Pemerintah Buka Penawaran Sukuk Ritel SR025 dengan Imbal Hasil hingga 6,9 Persen

Share

Pemerintah melalui Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko Kementerian Keuangan mulai membuka penawaran Surat Berharga Negara (SBN) ritel Sukuk Ritel seri SR025 pada Jumat, 21 Agustus 2026 pukul 09.00 WIB. Penawaran ini berlangsung hingga 16 September 2026 dan menyasar seluruh warga negara Indonesia.

Penerbitan SR025 dilakukan setelah Obligasi Negara Ritel seri ORI030 berhasil mencatatkan pemesanan sebesar Rp40 triliun dari 102.546 investor. Hal ini menunjukkan minat masyarakat terhadap surat utang negara masih tinggi meskipun suku bunga acuan bertahan di level tinggi dan kondisi ekonomi global dan domestik belum stabil.

SR025 hadir dengan dua pilihan tenor, yaitu tiga tahun dengan jatuh tempo 10 September 2029 dan imbal hasil tetap sebesar 6,80 persen per tahun, serta lima tahun dengan jatuh tempo 10 September 2031 yang menawarkan imbal hasil tetap 6,90 persen per tahun. Selisih imbal hasil tersebut mengikuti teori preferensi likuiditas yang menyatakan imbal hasil lebih tinggi diberikan untuk tenor yang lebih panjang guna mengantisipasi ketidakpastian pasar.

Imbal hasil SR025 meningkat signifikan dibandingkan seri sebelumnya, SR024, yang menawarkan kupon 5,55 persen untuk tenor tiga tahun dan 5,90 persen untuk tenor lima tahun. Kenaikan ini disebabkan penyesuaian suku bunga acuan Bank Indonesia yang meningkat dari 4,75 persen menjadi 5,75 persen sejak Mei hingga Juni 2026.

Menurut data Penilai Harga Efek Indonesia per 19 Agustus 2026, yield SBN tenor tiga tahun di pasar sekunder berada di 6,83 persen, sedangkan tenor lima tahun di 6,95 persen. Dengan demikian, kupon SR025 hampir menyamai tingkat pasar dan masih lebih tinggi dibandingkan bunga deposito LPS yang berada di 3,5 persen.

Sukuk Ritel SR025 menggunakan akad ijarah dengan aset dasar berupa proyek kementerian, lembaga dalam APBN 2026, serta Barang Milik Negara. Skema ini memastikan investasi terhubung dengan sektor riil dan telah mendapatkan persetujuan syariah dari Dewan Syariah Nasional Majelis Ulama Indonesia.

SR025 dapat diperjualbelikan di pasar sekunder setelah melewati masa holding period satu kali pembayaran imbal hasil. Nilai pemesanan dimulai dari Rp1 juta hingga maksimal Rp5 miliar untuk tenor tiga tahun, dan Rp10 miliar untuk tenor lima tahun. Imbal hasil yang diterima dikenakan pajak final sebesar 10 persen, lebih rendah dari pajak bunga deposito sebesar 20 persen.

Seluruh pembelian SR025 dapat dilakukan secara daring melalui 33 mitra distribusi resmi seperti bank, perusahaan sekuritas, dan platform fintech. Proses pembelian dimulai dengan registrasi untuk membuka rekening Surat Berharga Negara, yang menghasilkan Rekening Dana Nasabah, Rekening Surat Berharga, dan Single Investor Identification.

Setelah registrasi, investor dapat melakukan pemesanan SR025 secara online dengan memilih tenor dan nominal investasi, lalu melakukan konfirmasi serta pembayaran melalui kode billing dengan metode transfer yang beragam. Pembayaran harus dilakukan dalam waktu singkat, biasanya satu sampai dua jam, agar pesanan tidak dibatalkan.

Setelah dana terverifikasi, investor mendapatkan Nomor Transaksi Penerimaan Negara sebagai bukti kepemilikan. Surat berharga akan dicatat atas nama investor sekitar satu minggu setelah masa penawaran berakhir, dan imbal hasil pertama dijadwalkan dibayarkan pada 10 Oktober 2026.

Follow publika.id on Google News Follow
Topik Terkait: Kemenkeu SR025 Sukuk Ritel
Editors Team
tiara-puspita-sari
Author