Pemerintah dan Berbagai Lembaga Mobilisasi Bantuan Gempa Flores NTT

Share

Berbagai instansi pemerintah, TNI, Polri, serta organisasi masyarakat memobilisasi pasukan, peralatan berat, dan ratusan ton logistik untuk menangani dampak bencana gempa bumi magnitudo 7,7 di Flores, Nusa Tenggara Timur, hingga Kamis, 20 Agustus 2026.

Badan Nasional Penanggulangan Bencana mencatat akumulasi korban jiwa akibat gempa bumi tersebut bertambah menjadi 71 orang setelah ditemukannya satu korban meninggal dunia di Kabupaten Nagekeo.

Hingga Selasa, 18 Agustus 2026, pemerintah telah menyalurkan sebanyak 398 ton bantuan ke kawasan terdampak, dengan 165 ton di antaranya didistribusikan melalui jalur udara.

"Kita perlu pahami bahwa karakter geografis Flores dan kondisi sejumlah ruas jalan yang membuat distribusi ini menjadi pelan karena memang dilakukan secara bertahap," ujar Plt Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Berton Panjaitan.

TNI Angkatan Laut turut mengerahkan 217 personel Marinir dari Pasmar 2 Surabaya menggunakan KRI dr. Soeharso (990) yang membawa 3 ton bantuan sosial serta alat berat seperti dozer dan ekskavator ke Pelabuhan Reo.

"217 personel Marinir dari Pasmar 2 Surabaya kami kerahkan dalam Satgas Gulbencal," kata Panglima Korps Marinir Letjen TNI (Mar) Endi Supardi.

Selain mengirimkan personel Zeni dan tim medis, armada kapal perang bantuan rumah sakit tersebut diisi dengan kebutuhan pokok, obat-obatan, serta perlengkapan pengungsian.

"Bersamaan dengan pengerahan pasukan, Korps Marinir juga membawa sekitar 3 ton bantuan sosial," ucap Endi Supardi.

Mabes Korps Marinir memastikan seluruh prajurit yang dikirim bakal disebar untuk membantu pemulihan sarana dan prasarana umum serta pelayanan kesehatan bagi warga setempat.

"Prajurit Petarung Korps Marinir harus selalu hadir ketika rakyat membutuhkan. Kami hadir untuk membantu, melindungi dan meringankan beban saudara-saudara kita di Flores," ujar Endi Supardi.

Sementara itu, Kepolisian Negara Republik Indonesia mendistribusikan total 249,2 ton logistik, jaringan internet Starlink, serta 236 personel BKO untuk menyisir dan mendata kebutuhan dasar di wilayah pengungsian.

"Sejak awal bencana hingga memasuki hari keenam, Polri tetap konsisten hadir dan bergerak. Personel Brimob terus dikerahkan untuk membantu evakuasi dan pelayanan masyarakat, sementara dukungan logistik terus didorong ke wilayah terdampak. Kami memastikan penanganan terus berjalan sesuai kebutuhan di lapangan," ujar Karopenmas Divhumas Polri Brigjen Pol. Trunoyudo Wisnu Andiko.

Petugas kepolisian di lapangan difokuskan pada pemenuhan kebutuhan spesifik seperti pasokan gizi balita, sarana kesehatan, dan posko komunikasi.

"Kebutuhan di setiap lokasi berbeda. Karena itu personel terus melakukan pendataan dan asesmen agar bantuan yang diberikan sesuai dengan kebutuhan warga. Selama masa tanggap darurat, pelayanan dan dukungan akan terus kami lakukan," kata Trunoyudo Wisnu Andiko.

Kepolisian juga berkoordinasi secara intensif dengan lembaga teknis penanggulangan bencana agar proses distribusi sembako dan evakuasi di daerah terisolasi berjalan efektif.

"Penanganan bencana membutuhkan kerja bersama. Polri terus memperkuat sinergi dengan seluruh unsur terkait. Selama masyarakat masih membutuhkan bantuan, personel Polri akan terus berada di lapangan dan dukungan logistik akan terus kami dorong sesuai kebutuhan," tegas Trunoyudo Wisnu Andiko.

Penanganan di jalur darat juga disisir langsung oleh Deputi Bidang Pencegahan BNPB Abdul Muhari di Kecamatan Kuwus, Kabupaten Manggarai Barat, di mana 148 rumah warga dilaporkan rusak.

"Kami saat ini langsung ke lokasi dan melihat langsung kondisi masyarakat dari laporan camat tadi sudah ada bantuan pangan dan tentu saja ini akan terus kita tindak lanjuti," ujar Abdul Muhari.

Pemerintah menaruh perhatian khusus pada desa-desa terpencil yang terakses via jalur darat yang sulit dari pusat kota Labuan Bajo.

"Ini akan jadi atensi kita tentu saja karena jarak dari Labuan Bajo ke sini ditempuh sekitar 3,5 jam dan akses jalan cukup sulit sehingga tentu saja kita akan pastikan masyarakat terdampak di sini menerima bantuan pangan dan kebutuhan sandang, kebutuhan dasar permakanan dan non-permakanan kita pastikan terpenuhi di sini," tutur Abdul Muhari.

Kondisi trauma akibat gempa susulan membuat sebagian warga memilih bertenda di luar rumah meski bangunan tempat tinggal mereka tidak mengalami kerusakan struktur.

"Tantangan kita memang di titik-titik dimana masyarakat mengungsi secara mandiri dan ini tidak semuanya juga masyarakat yang mendirikan tenda di sekitar rumah, itu rumahnya rusak, tapi ada faktor-faktor psikologi trauma dan guncangan gempa susulan yang masih terus berjalan sampai sekarang," lanjut Abdul Muhari.

BNPB terus mengupayakan pasokan makanan rutin bagi para pengungsi mandiri, khususnya kelompok rentan seperti lansia dan anak-anak.

"Nah ini menjadi perhatian kita, tentu saja selain pendataan bangunan yang rusak terus kita lakukan tetapi masyarakat yang masih mengungsi karena kita lihat banyak anak-anak, banyak ibu-ibu, banyak lansia juga yang akan kita pastikan selama nanti masih ada pengungsi-pengungsi mandiri ini kita sekali lagi kita pastikan kebutuhan makanan dan permakanan terpenuhi," tutur Abdul Muhari.

Dukungan kemanusiaan turut digalang oleh Pimpinan Pusat Muhammadiyah yang menginstruksikan seluruh jajaran organisasi dan takmir masjid untuk mengumpulkan infak Salat Jumat pada 21 Agustus 2026 melalui LAZISMU dan Lembaga Resiliensi Bencana.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
sheila-amara-zahra
Author