Teknologi Silent Number Verification Siap Gantikan SMS OTP untuk Cegah Penipuan
Lonjakan kasus penipuan daring memicu industri telekomunikasi untuk mengadopsi mekanisme otentikasi yang lebih aman. Salah satu solusi yang kini mulai diluncurkan sebagai pengganti SMS One-Time Password (OTP) adalah Silent Number Verification, seperti dilansir dari Detik iNET.
Metode SMS OTP mewajibkan pengguna menerima dan menginput kode secara manual. Berbeda dengan cara tersebut, Silent Number Verification memproses verifikasi nomor telepon secara otomatis di balik layar.
GSMA menilai mekanisme baru ini lebih praktis dan efektif menangkal ancaman rekayasa sosial. Berdasarkan laporan Mobile Economy Asia Pacific 2026, proporsi konsumen ASEAN yang mengaku pernah menjadi korban penipuan melambung dari 31% pada 2024 menjadi 45% pada 2025.
Head of Asia Pacific GSMA, Julian Gorman, mengungkapkan data Global Anti-Scam Alliance menunjukkan lebih dari 90% tindakan penipuan bersumber dari rekayasa sosial.
"Tak ada yang salah dengan jaringannya. Tak ada yang salah dengan mekanisme pembayarannya. Ini sebenarnya manipulasi terhadap ketakutan dan kecemasan orang melalui komunikasi," kata Julian dalam virtual media roundtable GSMA yang dihadiri detikINET, Kamis (20/8/2026).
Julian memaparkan bahwa SMS OTP menyimpan kelemahan mendasar dari aspek kenyamanan maupun proteksi. Pelaku rekayasa sosial kerap memanfaatkan celah tersebut untuk membujuk korban agar menyerahkan kode otentikasi yang diterima.
Proses verifikasi yang berjalan otomatis pada Silent Number Verification berhasil menekan risiko tersebut. Pengguna tidak perlu lagi menerima ataupun mengetikkan kode keamanan.
"Dari sisi pengalaman pengguna, Silent Number Verification memberikan pengalaman yang lebih baik. Namun dari sisi autentikasi, Silent Number Verification juga jauh lebih aman," jelas Julian.
Meski begitu, penggunaan SMS OTP tidak akan lenyap sepenuhnya dari ekosistem digital.
"Saya pikir SMS OTP akan tetap memiliki tempat untuk menyampaikan informasi. Namun untuk penggunaan tertentu, Silent Number Verification jelas menjadi semakin dominan," ujarnya.
Julian juga menambahkan bahwa sejumlah otoritas regulator di beberapa negara Asia Pasifik telah melarang pemakaian SMS OTP untuk transaksi berisiko tinggi, seperti aktivitas perbankan tertentu.
Teknologi verifikasi terselubung ini dikembangkan melalui inisiatif GSMA Open Gateway. Hingga kini, terdapat lebih dari 60 Application Programming Interface (API) yang dirancang untuk menyediakan sinyal jaringan demi mendeteksi potensi fraud.
GSMA menegaskan bahwa ancaman penipuan siber tidak bisa diselesaikan oleh operator seluler secara mandiri. Proteksi berbasis sistem memiliki keterbatasan saat berhadapan dengan manipulasi psikologis pengguna.
"Upaya teknologi dari operator telekomunikasi dapat membantu mencegah scammer atau hacker membobol jaringan, aplikasi, atau layanan menggunakan perangkat teknologi. Namun, teknologi tidak bisa berbuat banyak jika korban terus membagikan informasi pribadi seperti kredensial akun atau OTP," kata tim GSMA.
Kondisi ini kian diperparah oleh kebocoran data pelanggan yang terus berulang dari institusi eksternal, seperti lembaga perbankan, maskapai penerbangan, dan perusahaan asuransi.
Oleh karena itu, penanganan kejahatan siber membutuhkan komitmen terpadu dari seluruh pemangku kepentingan.
"Edukasi publik anti-scam secara bersama-sama, serta upaya menjaga privasi dan perlindungan data oleh para pemangku kepentingan utama seperti pemerintah, regulator, kepolisian, institusi perbankan, bersama operator telekomunikasi, diperlukan untuk mengatasi maraknya scam," jelas tim GSMA.
Untuk mendukung langkah tersebut, GSMA mengoperasikan Cross-Sector Anti-Scam Task Force. Di wilayah Asia Tenggara, uji coba pertukaran sinyal digital antaroperator terus dilakukan untuk mendeteksi indikasi penipuan lebih awal.