Bursa Asia dan IHSG Menguat Dipicu Kebijakan Obligasi AS
Penguatan bursa saham kawasan Asia mendorong Indeks Harga Saham Gabungan di Bursa Efek Indonesia naik 53,12 poin atau 0,83 persen ke posisi 6.447,25 pada perdagangan Kamis pagi. Kebijakan kenaikan nominal pembelian kembali obligasi jangka panjang Amerika Serikat menjadi pematik utama sentimen positif tersebut.
Pergerakan positif juga terjadi pada kelompok 45 saham unggulan atau Indeks LQ45 yang terkerek 5,06 poin atau 0,81 persen menuju level 632,53. Aksi korporasi Departemen Keuangan AS yang menaikkan ukuran buyback obligasi menjadi sedikitnya 4 miliar dolar AS per operasi mulai 9 September 2026 berhasil meredakan tekanan di pasar obligasi global.
Analisis teknikal pasar keuangan memberikan gambaran mengenai peta pergerakan indeks untuk sesi perdagangan hari ini.
"Apabila IHSG gagal kembali menembus 6.490-6.500, pullback berpotensi berlanjut menuju 6.377-6.355, dengan support berikutnya di 6.294-6.286. Selama area tersebut mampu dipertahankan, peluang IHSG untuk kembali menguji resistance 6.490-6.500 masih terbuka. Sebaliknya, apabila IHSG berhasil menembus 6.500, penguatan berpotensi berlanjut menuju 6.723," ujar Head of Research Kiwoom Sekuritas Indonesia Liza Camelia Suryanata dalam kajiannya di Jakarta, Kamis.
Liza menambahkan bahwa kebijakan fiskal dari Amerika Serikat memberi dampak langsung terhadap stabilitas ekuitas.
"Kebijakan tersebut meredakan tekanan di pasar obligasi dan membantu menopang ekuitas," ujar Liza.
Selain sentimen obligasi, dinamika pasar global turut dipengaruhi oleh risalah rapat The Fed edisi Juli 2026. Mayoritas pejabat Bank Central AS mendukung penahanan suku bunga acuan, meski opsi kenaikan tetap terbuka jika laju inflasi yang berisiko meningkat tidak kunjung mereda. Di sisi lain, ketegangan geopolitik antara AS dan Iran mengenai jalur pelayaran Selat Hormuz masih menahan kepastian pasar energi.
Menanggapi situasi geopolitik yang memanas tersebut, proyeksi risiko perdagangan global menjadi perhatian utama para pelaku pasar.
"Kebuntuan tersebut membuat risiko gangguan terhadap jalur perdagangan energi global tetap tinggi," ujar Liza.
Dari dalam negeri, kepastian moneter ditunjukkan oleh Bank Indonesia yang mempertahankan BI-Rate di level 5,75 persen hasil Rapat Dewan Gubernur 18-19 Agustus 2026. BI memproyeksikan pertumbuhan ekonomi domestik tetap stabil di kisaran 4,9-5,7 persen pada 2026 dengan cadangan devisa kuat sebesar 145,3 miliar dolar AS. Namun, wacana pemangkasan kuota BBM bersubsidi pada 2027 sebesar 58,5 persen menjadi 20,09 juta kiloliter membayangi prospek daya beli.
Sektor konsumsi dan transportasi diprediksi akan merasakan dampak dari rencana perubahan kuota subsidi energi pemerintah tersebut.
"Pemangkasan kuota berpotensi memperketat akses masyarakat terhadap BBM bersubsidi dan meningkatkan peralihan konsumsi ke BBM nonsubsidi, yang dapat menambah biaya transportasi serta menekan daya beli, terutama kelompok masyarakat menengah bawah," ujar Liza.
Kondisi bursa global tercatat bervariasi dengan pergerakan indeks Wall Street yang kompak menguat pada Rabu (19/08), seperti S&P 500 dan Nasdaq yang sama-sama naik 0,20 persen. Penguatan tajam turut melanda bursa Asia pagi ini, dipimpin oleh indeks Kospi Korea Selatan yang melonjak 6,18 persen serta indeks Nikkei Jepang yang menguat 0,95 persen.