Lapas Garut Olah Limbah Kulit Jadi Pupuk Organik Cair

Share

Sebanyak sembilan warga binaan Lapas Kelas IIA Garut menjalani program asimilasi dengan mengolah limbah industri kulit menjadi pupuk organik cair berbasis asam amino di Pabrik Pupuk Asam Amino, Karangpawitan, Garut, Jawa Barat, Kamis (20/8/2026), sebagaimana dilansir dari Detikcom.

Para narapidana tersebut bertugas di tiga fasilitas utama pabrik yang dikelola bersama PT Mandraguna Pusaka Indonesia, meliputi bagian produksi, pengemasan, gudang, hingga pencucian bahan limbah kulit sapi dan domba di bawah pengawasan ketat dua petugas lapas.

Direktur Operasional dan HRD PT Mandraguna Pusaka Indonesia Nazmul memberikan gambaran mengenai kinerja warga binaan yang terampil dan cepat beradaptasi sejak awal penugasan.

"Awalnya pagi-pagi saya kasih job, misalnya bagian produksi. Mereka cepat paham tugas mereka. Sekarang tidak perlu disuruh-suruh atau diarahkan lagi, mereka sudah tahu jobdesk mereka apa," kata Nazmul.

Hubungan kerja yang positif antara perusahaan dan narapidana bertahap terbangun tanpa ada kekakuan mengenai latar belakang hukum para pekerja.

"Nggak ada kekhawatiran mempekerjakan napi. Alhamdulillah kita sudah mulai dekat sama mereka, sudah mulai bercanda. Nggak ada canggung karena mereka ini misalnya background kriminal atau apa," ujar Nazmul.

Produksi pupuk organik ini mengalami peningkatan bertahap dari kapasitas awal 3.000 liter, naik menjadi 6.000 liter, hingga kini menembus angka 12.000 liter. Kerja sama ini sendiri diawali dari ruang diskusi komunitas pupuk sekitar tiga bulan lalu.

"Awalnya mungkin hubungan kami dengan lapas dari persahabatan. Ketemu sering, diskusi soal pupuk di komunitas. Lalu ada kesamaan visi dan akhirnya kita mengadakan kerja sama," tutur Nazmul.

Di sisi lain, persoalan penumpukan limbah industri kulit di Kabupaten Garut telah berlangsung lama dan berdampak pada lingkungan sekitar.

Pemilik PT Mandraguna Pusaka Indonesia Rian menegaskan keberadaan industri tersebut sangat erat dengan mata pencaharian warga setempat.

"Isu industri kulit di Kabupaten Garut klasik karena berkaitan dengan kultur dan budaya dari dulu. Bahkan sampai hari ini banyak UMKM yang hidup," terang Rian.

Pengolahan limbah menjadi pupuk asam amino ini dinilai mampu mengubah masalah pencemaran lingkungan menjadi peluang ekonomi sirkular bagi masyarakat.

"Terbayangkan selama puluhan tahun masalah limbah ini tidak pernah terselesaikan, sekarang malah jadi manfaat nggak hanya terhadap lingkungan, tapi menjadi ekonomi sirkular," ujar Rian.

Pengembangan produk ini juga diarahkan untuk memperluas manfaat ekonomi serta menjadi solusi atas pencemaran limbah serupa di berbagai wilayah Indonesia.

"Kita jadikan produk pupuk organik cair ini ada nilai ekonomis dan manfaat untuk petani. Kita menciptakan produk ini sampai kita jadi pelopor pupuk organik berbahan limbah kulit sapi dan domba satu-satunya di Indonesia. Pupuk organik selama ini diciptakan dari daun kotoran hewan," harap Rian.

Rian merinci sejumlah manfaat teknis dari formula pupuk berbahan limbah kulit tersebut bagi efisiensi dan hasil panen sektor pertanian.

"Karena sebelum dijual umum kita kasih untuk food estate di Gunung Mas Kalimantan Tengah untuk tanaman jagung. Terbayangkan selama puluhan tahun masalah limbah ini tidak pernah terselesaikan, sekarang malah jadi manfaat nggak hanya terhadap lingkungan, tapi menjadi ekonomi sirkular," pungkas Rian.

Sementara itu, pihak Lapas Garut mencatat potensi pasar online yang cukup besar untuk penyerapan produk pupuk organik tersebut.

Kalapas Kelas IIA Garut Rusdedy menguraikan tingginya permintaan pasar terhadap pupuk hasil olahan warga binaan tersebut.

"Ini baru pemasaran online," kata Rusdedy.

Fasilitas produksi saat ini baru dapat mengolah sekitar dua persen dari total limbah kulit di Garut, dengan target peningkatan kapasitas hingga 20 persen jika mendapat fasilitasi dari pemerintah daerah.

"Kami siap olah limbah seluruh Garut kalau dari pemda memfasilitasi," ujar Rusdedy.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
nadia-fitria-ramadhani
Author