Israel Akui Tentaranya Tembak Mobil Bocah Palestina Hind Rajab
Militer Israel (IDF) akhirnya mengakui bahwa pasukannya menembaki kendaraan yang membawa bocah Palestina berusia lima tahun, Hind Rajab, serta melakukan penyelidikan pidana atas insiden mematikan di Jalur Gaza tersebut pada Rabu, 19 Agustus 2026.
Pengakuan resmi ini disampaikan pihak militer Tel Aviv setelah sebelumnya berulang kali membantah keberadaan pasukannya di dekat lokasi kejadian pada saat peristiwa terjadi pada 29 Januari 2024 lalu.
Peristiwa tragis itu bermula ketika Hind Rajab bersama enam anggota keluarganya berusaha melarikan diri dari lingkungan Tel al-Hawa di Kota Gaza menggunakan kendaraan Kia berwarna hitam. Mobil tersebut ditembaki tank militer Israel, yang seketika menewaskan paman Hind, Bashar, beserta bibi dan sepupunya.
Hasil investigasi forensik independen menemukan bahwa sebanyak 335 peluru ditembakkan ke kendaraan tersebut. Posisi tank IDF terdeteksi berada dalam jarak yang sangat dekat, yaitu hanya berkisar antara 13 hingga 23 meter dari mobil keluarga Hind.
Dalam serangan awal, Hind Rajab dan kakak sepupunya yang berusia 15 tahun, Layan Hamadeh, sempat bertahan hidup. Layan sempat menghubungi Bulan Sabit Merah Palestina (PRCS) untuk meminta bantuan darurat sebelum akhirnya gugur diterjang tembakan senapan mesin saat sambungan telepon masih terhubung.
Usai sepupunya tewas, Hind menjadi satu-satunya penyintas yang tersisa di dalam mobil yang dikelilingi jenazah keluarganya. Bocah tersebut bertahan melakukan panggilan telepon dengan operator PRCS selama lebih dari tiga jam sambil menangis dan memohon untuk diselamatkan.
PRCS kemudian mengirimkan ambulans yang diawaki oleh dua paramedis, Yusuf al-Zeino dan Ahmed al-Madhoun, setelah memverifikasi koordinasi pergerakan dengan pihak militer Israel. Namun, ambulans tersebut turut dibombardir begitu tiba di lokasi kejadian hingga menewaskan kedua petugas medis.
Jenazah Hind Rajab bersama enam kerabat dan dua paramedis baru ditemukan 12 hari kemudian setelah pasukan Israel menarik diri dari kawasan tersebut. Dari hasil pemeriksaan, Hind diketahui meninggal dunia akibat luka tembak di bagian punggung, tangan, dan kaki.
Dalam pernyataan terbarunya pada Kamis, 20 Agustus 2026, militer Israel bergeming bahwa pasukannya menembaki kendaraan yang mendekat karena melaju bertentangan dengan pemberitahuan awal. Militer Israel juga mengonfirmasi adanya dugaan kegagalan dalam proses koordinasi pergerakan ambulans PRCS.
Setelah meninjau temuan-temuan yang ada dan mengingat adanya dugaan kegagalan dalam koordinasi pergerakan ambulans Bulan Sabit Merah Palestina, diputuskan untuk memulai penyelidikan pidana atas insiden tersebut oleh Divisi Investigasi Kriminal Polisi Militer, kata militer Israel dalam pernyataannya.
Keputusan tersebut memicu reaksi keras dari berbagai pihak internasional dan lembaga hukum. Kementerian Luar Negeri Israel mengklaim dalam pernyataan terpisah bahwa langkah ini membuktikan Israel sebagai negara demokrasi yang taat hukum dan berkomitmen menyelidiki setiap dugaan pelanggaran.
Namun, pihak The Hind Rajab Foundation, yayasan hukum yang berbasis di Brussels, secara tegas meragukan komitmen dan netralitas proses hukum internal militer Israel tersebut.
Penyelidikan yang dilaporkan ini, bahkan jika benar-benar dilakukan, tidak boleh dianggap sebagai langkah nyata menuju keadilan, tegas organisasi The Hind Rajab Foundation.
Direktur Jenderal The Hind Rajab Foundation juga menegaskan bahwa mereka tidak akan menaruh kepercayaan pada sistem peradilan internal militer yang dianggap sekadar sandiwara untuk membebaskan para pelaku penembakan.
Kami sama sekali tidak menaruh kepercayaan pada sistem peradilan Israel. Ini hanyalah sandiwara yang bertujuan untuk menutupi kejahatan dan membebaskan para pelaku yang membunuh Hind Rajab beserta keluarganya. Kami tahu siapa yang membunuh Hind.
Kami mengetahui tanggung jawab Brigade Lapis Baja ke-401 di bawah komando Beni Aharon, Batalion ke-52 yang dipimpin oleh Daniel Ella, serta Kompi Vampire Empire yang dipimpin oleh Sean Glass. Orang-orang ini seharusnya mendekam di balik jeruji besi, kata Dyab Abou Jahjah selaku Direktur Jenderal The Hind Rajab Foundation.
Dyab Abou Jahjah menambahkan bahwa upaya penegakan keadilan atas kematian Hind Rajab dan keluarganya akan terus dilanjutkan melalui mekanisme peradilan internasional seperti Mahkamah Pidana Internasional (ICC) serta yurisdiksi nasional di luar negeri.
Kami yakin keadilan akan ditegakkan, namun bukan oleh sistem yang justru membenarkan kejahatan yang dilakukan selama genosida berlangsung. Keadilan akan dicapai melalui mekanisme peradilan internasional, ICC, serta yurisdiksi nasional di luar negeri. The Hind Rajab Foundation akan terus menempuh jalan ini, dan kami tidak akan terkecoh oleh manuver-manuver semacam itu, tegasnya.
Selain kasus Hind Rajab, militer Israel pada hari yang sama juga merujuk kasus penembakan fatal terhadap 14 petugas medis dan penyelamat Palestina di Gaza selatan pada Maret 2025 ke penyelidik kriminal polisi militer. Kasus-kasus ini menambah daftar panjang kehancuran di Gaza sejak perang pecah pada Oktober 2023 yang telah menelan lebih dari 70.000 korban jiwa warga Palestina.