Mirza Fakhrul Alamgir Terpilih Jadi Presiden Bangladesh
Parlemen Bangladesh memilih Sekretaris Jenderal Bangladesh Nationalist Party (BNP) Mirza Fakhrul Islam Alamgir sebagai Presiden ke-23 negara tersebut pada Kamis (20/8/2026). Voting yang digelar di Jatiya Sangsad ini menjadi pemilu presiden kompetitif pertama di Bangladesh dalam 35 tahun terakhir.
Ketua Komisi Pemilihan Umum AMM Nasir Uddin mengumumkan Alamgir menang telak dengan meraih 255 suara. Politisi senior berusia 78 tahun itu mengalahkan rivalnya, purnawirawan tentara Oli Ahmed dari aliansi oposisi pimpinan Jamaat-e-Islami, yang memperoleh 88 suara.
Dari total 349 anggota parlemen yang memiliki hak pilih, sebanyak 343 legislator menyalurkan suara mereka dalam pemungutan suara yang berlangsung pukul 14.00 hingga 17.00 waktu setempat, sementara enam anggota parlemen absen.
Pemilihan ini digelar setelah presiden sebelumnya, Mohammed Shahabuddin, mengundurkan diri bulan lalu dengan alasan kesehatan. Shahabuddin mengundurkan diri di tengah masa jabatannya setelah kejatuhan Perdana Menteri Sheikh Hasina pada Agustus 2024.
Alamgir dijadwalkan mengucapkan sumpah jabatan sebagai Kepala Negara dan Panglima Tertinggi Angkatan Bersenjata Bangladesh di Ruang Darbar Bangabhaban pada Jumat (21/8/2026) malam.
Sebelum pemungutan suara berlangsung, BSS melaporkan pernyataan mengenai harapan kepemimpinannya.
"Saya memimpikan negara yang bahagia, makmur, dan berorientasi pada kesejahteraan di mana masyarakat marjinal, pekerja keras, dan buruh harian mampu makan dua kali sehari," kata Mirza Fakhrul Islam Alamgir, Presiden Terpilih Bangladesh.
Meskipun kalah dalam perolehan suara, rivalnya menyampaikan harapannya terhadap kepemimpinan baru di Bangladesh.
"Kami berharap Anda melayani negara dengan menempatkan kepentingan nasional di atas kepentingan pribadi," kata Oli Ahmed, Ketua LDP.
Mantan pejabat Bangladesh Bank Anwarul Islam menilai Alamgir memiliki integritas pribadi yang tinggi dan dicintai masyarakat tanpa memandang ras atau agama. Namun, Manajer Konstruksi Abdul Baten mengaku lebih memilih Oli karena dinilai sebagai politisi senior yang berpengalaman.
Pengamat politik Ali Riaz menyebut kembalinya pemilu presiden yang kompetitif sebagai langkah positif meski jabatan presiden di Bangladesh sebagian besar bersifat seremonial berdasarkan Pasal 48(3) Konstitusi.
Sanjida Khan Deepti, ibu dari remaja yang tewas dalam pergolakan 2024, menyambut baik pergantian presiden meski mempertanyakan aturan Pasal 70 Konstitusi yang mengikat anggota parlemen pada pilihan partai.
"Jika seorang anggota parlemen tidak dapat memilih orang yang mereka yakini terbaik untuk negara, lalu apa gunanya mengadakan pemungutan suara? Anak-anak kami memberikan nyawa mereka demi demokrasi," kata Sanjida Khan Deepti, Ibu Korban Pergolakan 2024.
Kedutaan Besar China di Dhaka menyampaikan ucapan selamat kepada Alamgir dan menyatakan kesiapannya untuk mempererat kerja sama dengan Bangladesh di era baru.