NATO Siaga Usai Iran Ancam Serang Fasilitas Militer AS di Eropa
Aliansi Pertahanan Atlantik Utara (NATO) dan sejumlah negara Eropa meningkatkan kewaspadaan militer setelah rezim Iran mempertimbangkan serangan terhadap pangkalan militer Amerika Serikat di kawasan Eropa bagian tenggara, Jumat (21/8/2026). Pertimbangan serangan tersebut menyusul berakhirnya masa berlaku nota kesepahaman (MoU) perundingan konflik tanpa kesepakatan, sementara blokade di Selat Hormuz terus berlangsung. Target potensial mencakup Pangkalan Udara Bezmer di Bulgaria dan pangkalan Inggris di Siprus. Eskalasi keamanan ini bertepatan dengan langkah Pemimpin Tertinggi Iran Mojtaba Khamenei merombak jajaran pejabat tinggi keamanan, termasuk menunjuk Ahmad Vahidi sebagai Kepala Korps Pengawal Revolusi Islam (IRGC) untuk mempersiapkan operasi ofensif.
Menanggapi ancaman tersebut, pihak aliansi menegaskan kesiapan sistem pertahanan udara mereka dalam mengantisipasi potensi serangan rudal maupun drone dari Teheran.
"NATO siap menghadapi ancaman apa pun dan akan selalu melakukan apa yang diperlukan untuk membela semua Sekutu," kata pejabat NATO. Pejabat tersebut menambahkan bahwa sistem pertahanan udara aliansi telah membuktikan keandalannya di lapangan.
"Sistem pertahanan udara NATO telah mencegat empat rudal balistik yang diluncurkan Iran ke arah Turki sepanjang tahun ini," kata pejabat NATO. Pemerintah Bulgaria langsung berkoordinasi dengan otoritas pertahanan untuk memperketat pengamanan di sekitar pangkalan militer yang digunakan oleh pasukan Amerika Serikat.
"Kami terus memantau situasi dan perkembangan serta akan terus mengambil langkah-langkah pencegahan yang jauh lebih luas dan intensif daripada tingkat ancaman yang ditunjukkan oleh informasi yang tersedia saat ini," kata Menteri Dalam Negeri Bulgaria Ivan Demerdzhiev. Di sisi lain, jajaran pimpinan militer dan keamanan Iran menegaskan perubahan doktrin militer mereka menjadi lebih agresif apabila tuntutan negara tidak dipenuhi. "Strategi mengalihkan perang ke postur ofensif jika persyaratan Iran tidak dipenuhi niscaya akan mengubah keseimbangan kekuatan di dunia," kata Penasihat Pemimpin Tertinggi Iran Mohammad Mokhber.
Pernyataan senada disampaikan oleh pimpinan dewan keamanan yang baru terkait kelanjutan tekanan terhadap pihak Washington.
"Satu-satunya cara untuk mendapatkan konsesi dari AS adalah dengan melanjutkan pertempuran dan memberikan penderitaan konstan pada Trump," kata Kepala Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran Mohsen Rezaie. Meski membuka peluang serangan taktis, pihak militer Iran mengklaim bahwa langkah dasar mereka tetap berpatokan pada upaya pertahanan wilayah. "Tindakan Iran bersifat defensif, meskipun mereka juga dapat mengambil aspek ofensif di masa depan," kata Deputi Politik IRGC Brigadir Jenderal Yadollah Javani.
Kondisi di lapangan semakin rumit setelah analisis militer mencatat keberhasilan Iran menahan gempuran lawan serta potensi gangguan pada jaringan kabel serat optik bawah laut Selat Hormuz.
"Mereka belum meresmikan kendali atas Selat Hormuz, dan sementara mereka tidak terburu-buru, mereka ingin menekan keunggulan mereka," kata analis Royal United Services Institute H.A. Hellyer. Hingga saat ini, Presiden AS Donald Trump menegaskan tidak ada jalur komunikasi resmi yang dibuka dengan pihak Teheran untuk meredakan ketegangan.