar di Kalimantan, dengan konsentrasi tertinggi di Kalimantan Tengah sebanyak 767 titik. Kalimantan Barat menyusul dengan 560 titik. Pemerintah terus melakukan koordinasi untuk mencegah meluasnya karhutla dengan pemantauan dan kesiapsiagaan lintas sektor.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kalimantan Timur mencatat 413 titik karhutla dengan total lahan terbakar mencapai 936,95 hektare. Kabupaten Kutai Barat menjadi wilayah dengan lahan terbakar terluas, yaitu 269,34 hektare dari 70 titik kejadian. Kabupaten Paser memiliki jumlah titik karhutla terbanyak sebanyak 85 titik.
Plh Kabid Kedaruratan dan Logistik BPBD Kaltim, Sugeng Priyanto, menyebut karhutla juga melanda wilayah Berau, Kutai Timur, dan Kutai Kartanegara. Meskipun ada perbedaan luas dan skala kebakaran, seluruh wilayah terdampak karhutla, katanya.
Wakil Ketua Komisi IV DPR RI Alex Indra Lukman mendesak pemerintah menjadikan penanganan karhutla di Kalimantan sebagai prioritas nasional. Ia mengingatkan bencana karhutla akibat El Nino pada 1997-1998 yang melanda lebih dari 9 juta hektare lahan dan menjadi bencana lingkungan terbesar Asia Tenggara abad ke-20.
"Saat ini karhutla berdampak pada kesehatan, pendidikan, transportasi, dan ekonomi. Cuaca kering akibat El Nino memperparah kondisi," ujar Alex.
Alex merinci data BNPB per 19 Agustus yang menunjukkan 1.487 titik panas di Kalimantan dengan episentrum di Kalimantan Tengah. Ia juga menyebutkan Kabupaten Kotawaringin Barat memperpanjang status tanggap darurat hingga 4 September 2026 karena kebakaran hebat di Kecamatan Arut Selatan dan Kumai.
"Data MapBiomas Fire menunjukkan puncak kebakaran terjadi pada September hingga November, terutama Oktober. Ini menjadi peringatan agar metode penanganan dievaluasi secara total," katanya.
Alex menegaskan perlunya penguatan deteksi dini, patroli wilayah rawan, peningkatan akurasi sistem peringatan dini berbasis satelit, dan perluasan program Desa Peduli Api serta pelatihan pembukaan lahan tanpa bakar.
Kondisi kualitas udara di Palangka Raya pada 19 Agustus mencapai indeks 487, kategori berbahaya, dengan visibilitas hanya 1,4 kilometer. Kabut asap juga mempengaruhi penundaan jam masuk sekolah di Banjarbaru, Kalimantan Selatan.
Seruan "Pray for Kalimantan" mengemuka di media sosial seiring banyaknya titik panas yang terdeteksi oleh BMKG dan BNPB. BMKG mencatat 1.106 titik panas di Kalimantan pada 20 Agustus, dengan Kalimantan Barat dan Tengah sebagai wilayah dengan konsentrasi tertinggi.
Kondisi kering akibat fenomena El Nino meningkatkan risiko karhutla, terutama di Kalimantan Barat dan Tengah, di mana musim kemarau sudah berlangsung. Partikel PM2.5 dari asap menjadi ancaman serius bagi kesehatan, terutama bagi anak-anak dan kelompok rentan.