Karhutla Kalimantan Meluas hingga Ancam Penerbangan dan Kesehatan

Share

Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di wilayah Kalimantan terus meluas hingga mencatatkan 1.487 titik panas dan memicu kabut asap pekat yang mengganggu jadwal penerbangan serta mengancam kesehatan masyarakat pada Kamis (20/8/2026).

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat konsentrasi titik panas tertinggi berada di Kalimantan Tengah sebanyak 767 titik dan Kalimantan Barat 560 titik. Sementara Kalimantan Selatan dan Kalimantan Timur masing-masing terdeteksi 74 titik, serta Kalimantan Utara 3 titik.

"BNPB bersama pemerintah daerah melakukan pemantauan perkembangan titik panas, pemetaan wilayah rawan, serta koordinasi untuk menentukan langkah penanganan berdasarkan kondisi di lapangan," kata Berton SP Panjaitan, Plt Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB.

Hasil pemantauan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) per 19 Agustus 2026 turut menetapkan Kalimantan Barat, Kalimantan Timur, Kalimantan Tengah, dan Papua Selatan sebagai wilayah prioritas penanganan karhutla. Cuaca kering diproyeksikan masih berlangsung seiring minimnya pertumbuhan awan hujan.

"Terkait dengan analisis titik panas untuk update 19 Agustus, ada empat provinsi yang menjadi prioritas. Yang pertama Kalimantan Barat, kebetulan jumlah hotspot-nya paling banyak. Kemudian Kalimantan Tengah, selanjutnya Papua Selatan dan juga Kalimantan Timur," ujar Teuku Faisal Fathani, Kepala BMKG.

Pemerintah menyiapkan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) untuk mengatasi kekeringan, namun terkendala ketersediaan awan di wilayah tertentu.

"Dan dari catatan kami, bahwa untuk Kalimantan Barat ada potensi OMC pada tanggal 23 sampai 27 Agustus, sehingga nanti akan kami optimalkan untuk pelaksanaan operasi modifikasi cuaca. Yang menjadi masalah adalah Kalimantan Tengah, karena sampai akhir Agustus tidak ada potensi awan hujan yang dapat kita semai menjadi hujan di sana," imbuhnya.

Dampak kabut asap karhutla di lapangan sudah mengganggu aktivitas transportasi udara di Bandara Syamsudin Noor, Kalimantan Selatan. Parlemen mendesak penguatan komando penanganan lintas instansi agar pemadaman api dapat berjalan responsif.

"Penanganan tidak boleh baru masif setelah asap mengganggu penerbangan dan membahayakan kesehatan masyarakat," kata Johan Rosihan, Anggota Komisi IV DPR.

Johan menyoroti lambatnya koordinasi penanganan di lapangan yang dipicu oleh belum optimalnya kewenangan tunggal dalam menggerakkan sumber daya.

"Salah satu persoalannya adalah belum kuatnya komando tunggal kebencanaan yang memiliki kewenangan jelas untuk menggerakkan seluruh sumber daya lintas instansi," ucapnya.

Evaluasi terhadap tata kelola pencegahan serta kesiapan sarana pemadaman dinilai perlu dilakukan secara menyeluruh.

"Kabut asap yang terus berulang menandakan bahwa persoalannya bukan sekadar cuaca, tetapi juga kelemahan tata kelola pencegahan dan koordinasi penanganan karhutla," ujarnya.

Di Kota Banjarbaru, Kalimantan Selatan, BPBD mencatat luas lahan terbakar mencapai 969 hektare hingga Kamis (20/8/2026). Kebakaran melalap kawasan gambut serta perkebunan warga di Landasan Ulin Utara akibat tiupan angin kencang dan minimnya sumber air.

“Lahan semi gambut dan gambut. Tiga hari terakhir memang ada eskalasi-eskalasi kebakaran yang lumayan berakibat kepada peningkatan adanya kabut asap,” ujar Zaini, Kepala BPBD Kota Banjarbaru.

Kondisi air yang menyusut memaksa tim pemadam mengandalkan pasokan armada tangki.

"Itu juga sangat mengganggu dalam hal aktivitas. Karena membatasi jarak pandang dan kemudian membuat susah bernapas,” ujarnya.

Petugas di lapangan juga mengeluhkan kendala fisik berupa sulitnya menjangkau titik api utama secara langsung.

“Sehingga kita bergantung sepenuhnya kepada tangki-tangki, ini yang yang yang menjadi perhatian kita,” terangnya.

Akses jalan yang sempit membuat kendaraan penyuplai air berukuran besar terhambat mendekati area kebakaran perkebunan.

"Selain membakar lahan, api juga sudah membakar kebun pisang milik warga. Titik air menjadi kendala kami untuk memadamkan dengan cepat,” ujar Abas, Anggota BPBD Kota Banjarbaru.

Kondisi geografis lokasi kejadian membatasi ruang gerak pemadaman darat.

“Akses sangat kecil, karena itu mobil besar penyuplai air kesulitan masuk ke sini,” katanya.

Warga lokal yang berprofesi sebagai petani mengekspresikan kekhawatiran atas keselamatan lahan pertanian mereka.

“Kalau tidak segera dipadamkan, takutnya api sampai ke kebun saya,” kata Eka, seorang petani.

Kecemasan warga meningkat mengingat potensi kemunculan titik api dapat terjadi sewaktu-waktu.

“Takutnya saat kami balik, api kembali menyala,” ungkapnya.

Di Palangka Raya, Kalimantan Tengah, Air Quality Index (AQI) sempat menyentuh angka 487 pada 19 Agustus 2026, yang tergolong dalam kategori berbahaya. Sementara konsentrasi partikel PM2.5 di Banjarbaru tercatat mencapai 389,4 mikrogram per meter kubik.

"Yang pertama untuk karhutla, banyak partikel-partikel, istilahnya PM2.5. Itu banyak bertebaran di udara dan itu sangat mengganggu paru-paru kita, pernapasan kita, banyak penyakit pernapasan seperti infeksi saluran pernapasan akut (ISPA),” jelas Budi Gunadi Sadikin, Menteri Kesehatan.

Guna meminimalkan risiko gangguan pernapasan, penggunaan perlindungan diri disarankan saat beraktivitas di luar ruangan.

“Cara yang paling gampang adalah pakai masker. Kita sudah biasa waktu Covid. Secara paling gampang mencegahnya adalah begitu kita lihat kebakaran hutan, bisa kelihatan langitnya nggak biru kayak gini, pasti gelap. Itu lebih baik pakai masker,” jelasnya.

Masyarakat mengimbau agar terus memantau indikator pencemaran udara melalui sarana digital secara berkala.

“Dan sekarang banyak indikator kita bisa lihat di apps, kualitas udaranya. Kita bisa lihat dan paling mudah, sekali lagi, pakai masker,” pungkas Budi.

Kementerian Kesehatan menginstruksikan penerapan pola hidup bersih dan penanganan medis cepat bagi warga yang mengalami gejala infeksi pernapasan.

"Konsumsi makanan bergizi, cuci tangan pakai air dan sabun, istirahat cukup, dan hindari merokok untuk menjaga daya tahan tubuh," ujar Aji Muhawarman, Kepala Biro Komunikasi dan Informasi Publik Kemenkes.

Masyarakat diminta langsung berkonsultasi ke layanan kesehatan jika mengalami keluhan fisik serius.

"Jangan menunda berobat bila mengalami batuk yang tidak membaik, sesak napas, demam tinggi, nyeri dada, atau keluhan lain yang mengganggu, terutama pada kelompok berisiko," ucap dia.

Guna menopang fasilitas kesehatan daerah, Kementerian Kesehatan telah mengirimkan logistik bantuan berupa 267.630 masker, 54 unit Oxygen Concentrator, 36 tabung oxycan, 1.000 pasang handscoon, 40 face shield, serta paket obat-obatan dan APD ke wilayah terdampak karhutla.

"Ya itu dibagikan ke wilayah terdampak. Mereka (Dinas Kesehatan) sudah siapkan tenaga dan logistik yang diperlukan," ucap Aji.

Eskalasi karhutla ini juga memicu simpati luas di media sosial melalui seruan Pray for Kalimantan yang membagikan citra satelit pemantau titik panas.

"Entah Kalimantan dibakar atau terbakar, yang pasti jutaan hewan jadi korban, jutaan pohon hangus terbakar, jutaan bayi dan manusia sesak nafas menghirup asap #prayforkalimantan," kata @rebukanrain.

Kekhawatiran warganet tertuju pada dampak jangka panjang paparan asap terhadap anak-anak dan bayi.

"Nggak sanggup bayangin jutaan bayi, anak" dan manusia di Kalimantan harus sesak napas, hari-hari hidup di tengah asap tebal. asap rokok aja bikin sesak kan, apalagi ini asap kebakaran hutan… astagfirullah🥺" ucap @assertndayy.

Harapan akan bantuan keselamatan terus disampaikan oleh publik pengguna media sosial.

"Ya Allah udah parah banget ini, pray for Kalimantan. Semoga saudara² kita disana dilindungi," ujar @byunbaek0692.

Doa agar hujan segera turun di wilayah terdampak terus mengalir di tengah musim kemarau.

"Pray for Kalimantan 😭 semoga kuasa Allah segera turunkan hujan untuk 🤲 memadamkan karhutla," doa @han_javanese.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
gilang-permana-putra
Author