Dua Orang Meninggal Dunia Tertabrak KRL di Jaksel dan Jakbar

Share

Dua warga meninggal dunia usai tertabrak Kereta Rel Listrik di dua lokasi berbeda, yakni kawasan Tebet, Jakarta Selatan, dan Kalideres, Jakarta Barat, pada Kamis (20/8/2026) sekitar pukul 06.30 WIB. Insiden ini melibatkan KRL relasi Bogor-Jakarta Kota serta Duri-Tangerang dan sempat memicu gangguan perjalanan Commuter Line.

Kecelakaan pertama terjadi di perlintasan sebidang Kebon Baru, Tebet, Jakarta Selatan, saat KRL nomor 1183 relasi Bogor-Jakarta Kota menemper seorang warga lansia berusia 80 tahun bernama Ishak hingga tewas di tempat. Pada waktu berdekatan, KRL KA 1914A relasi Duri-Tangerang menabrak sepeda motor di perlintasan Semanan Tembok Bolong, Kalideres, Jakarta Barat, yang menyebabkan pengendara berstatus siswa SMA berinisial DK (18) tewas dan ayahnya mengalami luka-luka.

Petugas kepolisian langsung melakukan pengecekan di lokasi kejadian Kebon Baru RT 06 RW 06 Kelurahan Kebon Baru, Kecamatan Tebet, untuk mengevakuasi korban ke rumah sakit.

"Korbanya seorang laki-laki diketahui bernama Ishak, usia 80 tahun," kata Kasi Humas Polres Metro Jakarta Selatan AKP Joko Adi.

Joko menjelaskan bahwa korban sempat berjalan di pinggir rel kereta sebelum terserempet dan mengembuskan napas terakhir akibat luka berat di bagian kepala.

"Atas kejadian korban meninggal dunia di lokasi dan saat ini jenazah korban dibawa ke rumah sakit," katanya.

Seorang saksi warga setempat bernama Een menceritakan bahwa korban sebelum kejadian sempat terlihat duduk santai di pos perlintasan bersama penjaga.

"Sekitar 06.15 WIB itu kita masih nganter kopi itu ke pos yang jaga. Dia (korban) lagi duduk di situ, emang biasanya nongkrong (di pos) nggak pagi, gak sore. Namanya ngademnya, orang sini banyak juga," ujar Een saat ditemui di lokasi.

Een menambahkan, suara benturan keras terdengar saat penjaga perlintasan sedang menurunkan palang pintu ketika KRL melintas dari arah Stasiun Cawang menuju Tebet.

"Sekitar 06.30 WIB yang jaga pada lihatnya ke arah kereta (dari Cawang), nutup palang tiba-tiba kedengeran suara 'bruk'. Ngiranya apa gitu, batu atau apa," ucapnya.

Kepanikan warga baru terjadi setelah keberadaan korban tidak lagi terlihat di area pos penjagaan usai kereta lewat.

"Eh tiba-tiba yang jaga teriak 'eh Bang Saak ke mana?', nggak ada yang ngeuh. Pas kereta berhenti aja baru ketahuan. Ternyata ketabrak," imbuh dia.

Saksi lain di lokasi kejadian, Bang Jek, mengonfirmasi bahwa fokus pandangan warga dan penjaga saat itu tertuju pada arah datangnya rangkaian kereta.

"Dia (korban) lagi duduk aja di pos. Ada beberapa orang di sini, cuma posisinya kita lihatnya ka ke arah kereta. Tiba-tiba dia ilang, eh ketabrak ternyata," kata Bang Jek.

Anak sulung korban, Nurhasanah, membantah keras spekulasi miring yang menyebut ayahnya sengaja melakukan tindakan bunuh diri di rel kereta.

"Setiap hari Bapak memang ke Tebet Eco Park, pagi-pagi jalan kaki. Meskipun punya riwayat sakit, beliau selalu bilang badannya kuat untuk jalan," ungkap Nurhasanah saat ditemui di rumah duka, Kamis sore.

Nurhasanah menjelaskan bahwa keluhan yang pernah diucapkan ayahnya murni akibat rasa sakit dari penyakit asam lambung dan darah tinggi yang diderita, ditambah penurunan fungsi pendengaran di usia senja.

"Kalau sakitnya kambuh, Bapak sering bilang, ‘Bapak mau mati saja.’ Tapi saya selalu bilang, 'Astaghfirullahaladzim, istighfar, Pak. Enggak baik ngomong begitu.' Tapi itu murni karena menahan sakit, bukan niat bunuh diri," tegas Nurhasanah.

Keponakan korban, Nia, juga menegaskan bahwa korban mendapatkan perawatan yang baik dari pihak keluarga dan tidak mengalami depresi.

"Bapak itu diurusin dengan sangat baik oleh keluarga. Ini murni musibah, kecelakaan. Enggak ada tanda-tanda punya beban berat atau depresi," kata Nia.

Nia menyampaikan bahwa seluruh anggota keluarga telah merelakan kepergian korban sebagai musibah takdir.

"Insyaallah, mudah-mudahan khusnul khatimah. Kami sudah ikhlas dan rida," kata Nia.

Mengenai insiden perlintasan di wilayah Jakarta Barat, pihak kepolisian mengonfirmasi identitas korban tewas yang merupakan seorang pelajar Sekolah Menengah Atas.

"(Korban) Pelajar," kata Kanit Gakkum Satlantas Polres Jakarta Barat, AKP Joko Siswanto.

Joko menjelaskan bahwa sepeda motor yang dikendarai korban melaju dari arah utara menuju selatan sebelum tertabrak kereta di dekat perlintasan.

"Setibanya di dekat perlintasan kereta api Semanan Tembok Bolong wilayah Kalideres Jakarta Barat," kata Joko.

Kapolsek Kalideres Kompol Rihold Sihotang menambahkan bahwa korban saat kejadian sedang dalam perjalanan menuju sekolah bersama sang ayah.

"Infonya ayah dan anak. Korban yang bonceng," kata Kapolsek Kalideres Kompol Rihold Sihotang.

Atas rentetan insiden ini, Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung menegaskan pentingnya evaluasi dan kerja sama antara Pemprov DKI Jakarta dan PT KAI untuk memperketat keamanan perlintasan rel.

“Ini harus menjadi pemikiran bersama antara Pemerintah Jakarta dengan KAI untuk bersama-sama bisa mengurangi atau menyelesaikan peristiwa-peristiwa yang seperti itu,” kata Pramono saat ditemui di kawasan Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Kamis (20/8).

Pramono menyebut pengerjaan pemagaran di sejumlah titik rel sebetulnya telah dilakukan untuk membatasi akses penyeberangan sembarangan oleh warga.

“Beberapa ruas sebenarnya sudah kami bangun pagar untuk masyarakat tidak dengan bebas menyeberangi rel kereta yang ada,” ujarnya.

Pramono menekankan kembali perlunya penanganan terpadu agar kejadian serupa tidak terus berulang di wilayah ibu kota.

“Jadi, apa pun yang terjadi ini harus menjadi pemikiran bersama antara Pemerintah Jakarta dengan KAI,” kata Pramono.

Dampak dari dua insiden tersebut sempat menyebabkan kerusakan pada sarana KRL serta gangguan jadwal perjalanan di lintas Bogor dan Tangerang.

"Kami mohon maaf atas ketidaknyamanan dan keterlambatan perjalanannya. Siang ini operasional layanan Commuter Line pada lintas tersebut sudah kembali normal," kata Direktur KAI Commuter Purnomo Sidi.

Pihak manajemen operator merinci total keterlambatan serta pembatalan perjalanan yang sempat terjadi pada jam sibuk pagi hari.

"Sebanyak 10 perjalanan Commuter Line Bogor mengalami keterlambatan hingga 1 jam lebih dan 2 perjalanan Commuter Line Bogor dibatalakan. Sedangkan untuk perjalanan Commuter Line Tangerang sebanyak 8 perjalanan mengalami keterlambatan hingga 48 menit," jelas Karina.

Pihak KAI Commuter juga menyampaikan informasi penanganan awal melalui pengumuman resmi di media sosial saat evakuasi berlangsung.

“Mohon maaf atas keterlambatan perjalanan Commuter Line Bogor-Jakarta Kota sehubungan KA 1183 (Bogor-Jakarta Kota) di antara Stasiun Pasar Minggu-Manggarai tertemper orang. Saat ini dalam penanganan petugas,” tulis akun resmi KAI Commuter.

VP Corporate Secretary KAI Commuter Karina Amanda membenarkan langkah cepat petugas di lapangan untuk memulihkan kembali kelancaran operasional.

"Kami mohon maaf atas keterlambatan perjalanan Commuterline Bogor-Jakarta Kota. Petugas langsung melakukan penanganan dan pengecekan rangkaian di Stasiun Tebet setelah menerima laporan," ujar Karina.

Operasional KRL di kedua lintasan tersebut dilaporkan telah kembali berjalan normal melalui dua jalur setelah evakuasi sarana dan pembersihan jalur selesai dilakukan.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
bram-adhitya-santoso
Author