Pramono Anung Soroti Polusi Jakarta dari PLTU Wilayah Penyangga
Kualitas udara DKI Jakarta kembali menempati peringkat ketiga terburuk di dunia dengan Indeks Kualitas Udara mencapai angka 162 pada Kamis (20/8/2026) pagi. Menanggapi kondisi tersebut, Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung menegaskan bahwa penanganan polusi udara di Ibu Kota tidak akan tuntas tanpa adanya pengendalian emisi dari industri dan Pembangkit Listrik Tenaga Uap berbasis batu bara di wilayah penyangga.
Pramono menyampaikan bahwa berbagai langkah perbaikan di internal Jakarta, seperti penambahan armada transportasi publik dan dorongan penggunaan kendaraan listrik, belum cukup efektif jika sumber polusi di daerah sekitar dibiarkan beroperasi tanpa pembatasan emisi.
"Persoalan utamanya bagaimana koordinasi di aglomerasi Jakarta ini, terutama bagi daerah-daerah yang masih mengizinkan industrinya menggunakan bahan bakar batu bara," kata Pramono Anung, Gubernur DKI Jakarta.
Pramono menilai penanganan polusi udara harus dilakukan secara lintas batas wilayah karena pergerakan udara tidak mengenal batas administratif. Ia secara khusus menyoroti keberadaan kawasan industri di wilayah sekitar Jakarta yang masih mengandalkan energi tak ramah lingkungan.
"Problemnya bukan hanya semata-mata transportasi di Jakarta. Ada persoalan-persoalan lain, misalnya pembakaran industri-industri di selingkaran Jakarta, salah satunya yang terkenal adalah Suralaya, yang menggunakan bahan bakar yang masih tidak ramah lingkungan," ujar Pramono Anung, Gubernur DKI Jakarta.
Pihak Pemprov DKI Jakarta telah melakukan berbagai langkah mitigasi internal, mulai dari perluasan rute Transjabodetabek hingga penyediaan armada kendaraan ramah lingkungan untuk menekan emisi gas buang dari sektor transportasi.
"Jadi, apapun yang dilakukan pemerintah di dalam Jakarta dengan membuat mobil listrik, transportasinya diperbaiki, orang yang dulu naik transportasi pribadi ke transportasi umum, menurut saya belum sepenuhnya akan menyelesaikan kalau di sub-urban area atau daerah yang melingkupi Jakarta ini masih diizinkan untuk industrinya menggunakan pembangkit listrik tenaga batu bara, karena itulah salah satu sumber utamanya," ujar Pramono Anung, Gubernur DKI Jakarta.
Gubernur menekankan perlunya keterlibatan pemerintah pusat untuk menjembatani sinergi antarwilayah di kawasan aglomerasi Jabodetabek agar penyelesaian masalah emisi dapat berjalan terintegrasi.
"Sehingga dengan demikian, saya sebagai Gubernur Jakarta berharap bahwa ada juga koordinasi dengan pemerintah pusat agar yang memberikan kontribusi menyebabkan emisi yang masih tinggi itu bisa diatur bersama-sama," kata Pramono Anung, Gubernur DKI Jakarta.
Selain strategi penataan transportasi dan koordinasi wilayah, Pemprov DKI Jakarta juga menyiapkan langkah jangka pendek berupa Operasi Modifikasi Cuaca untuk memicu timbulnya hujan guna meminimalisasi tingkat polusi udara.
"Kalau enggak ada awan, enggak mungkin bisa untuk di-OMC. Dalam melakukan OMC, contohnya nanti hari Jumat besok, itu akan ada awan kembali. Saya sudah perintahkan untuk hari Jumat karena ada awan, maka segera dipersiapkan untuk besok diterbangkan," kata Pramono Anung, Gubernur DKI Jakarta.
Pelaksanaan modifikasi cuaca tersebut bergantung pada kondisi dinamis awan di atmosfer, sehingga tingkat keberhasilannya dalam menurunkan hujan sangat bervariasi.
"Nah, kalau diterbangkan, apakah terjadi hujan atau enggak, itu bukan belum jaminan. Kami sudah berkali-kali juga menerbangkan enggak ada hujan," ujar Pramono Anung, Gubernur DKI Jakarta.
Pramono menegaskan bahwa intervensi teknologi rekayasa cuaca merupakan bentuk ikhtiar maksimal dari pemerintah daerah dalam merespons kondisi udara memburuk di musim kemarau.
"Bahwa hujan itu ciptaan Tuhan, ya pasti saya setuju ciptaan Tuhan. Tetapi kalau kemudian tidak ada upaya untuk itu, menurut saya juga enggak baik," jelas Pramono Anung, Gubernur DKI Jakarta.
Pemerintah Provinsi DKI Jakarta berharap rekayasa cuaca yang memanfaatkan garam penyemaian ini mampu mengoptimalkan potensi awan hujan gerimis menjadi hujan berintensitas sedang tanpa memicu banjir.
"Di ramalan cuaca juga diramalkan akan ada hujan gerimis. Kan lebih baik kalau kemudian dari hujan gerimis ditambahi garam dan atau apa pun lah, itu menjadi hujan yang lebih deras dan bermanfaat bagi masyarakat, yang paling penting jangan banjir, itu aja," imbuh Pramono Anung, Gubernur DKI Jakarta.
Upaya penanganan sektor transportasi DKI Jakarta sendiri saat ini didukung oleh pengoperasian sekitar 500 bus listrik yang ditargetkan berkembang menjadi 10.000 unit pada tahun 2030.
"Bukan hanya bus elektrik, tapi juga hidrogen dan juga hibrida," ujar Pramono Anung, Gubernur DKI Jakarta.
Di samping perbaikan moda transportasi, Pemprov DKI mengarahkan pengelolaan lingkungan melalui pengoperasian fasilitas Refuse Derived Fuel di Rorotan, Jakarta Utara, serta penyediaan fasilitas transportasi umum gratis untuk 15 golongan masyarakat.