Pemerintah Terbitkan Sukuk Ritel SR025 Mulai 21 Agustus 2026

Share

Pemerintah melalui Kementerian Keuangan mulai menawarkan Surat Berharga Negara ritel berbasis syariah seri SR025 pada Jumat, 21 Agustus 2026. Penawaran instrumen pembiayaan APBN ini dijadwalkan berlangsung hingga 16 September 2026.

Sukuk Ritel SR025 ditawarkan dengan pemesanan minimal Rp1 juta dalam dua pilihan tenor, yakni tiga tahun dan lima tahun. Berdasarkan indikasi agen penjual Bareksa, kupon tenor tiga tahun diperkirakan berkisar 6,6 persen hingga 7 persen, sedangkan tenor lima tahun diproyeksikan 6,7 persen hingga 7,1 persen.

Instrumen ini menggunakan akad Ijarah Asset to be Leased dan dinyatakan sesuai prinsip syariah oleh Dewan Syariah Nasional Majelis Ulama Indonesia. Selain memberikan imbalan bulanan tetap, investasi ini dijamin negara dan dapat diperdagangkan di pasar sekunder antar investor domestik.

Chief Operating Officer Bareksa, Ni Putu Kurniasari, menilai kondisi pasar yang fluktuatif serta tingkat suku bunga yang relatif tinggi menjadi faktor penopang minat masyarakat terhadap instrumen konservatif ini.

"Selain itu, benchmark yield, yaitu BI Rate, juga masih berada di level yang cukup tinggi, sehingga potensi imbal hasil SR025 menjadi relatif menarik bagi investor," kata Chief Operating Officer Bareksa, Ni Putu Kurniasari.

Sementara itu, Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan Institute for Development of Economics and Finance, M Rizal Taufikurahman, mengingatkan pemerintah agar menentukan tingkat kupon secara cermat demi menjaga efisiensi pembiayaan negara.

"Kuncinya adalah apakah return SR025 cukup kompetitif dibandingkan deposito, SBN sekunder, dan instrumen investasi lainnya. Jadi, keberhasilan jangan hanya dilihat dari oversubscription, tetapi juga efisiensi biaya pembiayaan pemerintah," ujar Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan Indef, M Rizal Taufikurahman.

Rizal menjelaskan bahwa penetapan kupon tinggi memang dapat menstimulasi permintaan investor, namun pemerintah harus menyeimbangkannya dengan beban anggaran negara.

"Karena itu, pricing ideal adalah memberikan premium yang cukup menarik bagi investor dengan tetap menjaga sustainability beban bunga APBN," kata M Rizal Taufikurahman.

Penerbitan SR025 merupakan bagian dari target penerbitan SBN ritel pemerintah sepanjang 2026 yang dirancang mencapai Rp150 triliun hingga Rp170 triliun. Setelah SR025, pemerintah dijadwalkan merilis tiga instrumen ritel lainnya hingga akhir tahun, yakni SWR007, SBR015, dan ST017.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
tiara-puspita-sari
Author