Harga Minyak Dunia Naik ke Level Tertinggi Sejak Juli Imbas Ketegangan AS-Iran
Harga minyak dunia kembali melonjak ke level tertinggi dalam hampir sebulan, mencapai US$93,82 per barel pada perdagangan Jumat pagi WIB 21 Agustus 2026, terdorong oleh ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran serta gangguan pasokan minyak dari kawasan Timur Tengah. Harga minyak mentah Brent naik 2,16 dollar AS atau 2,4 persen menjadi 93,78 dollar AS per barel, mencapai level tertinggi sejak 24 Juli 2026, sementara minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS naik 2 dollar AS atau 2,3 persen menjadi 87,83 dollar AS per barel, menurut Reuters. Presiden AS Donald Trump mengancam akan melancarkan "perang ekonomi dan isolasi dalam skala yang belum pernah terjadi sebelumnya" terhadap Iran dan memperingatkan konsekuensi bagi negara yang memberikan bantuan kepada Iran.
"Kedua pihak masih bertahan pada posisinya masing-masing, tetapi tidak memiliki kemewahan waktu untuk sekadar menunggu, sementara harga minyak mentah terus bergerak naik," ujar Analis IG Tony Sycamore.
Ancaman tersebut menambah kekhawatiran pasar di tengah perang yang telah berlangsung sejak 28 Februari 2026, yang menyebabkan blokade Iran terhadap Selat Hormuz serta serangan terhadap fasilitas energi di Timur Tengah sehingga mengganggu aliran minyak dan gas global. Menteri Keuangan AS Scott Bessent akan menggelar konferensi pers pada Senin untuk menjelaskan langkah pemerintah AS terkait situasi ini, menurut Kompas.com.
Uni Emirat Arab (UEA) menghentikan seluruh transaksi keuangan dan ekonomi dengan Iran hingga pemberitahuan lebih lanjut, memperlihatkan memburuknya hubungan antara produsen minyak utama Teluk Arab dengan Tehran, yang semakin menambah ketidakpastian di pasar. Ritterbusch and Associates menilai ancaman AS belum tentu memaksa Iran menyerahkan kendali Selat Hormuz kecuali ada konsesi besar dari AS, dan belum terlihat penyelesaian konflik yang dapat menurunkan harga minyak mendekati level sebelum perang.
Data pelayaran terbaru menunjukkan jumlah kapal yang melintas di Selat Hormuz pada Rabu tidak berubah dan masih jauh di bawah level sebelum konflik, yang sebelumnya merupakan jalur pengiriman minyak setara seperlima konsumsi global. Selain itu, laporan Energy Information Administration (EIA) menunjukkan persediaan bahan bakar distilat di AS turun selama tiga pekan berturut-turut, sementara stok minyak mentah AS naik 4,4 juta barel pekan lalu, yang berpotensi menekan laju kenaikan harga minyak.