BMKG Catat Gempa M5,2 Guncang Flores dan Satgas ITS Cek Pelabuhan
Guncangan gempa bumi tektonik bermagnitudo 5,2 melanda kawasan Flores, Nusa Tenggara Timur, pada Kamis, 20 Agustus 2026, pukul 16.30 WIB, sementara Tim Satuan Tugas Bencana Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya memantau kelayakan jaringan infrastruktur vital di wilayah terdampak. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika melaporkan pusat getaran berada di darat pada kedalaman 10 kilometer, berjarak 29 kilometer arah timur laut Ruteng, Manggarai, akibat aktivitas sesar aktif Flores Back-Arc Thrust dengan mekanisme geser turun. Peristiwa ini menjadi bagian dari rentetan guncangan susulan atas gempa bermagnitudo 7,7 yang melanda Flores sejak 15 Agustus 2026, di mana sistem pemonitoran BMKG mencatat sebanyak 3.752 aktivitas susulan hingga Kamis siang dengan magnitudo terbesar mencapai M6,2.
Peta tingkat guncangan mencatat intensitas getaran terkuat mencapai skala V MMI di Lamba Leda, Manggarai Timur, skala IV MMI di Sambi Rampas, Reok, serta Kota Ruteng, skala III MMI di Kota Borong, Kota Bajawa, dan Kota Mbay, hingga skala II MMI di Labuan Bajo tanpa potensi tsunami.
Hasil investigasi di lapangan mengonfirmasi bahwa fasilitas gedung terminal penumpang di Pelabuhan Lorens Say Maumere mengalami kerusakan struktur, meski konstruksi dermaga utama dinilai masih kokoh untuk menerima kedatangan kapal pengangkut logistik. "Dampak gempa di Maumere tergolong signifikan berdasarkan hasil peninjauan lapangan sejak Senin (17/8)," kata Ketua Tim Satgas Bencana ITS Dr Ir Mudji Irmawan MT dalam keterangan diterima di Surabaya, Kamis.
Tim ahli forensik teknik tersebut menjelaskan bahwa prioritas penanganan tertuju pada ketahanan dermaga sebagai jalur distribusi bahan pokok. "Stabilitas dermaga ini menjadi poin krusial, karena pelabuhan saat ini berfungsi sebagai jalur utama pengiriman logistik bantuan sembako," kata Mudji yang merupakan ahli forensik teknik dan investigasi kerusakan struktur bangunan tersebut.
Pemeriksaan infrastruktur jalan serta jembatan penghubung bantuan terus dilanjutkan, kendati tim masih menemui rintangan akses menuju Kabupaten Nagekeo yang mengalami kerusakan paling parah akibat guncangan beruntun. "Hal itu kami upayakan guna menjamin kelancaran distribusi bantuan ke wilayah-wilayah yang lebih terisolasi dan terdampak," katanya. Tim akademisi yang melibatkan pakar teknik sipil serta perencanaan wilayah ini menggalang kerja sama dengan PT Pelindo dan menyiagakan personil inspeksi bawah air guna mengevaluasi kondisi fondasi dermaga secara menyeluruh selama sepekan ke depan.
"Akselerasi pemulihan fasilitas umum menjadi penting, karena diharapkan menjadi salah satu cara dalam pemulihan ekonomi lokal," ujarnya.
Guna memastikan pemulihan terukur, koordinasi intensif dilakukan bersama Dinas Pekerjaan Umum Cipta Karya dan Dinas Pekerjaan Umum Bina Marga Provinsi NTT, seiring imbauan BMKG agar masyarakat menghindari bangunan retak serta memantau kanal informasi resmi.