Wasit Premier League Perketat Pengawasan Tarik-Tarikan di Bola Mati Musim Ini
Premier League menetapkan kebijakan lebih ketat terhadap aksi saling tahan dan tarik di situasi bola mati musim ini, dengan wasit diperintahkan untuk memberi perhatian lebih pada tindakan yang berdampak nyata pada permainan.
Meskipun aturan permainan tidak berubah, para wasit di Premier League, English Football League, dan Women’s Super League diminta mengambil tindakan tegas terhadap tindakan menahan lawan secara sengaja, terutama bila menghalangi lawan bersaing merebut bola atau bergerak ke posisi berbahaya.
Fokus utama adalah pada tindakan yang disebut wasit sebagai “aksi tahan non-sepakbola”, yaitu ketika seorang pemain hanya memusatkan perhatian pada lawan tanpa berusaha mainkan bola, menggunakan kedua tangan untuk menahan lawan, atau terus-menerus memegang lawan atau pakaiannya.
Di bawah pendekatan baru ini, bek yang membelakangi tendangan sudut atau tendangan bebas dan sengaja menahan penyerang untuk menghalangi pergerakannya bisa dikenai hukuman.
Ketua wasit Premier League, Howard Webb, mengatakan wasit didorong untuk bertindak tegas daripada hanya memberikan peringatan berulang kali.
"Kami berusaha agar wasit sepercaya diri mungkin dalam memberi penalti atas pelanggaran yang mereka lihat," ujar Webb.
"Jadi peringatan lebih sedikit, tindakan penalti lebih banyak, dan jika ada pengurangan pelanggaran yang dihukum, itu karena perubahan perilaku pemain, bukan karena kami tidak menegakkan aturan," tambah Webb.
Langkah tegas ini muncul setelah musim lalu ditemukan sejumlah intervensi VAR yang terlewat, termasuk penalti yang tidak diberikan ketika pemain ditarik ke tanah jauh dari bola.
Meski demikian, Webb menegaskan Premier League tidak akan terlalu ketat dalam mengatur kontak fisik, khususnya yang melibatkan kiper.
Liga akan mempertahankan ambang batas tinggi untuk kontak fisik biasa, sehingga benturan ringan tidak langsung membatalkan gol. Namun, kiper yang pergerakannya jelas dibatasi, misalnya lengannya ditahan, bisa dikenai penalti.
Perubahan ini diprediksi berdampak besar pada taktik bola mati, mengingat musim lalu klub-klub Premier League mencetak 269 gol dari situasi bola mati, tidak termasuk penalti dan tendangan bebas langsung.
Gol dari bola mati itu mencapai rekor 25,7 persen dari total gol liga. Arsenal memimpin dengan 25 gol dari bola mati, diikuti Manchester United 21 dan Tottenham Hotspur 19.
Di sisi lain, Liverpool kebobolan gol terbanyak dari bola mati yaitu 19 gol, lalu Chelsea dan Newcastle United masing-masing 17 gol.
Keberhasilan Arsenal tampak dari kombinasi efektivitas menyerang dan kekuatan bertahan, hanya kebobolan tujuh gol dari bola mati.
Penekanan wasit baru ini bisa memaksa klub-klub menata ulang strategi bertahan dan menyerang di bola mati.
Webb menegaskan tujuan bukan menghilangkan fisik dalam sepak bola, tapi mengurangi aksi yang tidak berhubungan dengan permainan bola.
"Jika kami mulai memberi penalti atas pelanggaran, pemain harus mengubah taktik mereka," ujar Webb. "Dan situasi seperti itu akan berkurang jumlahnya."
Pendekatan ini akan diuji sepanjang musim, dengan konsistensi menjadi kunci. Wasit harus menjaga standar ini tidak hanya di pekan-pekan awal, sambil memastikan kontak fisik normal tetap menjadi bagian permainan.
Bagi pemain dan klub, pesan ini jelas: tarikan sengaja di bola mati akan diawasi ketat dan yang terus melakukannya bisa berisiko menghadapi penalti.